Didasari tekad untuk melebarkan sayap di arena permusikan metal di Indonesia, unit death metal asal Salatiga, Jawa Tengah ini pun kembali memanaskan mesinnya. Mereka telah melepas sebuah karya rekaman lagu tunggal bertajuk “Belenggu” sebagai menu pembuka menuju perilisan album.
Sebelumnya, Death Curse yang telah terbentuk sejak pertengahan Juni 2008 silam ini tercatat telah menghasilkan karya demo bertajuk “Destruction” (2010) yang memuat dua amunisi lagu. Lalu dua tahun sesudahnya, agresi mereka berlanjut dengan melepas sebuah album mini (EP) berjudul “The New Dark Faith” yang disesaki lima komposisi beringas. Pada 2018, Death Curse kembali memproduksi sebuah demo yang berisikan tiga lagu dan dirilis dalam format fisik CD.
Kini, untuk proses perekaman single “Belenggu”, Death Curse yang diperkuat formasi Wahyu ‘Injun’ Nurdiansyah (vokal), Raka Rizaldy (gitar), Josan Ade Ramadhan (gitar), Deo Adi Putra (bass) dan Nugroho Haryono (dram) mengeksekusinya di Soba Studio Record pada Oktober 2019 lalu. Setelah proses rekaman selasai, mereka lantas mengolah mixing dan mastering di studio rekaman rumahan milik Ervan Ngantuk, seorang sound engineer dari Nas4band dan Frans Production.
“Belenggu” sendiri merupakan track yang merepresentasikan ‘kemuakan’ terhadap tradisi, kebiasaan dan sistematika sosial yang usang. Kebebasan pun tak ayal kian terampas. “Dari hal tersebut, kami memilih untuk menyuarakan perlawanan tradisi tersebut lewat trek ini,” seru pihak band kepada MUSIKERAS.
.
.
Death Metal tetap menjadi kekuatan utama yang dieksplorasi oleh Death Curse di “Belenggu”, maupun di keseluruhan album. Karena menurut mereka, genre tersebut merepresentasikan karya lirik dan pandangan mereka terhadap propaganda isu problematika yang kami sorot.
“Amarah dan semangat perlawanan yang tersirat dalam lirik-lirik kami memberikan kami ruang untuk meluapkan emosi dalam bentuk susunan nada dan riff yang bersatu dengan lirik yang tentunya menghasilkan karya yang padu. Eksistensi band seperti Sepultura, Dying Fetus, Misery Index, Necrophagist, Behemoth, The Faceless, Deadsquad, Hellcrust hingga SiksaKubur sangat berpengaruh pada aransemen musik Death Curse,” urai Death Curse menegaskan konsepnya.
Sejauh ini, proses penggarapan album tinggal menunggu waktu perilisan, tepatnya pada 27 Februari 2022 mendatang. Peluncuran album bertajuk “Bhineka Tinggal Luka” yang dikemas dalam fisik CD tersebut bakal dibarengi produk tshirt album. Selain itu, juga bakal digelar pesta peluncurannya di acara korps bawah tanah Salatiga yang bertema “From The Ashes Rise”, bersama band-band berbahaya lainnya seperti Deadly Weapon, Killer of Gods, Death Propechy dan Sisi Rapuh.
“Di sana kami akan membawakan lagu full album dengan konsep, lighting dan tatanan panggung sesuai dengan tema yang kami usung.”
Sementara menunggu album, dengarkan “Belenggu” di berbagai platform penyedia jasa mendengarkan lagu berformat digital. (mdy/MK01)