Satu lagi unit cadas yang menancapkan benderanya di kegelapan ranah blackened death metal terbentuk di era pandemi. Mereka menamakan dirinya Faith Disorder, dan sejak 16 Maret 2022 lalu telah menebarkan amunisi lagu tunggal pertamanya, sebuah teror distorsi suara kengerian kematian berjudul “From Flesh to Fire”.
Dari segi lirik, “From Flesh to Fire” mengisahkan tentang seorang hamba yang mengharapkan sekeping surga, namun harapan tersebut pupus secara perlahan dan berbanding terbalik dengan apa yang ia inginkan. Larik demi larik dari lagu ini menggambarkan bagaimana pedihnya hamba tersebut mendapati berbagai macam kesengsaraan di neraka yang tak kunjung usai. Bahkan, Tuhan pun tidak mengindahkan jeritan sekarat permohonan maaf dari hamba-Nya yang naas itu.
Dimulai menjelang akhir 2021 lalu, proses penggarapan “From Flesh to Fire” yang berdurasi 4:29 menit tersebut dimulai dengan memikirkan konsepnya terlebih dahulu, lalu berkembang ke pemilihan jenis nuansa yang akan ada di lagu ini. Setelah semua bumbunya siap, barulah mereka mulai ‘memasaknya’ di dapur rekaman Apache Music Studio pada Desember 2021 hingga Januari 2022 bersama produser Imamulkhaer.
.
.
Konsep blackened death metal yang dianut band asal Jakarta ini, menurut para personelnya; Nanang Setiawan (vokal), Awan Novaldi Surono (gitar), Farhan Mubarak (bass) dan Ammar Ghifary Abdillah (dram) tidak jauh berbeda dibanding formula yang dianut oleh band-band sejenis pada umumnya.
“Aransemen musik death metal yang brutal – yang biasanya dihiasi dengan dentuman dram yang brutal dan riff gitar yang agresif dan seram – serta diperkelam dengan nuansa musik black metal yang gelap tak berujung, sehingga harus benar-benar memilih kord dan tangga nada yang relevan pada instrumen gitar dan bass agar mendapatkan nuansa gelap tersebut. Begitu pun dari segi penulisan dan pengucapan lirik vokal pun perlu diperhatikan. Behemoth, Belphegor, Hate dan sebagainya merupakan referensi yang kami jadikan acuan. Tetapi kami akan tetap menciptakan ciri khas tersendiri di Faith Disorder ini,” beber pihak band kepada MUSIKERAS mengurai konsepnya secara detail.
Bagi Faith Disorder, salah satu keseruan menggeber blackened death metal adalah memungkinkan masing-masing personel mengimplementasikan isi kepala dan menceritakan berbagai hal yang berbau black metal, namun dengan musik yang bernuansa death metal tapi dengan atmosfer yang jauh lebih gelap. “Istilahnya, kalau black metal itu gelap, death metal itu brutal, blackend death metal itu gelap dan brutal!”
Rencananya, akan ada lagi dua rilisan lagu tunggal yang dicanangkan Faith Disorder, setelah melepas “From Flesh to Fire”. Setelah itu, mereka akan memfokuskan konsentrasi pada penggarapan album. Sambil menunggu, silakan simak kengerian “From Flesh to Fire” di berbagai platform musik digital seperti Apple Music, Spotify, Deezer dan YouTube. (mdy/MK01)