Menyambung kiprah awalnya, yang telah diperkenalkan lewat single “Momen Depresi” (2020) dan “Dunia Tak Terarah” (2021), kini solis wanita berkadar cadas asal Jakarta ini mencoba menjamah kekelaman metal yang bernuansa gothic. Konsep itu dituangkan Mutiara ‘Tara’ Sivach lewat karya rekaman terbarunya yang bertajuk “Matilah Rasa”.
Lewat single yang dilepas pada 26 November 2021 lalu tersebut, Tara ingin menjadikannya kurang lebih sebagai simbol pergerakan bangkitnya era gothic metal di Indonesia. Ia lalu memberanikan diri untuk tampil sebagai solois yang menorehkan keunikan tersendiri, lantaran umumnya sub-genre ini didominasi band.
Proses penggarapan single “Matilah Rasa” mulai dilecut oleh Tara sejak Juli 2021. Ia mengawalinya dengan mengirimkan rekaman demo vokal beserta liriknya kepada sang produser, Yutsi Surya Pratama melalui aplikasi WhatsApp. Yutsi sendiri juga seorang musisi metal, tepatnya gitaris Dunia, unit progressive metal yang pernah terlibat di album kompilasi “Musikeras Cracked It!” rilisan MUSIKERAS.
“Kebetulan dia (Yutsi) tinggal di Yogyakarta. Sehingga, kami melakukan komunikasi jarak jauh dan dia harus mengerjakan komposisi musik saya di studio pribadinya, yaitu Aion Studio Yogyakarta. Kemudian, untuk rekaman vokal dilakukan di studio Phonetics di Cinere, Depok. Secara keseluruhan untuk proses hingga mixing dan mastering membutuhkan waktu sekitar tiga bulan,” beber Tara kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.
.
.
Konsep gothic metal yang diterapkan Tara di “Matilah Rasa” terbilang lumayan kaya akan pengaruh dari elemen musik keras lain. Ada campuran dari subgenre symphonic metal serta bahkan metalcore. Menurut Tara, ia dan Yutsi banyak mengambil benang merahnya dari situ. “Untuk referensinya saya mengambil beberapa contoh lagu dari Epica, Nightwish dan Blackbriar. Elemen orkestra juga penting dimasukkan ke dalam single ini untuk membangun atmosfer kelam.”
Yutsi yang dipercaya mengeksekusi seluruh instrumentasi, mulai dari isian gitar, bass, dram, perancangan orkestra serta peracikan aransemen di lagu “Matilah Rasa” mengakui, sebenarnya awalnya ia tidak terlalu familiar dengan konsep yang diinginkan Tara. Namun berdasarkan referensi yang disukai Tara, yang tak jauh-jauh dari band-band symphonic metal dengan vokalis wanita macam Epica atau Nightwish, akhirnya Yutsi mampu mengemas “Matilah Rasa” dengan apik.
“Dari situ akhirnya gue dapetlah aransemen dengan pengaruh Killswitch Engage campur Epica. Konsepnya metal simfonik atau gothic yang nuansanya kelam, sesuai liriknya,” ulas Yutsi, terus-terang.
Rencana Tara berikutnya setelah “Matilah Rasa” adalah melepas beberapa karya single lagi sebelum menetapkan fokus melahirkan album mini (EP). “Karena untuk saat ini saya masih fokus dalam pembuatan dan penyempurnaan lirik serta melodi untuk lagu-lagu saya,” ujarnya beralasan.
Single “Matilah Rasa” bisa dinikmati lewat berbagai platform layanan dengar musik digital seperti Spotify, iTunes, Apple Music dan Joox. (mdy/MK01)