Setelah sebelumnya menancapkan kehadirannya di peta musik keras Tanah Air lewat dua lagu tunggal, yakni “Carnivore Phenomenon” yang dirilis pada Juli 2020 silam, lalu “Tirani Maut” pada Januari 2021, kini unit keras asal Bali yang baru berusia dua tahun ini menunjukkan eksplorasi yang jauh lebih tajam. Di lagu terbarunya, “Dementia”, Nasbleur menerapkan olahan metal yang lebih modern, berat, megah namun tetap catchy.
Dalam konteks modern metal, Nasbleur meriset dari berbagai pengaruh serta referensi berbeda yang datang dari para personelnya, di antaranya mengacu pada band-band dunia macam Meshuggah, Gojira, Veil of Maya, Born of Osiris, Modern Day Babylon, Vitalism hingga Architects. Kurang lebih, beragam daftar pustaka metal yang mereka terapkan, membaurkan elemen-elemen modern metal, progressive metal, djent dan bahkan thall, salah satu ‘sub-genre’ dalam progressive metal yang lebih ekstrim, yang dipopularkan oleh band asal Swedia, Vildhjarta.
“Sejatinya, Nasbleur adalah band yang memadukan suara gitar dan bass yang ditala (tuning) sangat rendah namun agresif serta perpaduan synthesizer dan strings ensemble yang catchy,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, merinci.
Dibanding dua lagu yang mereka rilis sebelumnya, musik Nasbleur juga telah mendapatkan energi baru dengan bergabungnya bassis Dewa Putu ‘Krisna’ Suryanatha, melengkapi personel lainnya; Edwin ‘Win’ Andriann (vokal), Gede ‘Reddle’ Sukraada (gitar) dan Made Agus ‘Degus’ Sulantara (dram). “Krisna menjadikan band ini lebih kaya warna dengan pemikiran-pemikiran baru serta dalam eksplorasi nada rendah yang lebih kejam,” seru mereka lagi, meyakinkan.
.
.
Masih tentang eksplorasi baru Nasbleur, “Dementia” juga membawa mereka ke formula yang lebih mutakhir dibanding rilisan sebelumnya. Banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah waktu.
“Selama setahun lebih ini digunakan personel untuk riset dan eksplorasi lebih mendalam. Tidak hanya itu, pada single ini, Nasbleur juga berkolaborasi dengan (I Ketut Adyasa) Duke (Postmen) untuk menghipnotis pendengar dengan alunan saksofon yang menurut kami mampu menyayat setiap sendi dan sel otak menjadi lebih ‘relax and chill’.”
Penggarapan dan pematangan lagu “Dementia” sendiri membutuhkan waktu lebih dari setahun. Mereka merekamnya secara mandiri, lalu menyerahkan pemolesan mixing dan mastering di Amaze Aliens Labs, Bali. Ide riff pertama yang dilemparkan Degus via aplikasi grup WhatsApp pada Desember 2020 lalu menjadi pondasi awal karya ini. Lalu Nasbleur terus berevolusi, berinovasi dan meng-upgrade diri dalam kualitas sound dan materi tetapi tetap pada koridor modern metal sebagai acuan idealisme bermusik.
Menurut Nasbleur, karya mereka kali ini terbilang seperti roller coaster. Banyak kejutan.Dari yang awalnya lebih bernuansa ambience dengan sedikit lo-fi menjadi agresif yang terkesan menunjukkan ekspresi kemarahan, sampai pada titik masuknya alunan saksofon, membuat suasananya seketika berubah menjadi lebih santai. Di departemen lirik, Degus menorehkan buah imajinasinya, yang menceritakan keresahan seseorang ketika tidak bisa merasakan kepercayaan terhadap siapa pun dan apa pun di depannya karena kehilangan fungsi otak, akal, memori, rasa dan duka.
Selain penayangan via kanal YouTube, “Dementia” juga sudah bisa dinikmati di berbagai gerai layanan jasa dengar musik digital (streaming). (mdy/MK01)