Usai penayangan perdana di bioskop Sarinah Moviemax, Malang pada Senin, 15 November 2021 lalu, akhirnya film dokumenter “Sylvia Saartje, Lady Rocker Pertama Indonesia” juga dipertontonkan di depan insan pers dan para penikmat musik rock di Jakarta. Tepatnya digelar semalam, di Creative Hall, M Bloc Market dengan menghadirkan Sylvia Saartje sendiri, serta sutradara Subiyanto. Juga ada diskusi ringan selepas acara nobar (nonton bareng), yang turut menghadirkan pengamat musik Denny MR serta Wendi Putranto mewakili pihak M Bloc sebagai pemandu obrolan.
Siapa Sylvia Saartje?
Tentunya, tidak sedikit penikmat rock – khususnya di kalangan generasi milenial – yang lumayan asing dengan nama itu. Wajar. Karena harus diakui, sosok Sylvia sendiri memang tidak sementereng kiprah para penyanyi atau solis rock wanita lainnya macam Nicky Astria, Mel Shandy, Anggun (di era akhir ‘80an) atau wakil generasi hari ini, Tantri Syalindri Ichlasari (Kotak).
Tapi julukan di judul film tersebut, ‘Lady Rocker Pertama Indonesia’ adalah petunjuk kuat mengapa sosok Sylvia Saartje ini lantas menjadi sangat penting untuk diabadikan. Terlebih, ia memang bukan sekadar biduan panggung yang meraup penggemar bermodalkan lagu-lagu milik penyanyi luar, sebutlah seperti “Cry Baby” (Janis Joplin) atau “The Great Gig in the Sky” (Pink Floyd) yang menjadi sebagian favoritnya. Jippi – demikian panggilan akrabnya – juga punya banyak rilisan album rekaman. Dan di film ini, ada beberapa cuplikan dimana Jippi diperlihatkan menyanyikan beberapa lagu orisinalnya tersebut, di antaranya kayak “Busyet”, “Kepada Siapa Ku Harus Mengadu” dan “Jakarta Blue Jeansku”.
Jippi dilahirkan di Arnhem, Belanda pada 15 September 1956 silam, dari pasangan Nedju Tuankotta, mantan tentara kerajaan Belanda KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) berdarah Ambon yang hijrah ke Belanda pada 1949, dengan seorang wanita asal Malang, Jawa Timur bernama Christina Tuyem. Darah musik Jippi bisa dikatakan mengalir dari kedua orangtuanya, yang memberikan banyak referensi musik. Namun singkat cerita, rock lantas menjadi pilihan utamanya.
.
.
“Awalnya aku anak pingitan, jadi berontak karena pengen berekspresi. Makanya senengnya denger lagu keras. Musikku adalah sikap yang sudah aku pilih,” ujar Jippi, saat sesi obrolan.
Tentang julukan ‘lady rocker pertama’ itu sendiri tercetus saat Jippi tampil di konser “Aktuil Vacancy Rock” yang dihelat di Gedung Olah Raga (GOR) Pulosari, Malang pada 27 Desember 1976 silam. Aktuil, majalah musik asal Bandung era itu menjuluki Jippi begitu, lantaran ia satu-satunya penyanyi perempuan yang beraksi di ‘pesta sarang penyamun’ tersebut. Lalu selanjutnya, sejarah mencatat berbagai media pun mengekspresikan sosok Jippi dengan berbagai sebutan. Mulai dari ‘kuda binal’ hingga ‘betina rock’.
Ok, ihwal lahirnya film dokumenter “Sylvia Saartje, Lady Rocker Pertama Indonesia” tercetus dari sebuah proposal, yang terjaring dari 960 pengajuan ke Ditjen Kebudayaan. Lalu, dari 132 proposal yang lolos seleksi pendanaan, proyek film inilah salah satunya. Karya visual yang digarap hanya dalam masa 1,5 bulan tersebut mendapat dukungan dana dari program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) 2021 bidang dokumentasi karya dari Dirjenbud Kemdikbudristek RI dan Yayasan Terakota. Konsep film yang diajukan dianggap sebagai sarana nyata pemajuan kebudayaan nasional di bidang sejarah pengetahuan musik rock, dimana Jippi merupakan produk hibriditas dengan latar belakang kosmopolitan yang terbukti mampu memajukan musik rock nasional. Di Indonesia, dan di Malang khususnya, Sylvia Saartje dianggap salah satu aset besar kebudayaan.
Sutradara Subiyanto mengolah “Sylvia Saartje, Lady Rocker Pertama Indonesia” dari hasil riset data paduan koleksi pribadi Jippi, Museum Musik Indonesia hingga digitalisasi film yang pernah dibintangi oleh Jippi. Juga ada visualisasi rekonstruksi aksi panggung Jippi yang proses pengambilan gambar dieksekusi di Gedung Kesenian Gajayana, salah satu saksi kejayaan musik rock nasional di Malang, pada 6 Oktober 2021 lalu.
Selain oleh Jippi sendiri, film itu juga menampilkan deretan narasumber, di antaranya adik kandung Jippi, Akim Yesaya Yurian, promotor rock legendaris Log Zhelebour, lalu jurnalis musik kawakan mendiang Bens Leo, gitaris Godbless asal Malang, Ian Antono, Tantri (Kotak) hingga sejarawan Yovi Arditiviyanto dan FX Domini BB Hera.
Sepanjang karirnya, Jippi yang kini menetap di Malang telah menelurkan 10 album, yakni “Biarawati” (1978), “Kuil Tua” (1979), “Mentari Kelabu” (1980), “Puas” (1981), “Ooh!” (1983), “Jakarta Blue Jeansku” (1984), “Gerhana” (1987), “Take Me with You” (1994), “Berdayung Sampan” (1995) dan “Skali Lagi!” (1996). Selain itu, Jippi sempat pula membintangi tujuh film layar lebar serta sebuah sinetron dan FTV. (mdy/MK01)
Trimakasih banyak dear Mudya utk tulisan yg bernas ini..kira nya dgn ada nya film dokumenter ini setidak nya dapat menjadi informasi dan inspirasi bagi generasi muda..#semangattanpabatas
Amiinnn. Sama2 mbak Jippy. Sukses selalu…. 🙂