Lepas Lagu Baru, THROW IT ALL Cetuskan Hardcore/Punk yang Tak Lazim

Hardcore atau punk adalah sikap. Tidak selalu mengacu pada bentuk atau gaya bermusik. Seperti yang diterapkan band asal Malang, Jawa Timur yang terbentuk pada 2021 lalu ini. Lewat lagu tunggal terbarunya yang bertajuk “Roses aren’t As Beautiful As the Old Roses”, mereka menyebut kadar hardcore/punk di komposisinya mungkin hanya sebesar 50%. Karena sesungguhnya, unsur hardcore punk itu juga sudah terurai di bagian lirik lagunya tersebut.

“Pengambilan kata sangat mengambarkan optimisme yang sangat besar meskipun banyak sekali cobaan yang menerpa. Untuk urusan musik di lagu ini sendiri biarkan para pendengar yang menilai bagaimana lagu ‘Roses aren’t As Beautiful As the Old Roses’ menurut mereka,” seru pihak Throw It All kepada MUSIKERAS, memberi penjelasan.

Berbicara mengenai lirik, lagu “Roses aren’t As Beautiful As the Old Roses” tercipta berdasarkan keputusasaan, di saat apa pun yang berusaha kita capai tidak berjalan lancar bahkan hancur. Percintaan yang kandas, profesi,  kehidupan, kebutuhan uang, terbelit utang dan sebagainya. 

“Benang merah di lagu tersebut terdapat di dalam diri kita masing masing. Masalah yang muncul di kehidupan karena ego kita. Dalam fase ini kita hanya dapat merapal doa, berjuang dan berbesar hati menerima keburukan yang ada di dalam diri kita masing-masing.”

Baiklah, sekarang mari kita menelisik musiknya. Di lagu yang proses rekamannya dilakukan di Griffin Studio selama lebih dari dua bulan tersebut, Throw It All banyak terpengaruh band-band hardcore/punk dunia dari era awal 2000-an seperti Champion, Chain of Strength, Comeback Kid, Dropkick Murphys, Have Heart, H2O, Minor Threat hingga One Step Closer.

.

.

Dibanding lagu tunggal mereka sebelumnya, “Scolded Dreams” yang dirilis pada 18 Januari 2022 lalu, Throw It All yang dihuni formasi Cornelius Karuniapio Threeding a.k.a. Pio (vokal), Yudo Canggi Kaufman HD (gitar), Cholis Perwita (gitar), Alafin Sifa (dram) dan Levita Damaika Anggriani a.k.a. Levi (bass) menyebut ada perbedaan konsep musik yang signifikan. 

“Perbedaan signifikan paling menonjol itu ada di beat musik, riff gitar, suara vokal yang lebih beragam, dan pemilihan nada terdengar lebih manis dan easy listening.”

Saat menjalani proses pengerjaan “Roses aren’t As Beautiful As the Old Roses”, mereka sempat menemui tantangan saat harus menyisipkan suara vokal tamu, Muhammad Fauzi dari unit hardcore Malang, Hand of Hope. Dengan latar belakang Fauzi yang memainkan musik hardcore metal, para personel Throw It All harus mengakali bagaimana cara memadukannya ke dalam aransemen musik hardcore punk yang mereka buat.

“Terbukti hasilnya sangat memuaskan bagi kami, ditambah di bagian akhir lagu ada suara vokal clean perempuan yang jarang sekali ada di band hardcore punk.”

“Scolded Dreams” dan “Roses aren’t As Beautiful As the Old Roses” adalah dua lagu pembuka, yang dipersembahkan Throw It All untuk menyambut peluncuran album mini (EP) debut mereka, yang kini sedang dalam proses penggodokan. Rencananya, EP tersebut bakal dirilis via label rekaman independen di Malang, yaitu Oh! Noo! Records. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.