Lewat Album “Catharsis”, Sambut Era Modern DEADSQUAD

“Gue pengen album yang lebih tight dan lebih ekstrim!”

Pernyataan di atas belum lama dilontarkan Stevi Item kepada MUSIKERAS. Tepatnya saat gitaris sekaligus motor penggerak utama unit gahar Deadsquad tersebut baru saja meluncurkan single “Paranoid Skizoid”, Juli 2021 lalu. Walau dalam perjalanannya, mendadak terjadi gejolak di internal ‘Pasukan Mati’ yang memicu pemecatan dan perombakan formasi. Posisi vokalis Daniel Mardhany serta bassis Welby Cahyadi keluar dari sistem dan kini digantikan ‘darah segar’ Shadu Rasjidi (ILP) serta Agustinus Widi, vokalis yang dicomot dari unit death/grind metal Yogyakarta, Genocide.  

Formasi baru inilah – bersama Stevi, gitaris Karisk dan dramer muda fenomenal Roy Ibrahim – yang lantas melanjutkan eksekusi rekaman album baru Deadsquad, sesuai niat Stevi tadi. Dan sembilan lagu di album baru yang bakal bertajuk “Catharsis” tersebut telah diperdengarkan pertama kali semalam (6/11) di Lemmon.id, Jakarta Selatan, dalam sebuah hajatan berlabel “Listening Party” tertutup yang sangat intimate. Hanya dihadiri undangan terbatas yang terdiri atas beberapa musisi serta media. Termasuk MUSIKERAS. 

Seperti apa konsep musik terbaru Deadsquad? Bagi yang sudah mendengarkan single “Curse of the Black Plague”, ya kurang lebih tidak jauh-jauh dari keganasan itu. Atau… bayangkan kompleksitas album “Horror Vision” (2009) dieksekusi dengan tata kelola produksi yang jauh lebih ‘nonjok’, mengedepankan besutan instrumentasi yang lebih rapat, lebih agresif dan lebih modern. 

.

.

Kini, lagu-lagunya yang antara lain berjudul “Down with the Faceless”, “21 Vultures”, “Augmented Devastation”, “Slave to the God of Agony” dan “The Black Triangle” diraungkan dengan geberan vokal Widi yang akrobatik. Tidak sekadar mengonsumsi growl dan scream standar, namun didesak ke level yang lebih ekstrim dan brutal. Di antaranya juga melibatkan kerumitan teknik pig-squeal yang lazim digeramkan di sub-genre grindcore, deathcore serta slamming death metal. Sementara di dram, kehadiran Roy Ibrahim dengan menuver luwes saat menggedor kuping lewat derapan blast-beat yang rapat, ‘memaksa’ personel Deadsquad lainnya untuk semakin disiplin menggasak tempo headbang. Deadsquad hari ini adalah racikan technical/slamming death metal dan deathcore yang diperlakukan lebih groovy serta ‘ramah’ ayunan headbang

Satu lagi yang mengundang decak kagum, adalah olahan produksi tata suara yang semakin mengerikan. Kali ini ada campur tangan Christian Donaldson, gitaris unit technical death metal asal Kanada, Cryptopsy yang memoles tahapan mixing dan mastering album “Catharsis” keseluruhan. Seperti apa hasilnya? Kalian sudah bisa menyimpulkannya sendiri saat mendengarkan “Curse of the Black Plague”. Sangat bening, rinci dan memantik eargasm.

Terlepas dari segala lontaran pro dan kontra seputar drama di tubuh Deadsquad belakangan ini, harus diakui tekad band ini untuk terus bereksplorasi dan meninggikan standar kualitasnya patut diacungi jempol. Dan memang, dinamika di skena musik keras akan jauh lebih menggairahkan jika terus berevolusi seliar musiknya. Seperti pengumpamaan menarik yang dituturkan pengamat skena cadas Tanah Air, Farid Amriansyah a.k.a. Rian Pelor kepada MUSIKERAS. Bahwa, jika dulu Metallica tidak menendang Dave Mustaine, kita tak akan pernah mendengarkan Megadeth. Begitu pun jika tak ada kemelut perombakan di Deadsquad, maka mungkin kita juga tidak akan pernah mengenal BongaBonga dan Darksovls. (mudya/MK01)

Kredit foto: Adi Wirantoko/@warprocks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *