SLUDGE FACTORY Lestarikan Nilai-Nilai Grunge di “Torturecracy”

Grunge, pada era 90an silam, berhasil mematahkan dominasi hair metal yang saat itu menjadi primadona pasar rock dunia. Grunge menerobos lewat kesederhanaan, mengedepankan kejujuran dalam penampilan yang mencerminkan jati diri musisinya, baik dari segi fesyen, musikalitas hingga lirik. Sub-genre inilah yang lantas disepakati menjadi ‘agama’ utama kuartet rock asal Yogyakarta, Sludge Factory dalam mengekspresikan kreativitas musikalitasnya.

Setelah berhasil merilis album mini (EP) bertajuk “Fear” pada 13 Mei 2020 lalu, yang kemudian disusul dengan versi rilisan ulang (reissue) oleh Frogs Records pada awal 2021, kini band yang lahir dari pertemanan di sebuah toko rilisan musik pada 28 Agustus 2019 ini pun kembali menetaskan karya rekaman. Sebuah single baru berjudul “Torturecracy” yang sarat akan tebasan grunge telah dilepas sejak awal Desember 2021.

“Memainkan grunge adalah sebuah panggilan jiwa. Selain mengambil aspek musikal, kami juga menerapkan nilai-nilai yang ‘ditumbuhkan oleh grunge’ pada masa jayanya. Barangkali ini yang membuat kami berbeda di antara musisi-musisi lain yang memainkan musik serupa,” seru Sludge Factory kepada MUSIKERAS, mengungkapkan karakteristik musikalitasnya.

Berbeda dibanding tiga lagu yang mereka suguhkan di EP “Fear”, single “Torturecracy” lebih mengedepankan tempo pelan dibalut riff-riff gitar yang padat nan gelap. Di sektor vokal, Sludge Factory juga bereksperimen memadukan harmoni vokal yang solid antara Berlian Nusantara a.k.a. Berly (bass/vokal) dan Adam Katsutrio (gitar/vokal), seperti yang pernah dipraktekkan oleh Layne Staley dan Jerry Cantrell dari legenda grunge dunia, Alice in Chains pada medio 1990an silam.

.

.

Band itu, memang menjadi panutan utama Sludge Factory yang juga diperkuat oleh Shiddiq Muhammad Isa a.k.a. Sid Isa (dram/vokal) dan Jum Satriani (gitar) ini. Esensi komposisi musik dari Alice in Chains sedikit banyak diterapkan di “Torturecracy”. 

“Dari riff gitar, gebukan dram, harmoni vokal, hingga pemilihan modus phrygian pada verse dan modus aeolian pada reff, beberapa aspek yang umum ditemukan pada karya ciptaan Jerry Cantrell, gitaris sekaligus pencipta lagu utama Alice in Chains.” 

Tentang liriknya sendiri, Sid Isa yang menulisnya berangkat dari perspektif fenomena-fenomena post-apocalyptic sebagai respons dari lingkungan sekitarnya. Namun, seperti yang sudah terjadi sebelumnya, Sludge Factory tidak membatasi pemaknaan yang dilahirkan khalayak luas pasca karya-karya tersebut diperdengarkan.

Masih di bawah naungan Frogs Records, “Torturecracy” diproyeksikan menjadi menu pembuka menuju perilisan album penuh Sludge Factory yang bakal diberi titel “Hypocrite Nation”. Sejauh ini, sudah ada tujuh trek yang direkam dari 10 lagu yang direncanakan. “Setelah tiga lagu susulan selesai, album siap dirilis. Mungkin pertengahan tahun 2022,” cetus pihak band menjanjikan.

Kini “Torturecracy” sudah bisa dinikmati melalui berbagai platform penyedia layanan dengar musik digital seperti Spotify, Apple Music, Joox, Amazon Music hingga Deezer. (mdy/MK01)

Jika Anda - para pembaca Musikeras - menyukai tulisan-tulisan kami dan ingin membantu / peduli akan kelangsungan karir media kami, dengan senang hati kami menerima donasi dari Anda secara sukarela. Bantuan dana bisa dikirimkan (transfer) via aplikasi OVO Musikeras 083822872349. Berapa pun bantuan Anda sangat berharga buat kami. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *