Kondisi dunia saat ini, tidak terkecuali di Indonesia, semakin memprihatinkan. Banyak orang cenderung mengarah anarkis dalam menyampaikan kehendaknya, sehingga cara kekerasan sudah seperti tradisi dalam mewujudkannya. Paling tidak seperti itulah pengamatan seorang Argon, musisi yang saat ini juga dikenal sebagai pembetot bass di unit rock Jecovox. Baru-baru ini, ia telah melepas lagu tunggal pertamanya sebagai artis solo yang bertajuk “Dunia Anarki” via label AGHC Records secara independen.
Menurut Argon yang dalam proyek ini mengibarkan nama Argon (The Lawyer Rocker), sikap anarki saat ini tidak hanya berkaitan dengan aksi massa, tapi juga tercermin dalam sikap individu-individu. “Makin banyak individu yang melakukan cara kekerasan dan anarki dalam menyampaikan atau memaksakan kehendaknya. Saya mengajak seluruh orang untuk berani melawan segala bentuk anarki. Tentunya dengan cara-cara sebagai manusia yang ‘beradab dan punya hati nurani’,” serunya kepada MUSIKERAS menegaskan.
Oh ya, tentang sebutan The Lawyer Rocker sendiri memang berkaitan dengan aktivitas lain Argon di luar kesibukannya bermusik. Belakangan ini, ia kembali ke trek akademisnya, menekuni profesi sebagai seorang praktisi hukum. Di musik sendiri, karir profesionalnya sudah cukup lama terasah, antara lain menjadi session player untuk proyek rekaman beberapa artis, seperti: Ari Lasso, Anang Hermansyah hingga mendiang Widyatmiko ‘Micko’ Nugroho, vokalis Protonema. Argon juga sempat bergabung di formasi S.O.G (State Of Groove), saat band itu berubah nama menjadi 1001 pada April 2003 dan menghasilkan album “Seribu Satu Alasan”.
.
.
Lalu sejak 2011 hingga hari ini, Argon yang sempat pula menjalani profesi sebagai produser di beberapa program TV macam Indonesian Idol, X Factor Indonesia, Masterchef Indonesia hingga Take Me Out Indonesia ini akhirnya bergabung di proyek solo Roy Jeconiah (mantan vokalis Boomerang) yang mengibarkan nama Jecovox.
Untuk proyek solonya sendiri, sebenarnya Argon juga sudah pernah memulainya pada 2020 lalu lewat sebuah komposisi instrumental berjudul “F.S.P (F Stupid Puppets)”, dimana saat itu ia memakai nama AGHC.
Kembali ke “Dunia Anarki”, Argon mengakui benar-benar menggarap produksinya secara mandiri. Selain sebagai produser, menulis lirik dan meracik aransemennya, ia juga sekaligus memainkan seluruh instrumen musiknya sendiri. Bantuan pihak lain hanya terjadi di pemolesan mixing dan mastering, dimana Argon mempercayakannya kepada Leon Agusta, gitaris band The Winner dan Maharaja 48. Keseluruhan proses penggarapan musik dilakukan di studio rumahan milik Argon sendiri, kecuali untuk rekaman vokal dimana eksekusinya dilakukan di Big Bear Recording Studio, Jakarta.
Lalu dari sisi musikalitas, seperti apa konsep yang diterapkan Argon di lagu “Dunia Anarki”?
“Nggak ada konsep sih, mengalir apa adanya aja. Tapi kalau referensi, didominasi oleh musik-musik rock era 90-an sih, seperti glam rock dan alternatif, yang memang gue tumbuhnya di masa itu,” tuturnya meyakinkan.
Saat ini, lagu “Dunia Anarki” sudah dapat dinikmat di kanal YouTube Argon: Argonworld. Lalu dalam waktu dekat, juga akan tersedia di berbagai platform digital. (mdy/MK01)