HUMAN INSLAVEMENT Ungkap Kengerian Akhir Zaman dalam Geberan Slamming Groove

Via sebuah label rekaman asal Rusia, Coyote Records, unit slamming groove metal asal kota asri Sragen, Jawa Tengah ini akhirnya melontarkan album penuh pertamanya yang bertajuk “Amaran”. Karya rekaman beramunisikan sembilan trek tersebut sudah bisa didengarkan melalui berbagai platform penyedia jasa layanan dengar musik digital sejak 22 Februari 2022 lalu.

Kata ‘amaran’ sendiri berasal dari bahasa Melayu yang berarti peringatan. Seluruh lagunya berisikan tentang kepunahan manusia akibat tindakannya sendiri dan bersekutu dengan setan di akhir zaman.

“Konsep ‘Amaran’ ini kami buat sesuai dengan makna dari kata tersebut yaitu untuk memperingatkan umat manusia dimana kelakuan mereka sudah di luar nalar serta melebihi batas norma-norma yang ada, sehingga diharapkan dengan lahirnya album ini para pendengar yang mempunyai ciri-ciri yang sama segera tersadar dan bisa kembali ke jalan yang lurus. Lirik yang kami sajikan cenderung realistis ketimbang mengarah ke gore atau lainnya,” beber pihak band kepada MUSIKERAS, mengurai tema lirik-lirik lagunya. 

Human Inslavement yang terbentuk pada Juli 2018 lalu ini sempat mengalami bongkar pasang personel sebelum menggarap “Amaran”. Tapi pada 2021, mereka akhirnya menetapkan formasi yang diperkuat Era Feralli (vokal/bass), Tonny Prasetyo Utomo (gitar), Ar Rasyiidu (gitar) dan Ricky Miswan Trisnandar (dram) dan mulai menggarap “Amaran”. Saat pengerjaan album rampung, tepatnya pada awal januari 2022, mereka lantas merekrut gitaris Jared Oriforlan dan mengubah formasi, dimana Ar Rasyiidu beralih ke bass, sedangkan Era Feralli fokus menjadi ujung tombak sebagai vokalis. Di “Amaran” ini, Human Inslavement juga berkolaborasi dengan salah satu vokalis band death metal asal Surakarta yaitu Andrian Kokom (Paranoid Despire). 

.

.

Penggarapan “Amaran” dieksekusi Human Inslavement selama kurang lebih sembilan bulan, dengan segala kendala baik internal maupun eksternal. Diawali dari Aqshal, vokalis mereka sebelumnya, yang mendadak memutuskan hengkang saat proses pembuatan lagu. Selain itu sulitnya berkumpul lantaran pembatasan PPKM yang semakin ketat juga menghadang mereka. Belum lagi masalah penganggaran dana yang ternyata melebihi alokasi yang mereka rencanakan. 

“Masih banyak lagi, mohon maaf tidak bisa kami ceritakan. Untuk mengakali hal tersebut kami melakukan rekaman di dua tempat, yang pertama untuk take gitar dan bass kami lakukan di KLMN Record, sedangkan vokal dan dram dilakukan di Queen Production, yang mana kedua lokasi rekaman tersebut masih berada pada kota Sragen. Untuk mixing dan mastering, kami percayakan pada mas Ridho (Tone Better Soundlab) yang sudah berpengalaman di bidangnya dengan cara mengirim data rekaman kami lewat salah satu web tranfer, karena lokasinya yang jauh dari dari kota kami.” 

Oh ya, untuk musik, para personel Human Inslavement tidak hanya menggunakan atau terpaku pada band-band bercorak slamming seperti Analepsy (Portugal), Extermination Dismemberment (Belarus), Vulvectomy (Italia), Epicardiectomy (Ceko), Internal Bleeding (AS) sebagai acuannya. “Namun kami juga menyerap dari band-band genre lain seperti hardcore, metalcore, deathcore dan death metal untuk memperkaya materi dan kreativitas kami.”  

Kerja sama dengan Coyote Records sendiri merupakan hasil dari gerilya mereka di dunia maya, dimana Human Inslavement menghubungi berbagai label luar negeri untuk mengenalkan karya-karyanya kepada mereka. Namun pada saat itu yang tertarik dan mau bekerja sama adalah label dari Spanyol, Phatologically Explicit dan Coyote Records. Dari situ, mereka pun lantas berdiskusi untuk membahas label mana yang akan dipilih.

“Setelah berdiskusi kami pun sepakat untuk memilih Coyote Records dikarenakan salah satu alasannya adalah album dari band influence kami, yaitu Epicardiectomy pernah dirilis oleh label tersebut, sehingga ini merupakan kebanggaan tersendiri bisa satu label dengan band yang kami sukai. Akhirnya kami pun  menghubungi Coyote Records dan menandatangi kontrak kerja sama. Alasan lain kenapa kami memilih label dari luar negeri adalah karena kami ingin mempromosikan lagu kami lebih luas. Terlebih jika bisa menembus label luar negeri, ini merupakan sebuah prestasi bagi kami.” 

Selain diedarkan dalam format digital, album “Amaran” juga bisa didapatkan dalam bentuk fisik berupa CD. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.