Mengenyam heavy rock berpotensi metal yang berkiblat pada sekte Sabbathian dengan sentuhan ragam hibrida, kuintet asal Bandung ini menjadikannya bahan bakar untuk melesatkan karya rekaman debut bertajuk “Godus”. Age of Spin membangun single tersebut dari kumpulan riff berat yang menggetarkan kuping.
Band ini mengklaim, pengembaraan musikal mereka berangkat dari kegemaran terhadap musik Black Sabbath, lalu setelah meraba-raba, akhirnya mereka menemukan formula yang pas sebagai identitas Age of Spin.
“Proses pembuatan ‘Godus’ dimulai dengan menemukan riff-riff gitar yang akan Anda temui pada awal lagu, kemudian disusul dengan beberapa perubahan kontruksi dari lagu itu sendiri hingga akhirnya menemukan kata yang tepat untuk merampungkannya,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, merinci.
Penggarapan materi “Godus” terbilang lumayan lama karena beberapa alasan. Dimulai sejak band ini terbentuk pada 2020 lalu. Dalam perjalanannya, ada beberapa kendala yang ditemui Muhammad Fadhli Arif (vokal), Yusa Firdaus (gitar), Muhammad ‘Opep’ Rofi (gitar), Bagas K. Mahardika (bass) dan Satria ‘Rai’ Jatnika (dram). Pertama, sang vokalis sempat harus menjalani terapi dengan ahli medis yang memakan waktu cukup lama. Lalu pada awal 2021, Yusa harus pulang ke kampung halaman karena beberapa urusan. Untungnya saat balik ke Bandung, personel lainnya masih bersemangat untuk melanjutkan Age of Spin.
“Godus” sendiri direkam di Escape Studio, Bandung dengan bantuan teknis dari Puja Purnama Putra, yang juga sekaligus memoles tahapan mixing dan mastering. Sementara untuk perancangan artwork sampul, mereka mempercayakannya kepada Yowdi Santiar, yang juga tergabung dalam unit thrash nan berbahaya, Iron Voltage.
Lirik “Godus” ditulis oleh Fadly, yang menyorot beberapa fenomena dan kritikan sosial yang sifatnya lebih ke personal. Tepatnya bercerita tentang hilangnya kebebasan manusia pada era sekarang. Ia mewakili ketidakpuasan terhadap segelintir orang dan kemudian memicu keresahan bagi orang banyak. Bagi mereka yang hidup di atas hidup orang lain dan tidak memiliki kebebasan yang dibutakan oleh keserakahan. Bisa dibilang kebebasan atau bahkan kehidupan itu sendiri mati di bawah “Godus”.
.
.
Konsep awal mula dari hiruk pikuk distorsi yang dimainkan di “Godus”, menurut pihak band, muncul lantaran adanya keinginan untuk tidak sekadar menjadi penikmat musik-musik semacam itu, namun juga ingin terlibat di dalamnya. “Godus” diciptakan dari keinginan menciptakan musik yang tepat untuk menyertai kegiatan bermotor hingga akhirnya menemukan kesesuaian pada referensi yang dipilih.
“Referensinya tentu bukan hanya dari (Black) Sabbath saja. Bagi kami atau bagi seluruh pecinta musik ber-genre heavy metal tentu berangkat dari Sabbath yang meledak di eranya, lalu kemudian dapat menemukan kecocokan referensi dengan tujuan awal yaitu ‘melewati batas’ dengan Motorhead, lalu ‘bertarung’ dengan The Sword.”
Konsep yang diterapkan Age of Spin tentu saja tidak asing bagi para penikmat musik-musik ber-genre keras. Apalagi di Bandung sendiri, bisa dibilang jenis musik yang mereka kibarkan mungkin sudah banyak yang mengenalnya, dari musisi-musisi yang telah merepresentasikannya terlebih dahulu.
“Namun peradaban akan terus bertahan dan penerus harus tetap bisa hidup. Secara teknis, konsep yang kami usung adalah bagaimana kami akan merepresentasikan Age of Spin itu sendiri. Tentunya dengan harapan pandemi ini segera benar-benar berakhir dan kita akan saling jumpa di antara gigs atau konser yang akan datang. Amin.”
Tentunya, nafas Age of Spin tidak akan berhenti sampai di “Godus” saja. Karena justru single tersebut diproyeksikan sebagai menu pemanasan menuju perilisan album mini (EP), dimana penggarapannya diharapkan bisa rampung pada pertengahan tahun ini. (mdy/MK01)
Kredit foto: Bagus Irfan Bagaskara