KAUSA Kini Menyelami Blackened, untuk Menyampaikan Kitab Dosa

Atas nama eksplorasi, dengan berani unit cadas asal Cimahi, Jawa Barat dan Jakarta ini melakukan gebrakan mencengangkan di karya rekaman lagu tunggalnya yang terbaru, “Sijjin”. Single berdurasi lebih dari delapan menit dengan notasi dan tema lirik yang berat jelas bukan pilihan tepat untuk menjadi popular. Tapi Kausa memilih jalan itu, demi pelampiasan kreativitas yang tak harus menunggu persetujuan siapa pun. Kausa memiliki jalannya sendiri untuk terbang lebih jauh lagi.

Sebelum lebih jauh dengan konsep musiknya, mari telaah makna di balik judul “Sijjin”. Menurut tuturan pihak band, judul itu terinspirasi dari sebuah surat dalam kitab Al-Qur’an, yaitu Al-Mutaffifin yang mengisahkan tentang perbuatan jahat manusia semasa hidupnya dan melupakan bahwa akan ada catatan di hari akhir. Semua catatan tersebut terangkum dalam “Sijjin” yang akhirnya diputuskan untuk menjadi judul single mereka.

Ide judul datang dari Lukman ‘Luks’ Laksmana, yang juga dikenal luas sebagai vokalis grup rock ugal-ugalan, Superglad. Salah satu pemicunya adalah saat dia sedang menonton sebuah film lama berjudul “Seven” yang menceritakan tentang tujuh dosa besar manusia.

“Dari situ Luks mencoba mencari tahu lebih banyak tentang dosa-dosa itu, dan tanpa sengaja menemukan kata ‘sijjin’ yang ternyata ada di dalam sebuah surat di Al-Qur’an, dimana sijjin itu berarti kitab yang mencatat perbuatan buruk manusia selama hidupnya,” ulas pihak band kepada MUSIKERAS, menegaskan. 

“Sijjin” sendiri mulai digodok Kausa saat mereka kembali dari rangkaian tur Malang dan Bali. Kurang lebih sebulan waktu yang mereka habiskan sepanjang proses rekamannya. Penulisan lirik dikerjakan oleh Luks bersama ‘orang dalam’, Dikie Juli. Lalu untuk musik diracik Luks bersama dramer Ivan Chairil Anwar dan gitaris baru Kausa, Febby ‘Anibal 13’ Nugraha. Setelah semuanya beres, Kausa yang juga diperkuat bassis Danar Laksana lantas mengeksekusi proses rekaman dram di Blackandjie dan isian vokal serta instrumen lainnya di Studio Stella. Sementara untuk pemolesan mixing dan mastering dipercayakan kepada Justtheonebulls.

.

.

Selama lebih dari delapan menit, komposisi “Sijjin” yang epik dibangun lewat kombinasi riff gitar dengan sound berat, ditemani dentuman bass yang menggantung, vokal yang tampak semakin parau dan berat, yang bersahutan dengan entakan dram yang berubah-ubah dalam ketukan tak lazim. Cukup membuat “Sijjin” menjadi terdengar berbeda dibanding lagu-lagu Kausa sebelumnya. Ditambah lagi peran gitaris baru, Anibal13 yang cukup signifikan dalam mengubah sound Kausa.

“Jika gitaris terdahulu lebih mengedepankan teknikal, nah Anibal13 ini memberikan sentuhan lain selain bermain secara teknikal. Dari soundnya pun, Anibal13 lebih berat dibandingkan gitaris terdahulu.”

Disamping itu, referensi lagu yang didengarkan pun sudah jauh berbeda, yang secara tidak langsung mengubah pendekatan Kausa dalam bermusik. Sejalan dengan tekad mereka untuk selalu mencoba hal baru dalam setiap berkarya. “Untuk single ‘Sijjin’ ini kami banyak terinspirasi band blackened seperti Behemoth, Oathbreaker, Dimmu Borgir, Myrkur, dimana band-band tersebut menginspirasi kami dari sisi musikalitasnya,” seru Kausa meyakinkan. 

Oh ya, satu hal lagi yang juga mengejutkan. Dalam “Sijjin”, Kausa menggaet Tanayu Djanuismadi, seorang penyanyi wanita yang memiliki karakter suara dan penampilan unik. Dipilihnya Tanayu bukan tanpa alasan, tapi menurut Kausa, hanya Tanayu yang cocok untuk mengisi vokal latar untuk single tersebut agar nuansa gelap yang ingin disampaikan dapat tersalurkan dengan tepat.

Sebelum “Sijjin” yang diedarkan via Disaster Recs, label milik Maternal Disaster, sejauh ini Kausa sudah merilis album “Corvus Corvidae” (Maret 2019) dan “Una In Pepertuum” (Oktober 2020). (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.