Walau ada perbedaan selera musikal yang tidak bisa dipaksakan seragam satu sama lain, namun rupanya justru membuat olahan musik duo metal modern ini menjadi menarik. Karena pada akhirnya, keduanya bisa baur meski memiliki pendekatan bermusik yang berbeda.
Contohnya di karya terbaru ERYA, “Living Desire // Hasrat” yang telah digelindingkan di berbagai platform digital sejak akhir Desember 2021 lalu. Sebuah lagu rekaman tunggal yang dibesut dengan racikan aransemen yang lebih ‘kalem’, namun tetap gagah, dimana kedua personelnya akur menyatukan sisi elektronik dan metal.
“Ide dasar dari lagu ini adalah salah satu kebutuhan manusia yang paling dasar, yaitu ‘hasrat kedagingan’ itu sendiri. Karenanya kami butuh lagu dengan tempo moderate, permainan gitar dan dram yang mengayun serta sound yang seksi tapi tetap megah. Dari sisi vocal tracking pun kami arahkan lebih mendayu, seperti mengajak orang bercumbu,” urai Erixon Sihite, salah satu personel ERYA kepada MUSIKERAS.
Erixon yang mengeksekusi isian-isian dram, vokal serta synthesizer menggarap “Living Desire // Hasrat” bersama Arya Akbara (gitar/bass/vokal) sejak Oktober 2021, yang dimulai setelah keduanya tergelitik pembicaraan menarik dengan seorang rekan mereka yang cukup konservatif terhadap topik hawa nafsu di dalam diri seorang manusia.
.
.
Hawa nafsu, baik secara seksual maupun romantis seringkali diasosiasikan dengan percabulan. Suatu hasrat yang berlebihan terhadap kenikmatan seksual. Pada masyarakat yang konservatif, hawa nafsu tanpa dilatarbelakangi sebuah ikatan yang disahkan, cenderung diungkapkan untuk mengelaborasikan dosa berat melawan kemurnian seperti perzinahan, masturbasi, perselingkuhan, pornografi, prostitusi hingga perkosaan.
Tetapi bagaimana yang terjadi dengan perspektif yang lebih liberal? Apakah hawa nafsu tetap menjadi sesuatu yang terlarang? Atau apakah sekiranya ada faktor kesadaran yang dilibatkan, maka tindakan hawa nafsu ini akan menjadi sesuatu yang normatif di masyarakat? Apapun itu, perjuangan mengatasi hawa nafsu membutuhkan keutamaan kemurnian berupa pembersihan hati dan pengendalian diri. Tema inilah yang dikedepankan ERYA di single ”Living Desire // Hasrat”.
“Awal mula lagu ini tercipta, memang (karena) ada masukan dari salah satu kenalan yang meminta kami membuat sebuah lagu metal yang bisa digunakan untuk (mengiringi) slow striptease, lapdance atau playgirl eurodance. Kami setuju style itu yang lantas kami garap di lagu ini. Karena kami pribadi agak sedikit jenuh dengan aransemen di karya-karya sebelumnya. (Lagu ini) sekaligus untuk menyegarkan pemikiran kami,” seru Erixon terus-terang.
Proses kreatif penggarapan “Living Desire // Hasrat” ini, menurut Erixon, bisa dikatakan berlangsung menyenangkan dan sedikit ‘susah-susah gampang’. Kenapa? Karena progresi dan aransemen lagunya terbilang sederhana, sehingga tidak terlalu banyak perdebatan antara Erixon dan Arya mengenai bagaimana porsi lagu tersebut akan dibentuk.
“Akan tetapi ketika kami memutuskan untuk membuat detailing di sana-sini dan mencari karakter suara yang tepat, tantangan kemudian bermunculan. Ditambah lagi, beberapa layering suara yang ada perlu kami hapus agar tidak terjadi kondisi ‘over-produce’.
ERYA yang terbentuk sejak awal 2020 lalu sampai sejauh ini terpisahkan oleh jarak, namun kolaborasi karya di antara keduanya bisa berjalan dengan baik, walau dilakukan secara virtual antara Jakarta-Tangerang dengan Pangkalan Bun, Surabaya. Di rilisan ini, Erixon dan Arya juga masih tetap berusaha mengerjakan segalanya secara mandiri, termasuk proses mixing dan mastering.
Untuk mendengarkan “Living Desire / Hasrat”, bisa menjamahnya di berbagai platform penyedia jasa dengar lagu format digital seperti Bandcamp, YouTube, Apple Music, Spotify, Deezer, Resso hingga Joox. (mdy/MK01)