Eksplorasi tanpa sekat kembali menjadi urat nadi karya single terbaru veteran goth/industrial eksperimental asal Jakarta Selatan ini. Selain itu, semburan kalimat yang membangun departemen lirik juga dibuat lebih ‘nampar’, seperti yang sudah bisa didengarkan lewat single terkini Getah, yang berlabel “Aigre-doux”.
Kepada MUSIKERAS, mereka – Peter ‘Mekel’ St. John (gitar), Marcel ‘Acel’ Wetik (bass), Alfa Putra (gitar), Phil Vezard (vokal) dan Leo Agustri (dram) – menyebut lirik “Aigre-doux” bersifat lebih lantang dan tanpa basa-basi. Getah ingin mengajak pendengar agar lebih berani membuka pikiran seluas-luasnya dan keluar dari segala jenis dogma serta keyakinan-keyakinan picik yang menghancurkan nilai kemanusiaan itu sendiri.
“Hal ini terlihat langsung dengan pemilihan judul lagu yang berbahasa asing (Perancis),” cetus Acel mewakili Getah, menekankan maksudnya.
Masih tentang lirik itu sendiri, awalnya sebenarnya keseluruhan lagu juga menggunakan bahasa Perancis. Namun karena tercipta sudah cukup lama, catatan liriknya pun sempat hilang. “Maka melalui proses penciptaan ulang, kali ini menggunakan bahasa Inggris, yang berani mengajak untuk bereksplorasi ke hal-hal yang baru dan segar.”
.
.
Eksperimentasi juga mengalir selaras dengan racikan musik. “Aigre-doux” dibuat sarat sound ‘kasar’ dari setiap instrumen. Menurut pihak band, komposisi lagu secara luas bisa dibilang lebih simpel, namun jika diamati lebih lekat, sarat detail yang saling berkontribusi membentuk ‘juxtaposition’, semacam mempertemukan sesuatu yang bersifat chaos dengan melodius menjadi satu. Begitu juga dengan vokal yang lebih ‘raw’ membentuk sebuah ekspresi yang singkat, berani dan padat tanpa ada keragu-raguan.
“Dari segi gitar, gue banyak masukin elemen black metal. Gue lagi terinspirasi band-band second wave black metal dan post black metal. Untuk pemilihan sound, gue lebih memilih untuk lebih organik dan menghindari kesan steril di lagu ini,” urai Alfa menambahkan.
Usai perilisan “Aigre-doux” yang sudah bisa didengarkan di berbagai platform digital streaming sejak awal Oktober 2021 lalu, Getah masih merencanankan untuk melepas beberapa single, sebelum menyatukan dan mengemasnya dalam sebuah album. Termasuk dua single sebelumnya, “Coma” and “Breaking Point”.
“Rencana untuk membuat EP atau album tetap sebuah prioritas, dengan rencana perilisan satu atau dua single berikutnya. Maka di kuartal pertama tahun depan semoga sudah bisa merilis EP atau album penuh, yang berisi paling tidak tiga sampai empat materi baru, di luar single-single yang sudah pernah diluncurkan.”
Ketika Getah mulai menggeliat pada 1995 silam, awalnya diperkuat oleh pecahan band underground, Bottom Up dan Rotor, yakni Marcel Marcive, Jodie Gondokusumo (vokal), Reeve (dram) dan Boy Faisal (gitar). Formasi ini lantas sempat merilis album debut self-titled (Waner Music). Pada 1996, Reeve mengundurkan diri karena harus kembali ke Amerika Serikat tak lama setelah album rampung direkam. Posisinya lantas digantikan oleh Tyo Nugros, yang belakangan dikenal sebagai dramer Dewa. Perjalanan karir Getah selanjutnya kerap diwarnai pergantian personel. Bahkan pada 2008, sempat pula diperkuat oleh Richard Mutter, dramer PAS Band.
Sejauh ini, Getah telah menghasilkan beberapa karya rekaman. Setelah album self-titled, juga sempat single “Missing/Green Wine” (2001), album “Release is Peace” (2008) serta single “For The Love of God” (2009) dan “Scared of You” (2012). Selain itu, Getah juga pernah terlibat di proyek album “OST Gerbang 13” (2005) dan “OST In The Name of Love” (2008). Pada 24 September 2018 lalu, bersama Noxa dan Inlander, Getah tampil di Everloud Fest, di Tokyo Jepang. (mdy/MK01)