Ibarat baru lepas dari cengkeraman virus Covid-19, unit cadas asal Samarinda, Kalimantan Timur ini adalah penyintas (survivor). Mereka berusaha keras untuk lepas dari jebakan kondisi skena musik metal di kota mereka yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja akibat terjangan pandemi, dimana minat penggemar menurun, komunitas mulai lelah dan para musisi yang kurang agresif lagi dalam merilis karya. Dan Derkaizer sendiri pun tak luput larut dalam kondisi tersebut.
Terakhir kali merilis karya yakni pada awal 2018 lalu, lewat rilisan sebuah video musik dari lagu “Kotoran Konservatif”. Sayangnya, gerakan Derkaizer saat itu tidak didukung dengan promosi yang semestinya. Untunglah, setelah empat tahun berlalu, band bentukan 13 Desember 2009 ini bisa memacu diri untuk bangkit. Mereka pun kembali memanaskan mesin amarahnya dengan melepas lagu tunggal bertajuk “Survive”.
Lagu tersebut sebenarnya bukanlah karya ciptaan baru. Pada 2016 lalu, Derkaizer yang kini dihuni formasi Muhammad Fadhiel (vokal), Fazri (gitar), Wahyu Rachmatullah (dram) dan Reza Maulana (bass) sempat memperdengarkannya melalui kanal Souncloud dan Reverbnation resmi mereka. Namun karena kurangnya promo saat itu, Derkaizer pun memutuskan untuk merekam ulang “Survive” dengan beberapa perubahan pada bagian aransemen, notasi vokal dan lirik.
Proses merekam “Survive” dieksekusi selama kurang lebih dua minggu, dan mereka sama sekali tak menemukan kendala teknis selain kepelikan mengatur jadwal antar personel. Produksi rekamannya sendiri mereka lakukan di Backstage Production dengan bantuan Arie Wardhana (Kapital) untuk urusan teknisnya.
.
.
Kini, lewat “Survive”, Derkaizer meluapkan proses kreatif yang sarat eksperimen dan berusaha melepas pakem death metal yang lekat pada mereka sejak awal. Ibarat kendaraan tempur yang penuh dengan amunisi dan bahan bakar, mereka siap terjun ke medan pertempuran.
“Untuk ‘Survive’ dan materi di EP (yang akan dirilis) sebenarnya masih dengan benang merah death metal, namun kami memadukan (elemen) melodic, hardcore dan grindcore ke dalam musik kami, karena single dan EP ini adalah proses transisi sebelum kami memulai kembali proses menulis lagu yang akan menjadi wajah baru untuk Derkaizer. Untuk referensinya sendiri kami ter-influence oleh Psycroptic dan The Black Dahlia Murder,” urai Derkaizer kepada MUSIKERAS, menegaskan konsepnya.
Dan sejak terbentuk, hingga merilis album “Life of Human” pada Oktober 2014 silam, formasi Derkaizer kerap didera perubahan. Sempat dihuni lima personel, dan kini mereka mantap berjalan dalam formasi kuartet. “Jalur di depan tak selalu mulus, kami harus bongkar-pasang personel sampai kami merasa lelah, dan pada akhir 2016 kami memutuskan mengubah format menjadi empat orang dimana hal itu otomatis mengubah pula style bermusik kami menjadi yang sekarang.”
Setelah “Survive”, jika tidak ada halangan Derkaizer dalam waktu dekat segera merilis album mini (EP), yang sejauh ini tinggal menunggu polesan mixing dan mastering rampung. (mdy/MK01)