EASEMENT Tuntaskan Hardcore yang Mandiri di “Distorsi Nafsi”

Dari kota Bandung, band ini datang untuk menggairahkan skena hardcore Tanah Air. Mereka telah meletupkan sebuah karya lagu tunggal debut bertajuk “Distorsi Nafsi”, yang dilepas sejak pertengahan Januari 2022 lalu. Secara lirikal, lagu tersebut mengangkat tema perlawanan, seperti hardcore pada umumnya. Sebuah sikap untuk melawan dan menaklukkan diri sendiri.

“Karena potensi kami, setiap orang selalu dihijabi dengan rasa malas yang kerap kali melekat,” seru Easement kepada MUSIKERAS, beralasan.

Proses kelahiran Easement sendiri dimulai pada pertengahan 2020 lalu, yang diinisiasi oleh gitaris Febby Septian Nugraha a.k.a. Drong. Sambil mengerjakan beberapa materi lagu, ia lantas mengajak beberapa rekannya, yakni Ekawilan a.k.a. Ewil (bass), Novan Andria (dram) serta personel terakhir yang bergabung, vokalis Ivan Maulana Yusuf. 

Mencari vokalis yang tepat sempat menjadi kendala saat memulai geliat band ini. Sementara intensitas bermusik sudah dimulai sejak awal 2021, tanpa dukungan vokalis. Untung pada akhirnya, tepatnya sekitar Juli, mereka menemukan Ivan dan menetapkannya sebagai pengemban lini vokal.

Penggarapan materi “Distorsi Nafsi” berjalan secara organik dan mandiri. Begitu pula dalam urusan produksi. Mereka merekam isian dram di Red Studio, Bandung dengan bantuan teknis dari Ade Saepudin (Flyingpaper). Sementara untuk rekaman instrumen lainnya, mereka mengeksekusinya juga secara mandiri di studio salah satu kampus di Bandung.

.

.

“Kami sering latihan di studio kampus, bahkan rekaman pun di situ. Kami memilih cara tersebut agar bisa leluasa melakukan hal yang kami mau. Mulai dari kebebasan bereksplorasi, bahkan bisa memangkas budget. Proses pengerjaan lumayan memakan waktu, sekitar satu setengah bulan. “Kendala produksi tidak terlalu banyak. Hanya memakan waktu cukup panjang karena diproduksi hampir seluruhnya secara mandiri,” urai Drong terus-terang.

Dalam komposisi musik, Easement memilih hardcore sebagai paham utamanya, yang kurang lebih mengacu pada geberan hardcore dari era 90 hingga awal 2000-an. Bagi mereka, hardcore era itu merupakan cikal bakal yang krusial bagi perkembangan dan kemajemukan musik hardcore, dan menjadi referensi band-band hardcore pada umumnya.

“Pasti menginduk dan jadi barometer bagi band hardcore saat ini, salah satunya kami, Easement. Pengaruh musik kami sendiri yaitu dari band-band hardcore seperti Terror, Hatebreed, Lionheart (AS) dan Malevolence.”

Daya tarik utama hardcore selain keberingasan dan keliarannya, buat Easement, juga terletak pada terapan riff-riff gitarnya. Mudah dicerna oleh pendengar. Dan terapan di Easement sendiri, diberi bumbu groove, hip-hop serta down tempo di dalamnya. “Terjadi secara organik dalam penggarapan instrumentnya. Untuk single tersebut, secara konseptual berupaya untuk memberikan angin segar di skena hardcore.”

Selain “Distorsi Nafsi”, saat ini Easement juga telah mengantongi cukup materi untuk dijadikan album penuh, dan mereka berharap bisa sesegera mungkin merampungkannya. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.