SENOPIT Semburkan “Negative Legacy” Berhawa Grindcore/Powerviolence

Akibat tersandung pandemi, gebrakan album kedua karya unit grindcore berbahaya asal Tangerang, Banten ini terpaksa tertunda setahun. Bahkan di tengah jalan saat menjalani prosesnya, Senopit juga sempat kehilangan bassis dan dramernya. Tapi beruntung, setelah situasi kondusif mereka akhirnya bisa merampungkan “Negative Legacy” – judul album kedua tersebut – pada Agustus 2021 lalu.

Ada tiga belas mata gerinda di “Negative Legacy” yang berpotensi kuat mengiris kuping penikmat grindcore Nusantara. Bahkan menurut gitarisnya, Ody Fast, materi di album kedua ini lebih mencekam dan lebih berkarakter.

“Grindcore yang kami sajikan agak berbeda, dengan menggabungkan beberapa unsur dari vokalnya sendiri. Kami lebih condong ke (gaya) Barney Greenway (vokalis Napalm Death) dan irama musik kami balut dengan sentuhan Swedia yang dikemas dengan permainan cepat, dan dengan nada-nada rendah. Musik cepat dipadukan dengan diksi-diksi tidak biasa, tapi masih bisa dicerna oleh pendengar,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, merinci konsep musiknya.

Untuk mendapatkan formula tersebut, Senopit melebur berbagai pengaruh dari band-band grindcore mancanegara seperti Magrudergrind, Wormrot, Nails, Nasum dan Misery Index. Juga ada suntikan ide-ide kebrutalan dari band-band powerviolence macam Spazz, Infest Charles Bronson serta dari para pelaku hardcore kayak Converge, Baptists, Every Time I Die, Norma Jean dan masih banyak lagi lainnya.

.

.

Senopit yang lahir pada pertengahan Juli 2013 silam memulai proses penyusunan materi “Negative Legacy” pada akhir 2020 lalu. Namun karena saat itu angka penyebaran virus Covid-19 masih tinggi, mereka pun memutuskan untuk menunda sejenak penggarapannya. Setelah sebulan tidak menggarap materi dan hanya berkomunikasi via media sosial, Senopit akhirnya memutuskan untuk bertemu kembali dan menyelesaikan materi yang sebelumnya tertunda. Selama periode Februari hingga Maret 2021, mereka berhasil menyelesaikan dan mematangkan materi tersebut sebelum memulai eksekusi rekamannya. Fase rekaman yang dilakukan di ERK Musik Studio yang bertempat di Perumnas Kota Tangerang juga terbilang cepat. Hanya kurang lebih sebulan, dan proses itu sudah termasuk mixing dan mastering

“Karena kami sudah mematangkan dari segi materi sebelum kami masuk studio rekaman. Kami juga sudah berkoordinasi dengan operator, Bowo Beatlock jauh-jauh hari. Jarak studio rekaman yang tidak jauh dari domisili masing-masing personel pun membantu kami untuk menyelesaikan rekaman album kedua ini.”

Sebelum merilis “Negative Legacy”, Senopit telah menancapkan eksistensinya di skena musik ‘bawah tanah’ lewat album debut “Future Destruction”, yang diletupkan pada 2019 lalu. Karya rekaman awal tersebut dirilis dalam format cakram padat (CD). Tapi khusus “Negative Legacy”, Senopit hanya merilisnya dalam format digital streaming dan kaset pita. Salah satu alasan memilih kaset karena banyak permintaan dari rekan-rekan mereka di skena.

“Kebetulan kaset pita sedang naik kembali di era milenium ini, dan juga di album ‘Negative Legacy’ ini kami ingin mendapatkan sensasi yang berbeda dibanding album sebelumnya.”

Selain “Future Destruction” dan “Negative Legacy”, keberingasan lagu-lagu Senopit lainnya juga bisa ditemukan di beberapa album kompilasi, di antaranya di “Grindonesia #2” (2016), “Grindonesia #3” (2017), “Tangerang Grindfest” (2017) serta “Madness Distortion” (2017). (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *