GODLESS SYMPTOMS Rangkum Depresi Hidup di “Satir Getir”

“Semua lagu sangat ‘menantang’ bagi kami!”

Cetus unit cadas asal Bandung, Jawa Barat ini kepada MUSIKERAS, mengungkapkan proses penggarapan album barunya, “Satir Getir” yang baru saja dirilis via label Disaster Records. Yang membuat album itu istimewa sekaligus menantang, karena Godless Symptoms kali ini tak ingin membuat album yang tipikal, seperti karya-karya mereka sebelumnya. 

“Karena sebelum kami ‘membulatkan tekad’ merilis album ini, kami sudah ‘membuang’ 20 lagu yang kami fikir sudah pernah kami buat sebelumnya. Maka dari itu, ada tantangan-tantangan baru di lagu-lagu yang kami pilih untuk album ini. (Tapi) Yang pasti, benang merahnya tetap crossover thrash hardcore,” seru mereka lagi, menegaskan. 

Album kelima Godless Symptoms ini sendiri dibuat setelah single “Rengkuh Semadi” dirilis pada Februari 2020 lalu. Prosesnya sedikit memakan waktu lama, karena situasi pandemi yang memaksa Yudi Setiawan a.k.a. Baruz (vokal), Gusti Sukma Pratama a.k.a. Goestie (dram), Diki Fajar Sidiq (gitar), Febby Rubi Febian a.k.a. Mbie (bass) dan Ryan Pratama (gitar) untuk bertahan, masing-masing menyelamatkan kehidupan dan roda perekonomian yang berubah 360 derajat. 

Mereka memaksimalkan komunikasi via aplikasi WhatsApp untuk berkomunikasi dan saling melempar ide saat menggodok konsep “Satir Getir”. Mbie, Dicky dan gitaris baru, Ryan kebagian mengolah dan ‘menggambar’ secara digital versi demo lagu-lagunya, yang lantas diteruskan ke Baruz dan Goestie. 

.

.

Dalam rentang waktu empat bulan setelah semua materi album rampung dikerjakan oleh semua personel, akhirnya pada September 2020 Godless Symptoms pun mengeksekusi rekamannya, yang dilakukan di Red Studio, Bandung dalam periode Oktober 2020 hingga Mei 2021. Untuk urusan teknis rekaman mereka dibantu oleh Ade Tonefreak, sementara pemolesan mixing dan mastering masing-masing diserahkan kepada Ramdan Agustiana (bassis Burgerkill) di Sandfish Studio serta Indra Severus (The Sigit, Pure Saturday) di Never Labs Studio.

Sementara dari terapan musiknya, ini kali pertama kalinya Godless Symptoms menjajal kemampuan Ryan Pratama yang masuk menggantikan Tommy Budiawan yang mengundurkan diri pada 2018 lalu. Elemen-elemen yang diterapkan di musiknya tidak melibatkan perubahan yang signifikan, kecuali pada penalaan (tuning) gitar yang kini menjadi lebih rendah dibanding album sebelumnya, “The Deaf and The Wasted” (2017).

Tentang tema lirik di album kali ini, band bentukan September 2003 silam ini masih mengangkat seputar keresahan yang mereka rasakan atas segala kebijakan pemerintah yang tak pernah berpihak. Merangkum segala keluh kesah mereka, yang direpresentasikan lewat “Satir Getir”, dengan arti sindiran atau lagu depresi.

“Tidak bermaksud mengajak orang untuk mengikuti ‘depresi’, tapi lebih ke introspeksi untuk tetap berjuang tanpa mengandalkan janji-janji kosong.” 

Dalam perilisan “Satir Getir”, Godless Symptoms merilis dua single sekaligus untuk mendukung promonya, yaitu “Lancang Menerang” dan “Meratus Kalut”. Untuk mendapatkan “Satir Getir” yang dirilis dalam format CD, bisa mengakses info lengkapnya di akun media sosial resmi Godless Symptoms serta di beberapa toko daring, termasuk Tokopedia. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *