“Ad Infinitum”, Karya Eksplorasi Maksimum RAZE di Orkestrasi Metal

Bayangkan nuansa musik dari band progressive metal asal Perancis, Gojira dipadukan dengan elemen unit deathcore asal AS, Lorna Shore lalu dibalut garapan orkestrasi dari komposer film asal Jerman, Hans Zimmer. Hasilnya, adalah sebuah garapan musik yang gelap, epik, cepat namun sekaligus tenang menghanyutkan. 

Kurang lebih, visi itu yang dijadikan target oleh unit metal asal Padang, Sumatera Barat ini, saat menggarap album mini (EP) terbaru mereka, “Ad Infinitum”. Hasilnya sudah dirilis sejak akhir Desember 2021 lalu, dan bagi Raze, mereka merasa sudah cukup merepresentasikan ‘kesan-kesan’ yang ditargetkan tadi di EP mereka. 

Salah satu terapannya ada di komposisi lagu berjudul “313” yang menceritakan perspektif penulis lagu terhadap dampak fenomena perjuangan akan suatu idealisme yang diinterpretasikan secara teologis dan psikologis. Di lagu tersebut, Raze berkolaborasi dengan seorang orkestrator muda berbakat di Kota Padang, Deni Januarta. Keduanya lantas mengamplifikasi tema epik di musik Raze tersebut.

Terapan elemen orkestra, bisa dibilang, memang menjadi nadi utama di musik Raze. Tidak hanya di lagu “313”. Di trek bertajuk “Ad Infinitum” yang juga dipakai sebagai judul EP, perlakuan orkestrasi cukup memperkuat instrumentasi gitar akustik dan ‘Lorna Shore part’ di dalam rangkaian komposisi tersebut.

“Terlebih lagi di ‘Ad Infinitum – Orchestra version’, kami juga memberikan treatment mini dokumenter perjalanan Raze, yang mana dua versi dari trek ‘Ad Infinitum Orchestra Version’ dan ‘Ad Infinitum Documentary’ menampilkan kesan yang berbeda, yang sama kuatnya di masing-masing versi,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, semangat.

.

.

EP “Ad Infinitum” digarap Akbar Nicholas (gitar), Bardi Rahmawan (gitar), Esa Valentino (bass), Muhammad Aulia Rahman (vokal) dan Rizky Desvino (dram) selama hampir dua tahun. Beberapa trek di dalamnya, seperti “Kratzer” bahkan sudah dirilis beserta video musiknya pada Februari 2020 lalu.

Untuk proses kreatif, Akbar Nicholas sebagai motor utama di Raze bereksplorasi secara total, tidak hanya dalam bentuk komposisi musik, tapi juga visual. Eksplorasi tersebut, yang dituangkan dalam format video musik, melibatkan etnomusikolog, orkestrator, duo vokal folk The Secret serta praktisi musik klasik, penari kontemporer, penata cahaya, pengarah seni hingga penata rias profesional untuk kebutuhan visualisasi di video. 

Pengeksekusian visualisasi “313” dilakukan Raze bekerja sama dengan Yusi Media, 3AM Studio Production Crew dan Gazp, yang notabene merupakan rekanan Raze di produksi musik dan visual karya-karya mereka sebelumnya. “Selama proses kreatif itu berjalan, bisa dibilang impresi dari kolaborator sangat positif,” seru Raze meyakinkan.

Setelah perilisan EP “Ad Infinitum”, Raze yang terbentuk pada Oktober 2017 lalu mencanangkan perluasan eksistensi, antara lain mengusahakan bisa tampil di berbagai festival, termasuk Wacken Festival di Jerman jika memungkinkan dan menemukan penyandang dana yang cocok untuk mendukung rencana-rencana mereka. “Kalau tidak tercapai dalam ‘koridor waktu’ kami, ya bikin karya lagi, dan repeat.” 

Lagu “313” dan keseluruhan karya di “Ad Infinitum” sudah bisa didengarkan di berbagai platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, iTunes, Joox, Deezer dan lainnya. Pada 2018 lalu, Raze juga telah merilis EP yang bertitel “So Repeat This Line”. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.