YAFED Tumpahkan Kekesalan Politik di “Spirit Separatis”

“… Melalui track tersebut kami juga menguatkan bahwa musik yang kami usung mendukung kebebasan berekspresi yang selama ini diganjal oleh aturan-aturan subyektif kepemerintahan…”

Kalimat di atas ditegaskan unit metalcore asal Magelang, Jawa Tengah ini lewat album debutnya, “Spirit Separatis” yang telah diumbar ke khalayak luas pada Oktober 2021 ini. Sebuah karya rekaman yang sarat protes keras Yafed terhadap omong kosong politisi dan orang-orang yang sok negarawan. Gerutu lirik lagu-lagunya merangkum ide kemuakan Yafed terhadap otoritas politisi.

Salah satu lagunya, “Maksimum Hipokrasi” yang telah dibuatkan video klip disajikan berdasarkan hasil pemikiran penulis yang melihat, mendengar dan membaca bahwa hari ini feminisme ada di mana-mana dan akan dengan mudah menemukan acara bertema feminisme.

“Spirit Separatis” sendiri digarap formasi Wisnu Fahmi Aldhi (vokal), Rian Jovi Pamungkas (gitar), Anugerah Widi Putranto a.k.a. Puput (gitar), Dwi Teguh Santoso a.k.a. Gepeng (gitar), Teddy Kusnanto (bass) dan Imam Ari Sarwono (dram) selama kurun waktu dua tahun di studio rekaman rumahan bernama DZ Recording.

“Album ini dikerjakan selama masa pandemi. Walau dengan keterbatasan waktu karena kesibukan masing-masing dan juga sempat beberapa kali ganti personel, akhirnya kami menyiasatinya dengan menggabungkan ide melalui kanal virtual,” tutur Yafed kepada MUSIKERAS. 

.

.

Ada banyak referensi yang mereka tuangkan di “Spirit Separatis”, jika meninjau konsep musik yang diterapkan. Yafed antara lain menyebut pengaruh dari band-band metalcore dan hardcore dunia seperti Killswitch Engage, Fugazi, Hatebreed, As I Lay Dying hingga Sylosis. Dan di single “Maksimum Hipokrasi”, mereka menyebutnya sebagai pijakan baru yang bakal mempertajam karakter musik Yafed.

“Karena di track ini kita bisa menemukan garis musik dari band ini untuk album-album lainnya ke depannya,” seru Yafed menegaskan.

Sedikit menengok ke belakang, nama band yang terbentuk pada 5 Desember 2018 lalu ini adalah terinspirasi Yafet, salah satu nama dari putera Nabi Nuh. Sebagai penggeber metal, mereka ingin sesuatu yang berbeda. Sebagai paradox bahwa kebanyakan band metal menggunakan nama yang mengerikan, gelap atau kerap berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut setan. “Dengan nama Yafed, kami bisa bergerak ke arah musik metal yang positif, penuh kritik, namun distorsi tetap kuat!”

Dengarkan album “Spirit Separatis” di berbagai kanal digital seperti Spotify, iTunes, Apple Music, Amazon Music, Deezer hingga Tidal. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
der jager
Read More

DER JAGER: Lestarikan Heavy Metal

Sembilan komposisi lagu energik yang raw, agresif dan oldschool diberondongkan Der Jager lewat sebuah album baru bertajuk “..In Which Evil Dwells”.
darraq
Read More

DARRAQ: Menabrak Batas Konvensional

Di album mini (EP) debutnya, “Of Human Nature”, Darraq menerapkan banyak warna. Ada elemen black metal, doom metal, doom stoner, groove hingga speed metal.
revelish
Read More

REVELISH: Eksplorasi Awal di Metal Modern

Lagu rekaman debut “Falsehood Progression” disuarakan Revelish sebagai penyaluran kemarahan kolektif dalam geberan komposisi metal yang kekinian.
killer of gods
Read More

KILLER OF GODS: Tusukan Kebrutalan Demagogi

Album brutal death metal yang mengangkat kritik atas demagogi dan ketimpangan sosial disemburkan Killer Of Gods lewat sembilan amunisi lagu beringas.