Nama band baru asal kota manis Ciamis, Jawa Barat ini diambil dari penggalan kata di lirik “Someone Like You”, lagu milik diva pop dunia, Adele. Tapi tentu saja, musik yang dimainkan Summerhaze sama sekali tidak sekiblat. Unit keras yang baru terbentuk pada 2021 lalu ini adalah penganut paham kombinasi alternative rock dan grunge plus sedikit suntikan shoegaze.
Formula itu bisa didengarkan di lagu tunggal pertama Summerhaze, yang bertajuk “Syndrome”. Kepada MUSIKERAS, mereka menegaskan bahwa lagu tersebut dipengaruhi oleh beberapa unsur musik yang sering didengarkan para personelnya, seperti sound-sound di era 90-an.
“Beberapa jenis musik yang kami mix yang menjadi bentuk musik Summerhaze secara keseluruhan. New wave grunge menjadi benang merah dalam musik Summerhaze, namun kalian juga akan merasakan vibe shoegaze dan alternative rock dalam single kami ini,” seru Summerhaze kepada MUSIKERAS menegaskan.
Para personelnya, yakni Andry Gurcitra (gitar/vokal), Endi ‘Dies’ Rohendi (bass), Yopi Rukman (gitar) dan Tri Marta (dram) memilih konsep musik tersebut lantaran berbeda dibanding band-band mereka sebelumnya. Karena Summerhaze sendiri merupakan proyek kolektif dari beberapa band di Ciamis. Vokalis Andry merupakan personel dari band pop alternatif Masterplan, sementara tiga personel Summerhaze lainnya berasal dari band hardcore, Apatis.
.
.
“Mungkin juga sebagai bentuk refreshing untuk pribadi masing-masing. Kenapa kami mengambil konsep ini karena kami cukup banyak mendengarkan berbagai jenis musik seperti metal, hardcore, grunge, shoegaze bahkan pop. Kami ingin menambah warna musik di skena lokal kami di Ciamis.”
Aransemen “Syndrome” sendiri mulai digodok pada Desember 2021, direkam di studio rekaman rumahan milik Nova Ryan. Ryan pula yang dipercayakan untuk mengeksekusi pemolesan mixing dan mastering “Syndrome”. Dalam menjalani prosesnya, sempet terjadi beberapa kali perubahan sebelum masuk studio rekaman dan menjadi lagu utuh.
Lirik “Syndrome” ditulis oleh Zedwacky, dan dibuat sebagai pengingat tentang penyakit mental manusia, dimana mereka selalu merasa ingin ‘lebih tinggi’ dari manusia lainnya. Mencakup beberapa aspek, yang salah satunya tentang pencapaian (achivement).
“Ketika sudah meraih sebuah pencapaian, janganlah kita menjadi berbeda atau sombong, tetaplah menjadi orang yang bisa menghargai orang lain, karena ternyata karakter kita yang sebelumnyalah yang membantu kita untuk mendapatkan achivement tersebut.”
Langkah Summerhaze selanjutnya setelah perilisan “Syndrome” adalah menyiapkan dan melepas album mini (EP) perdananya. Saat ini sudah terkumpul beberapa materi yang sedang dalam penyusunan. Tapi paralel dengan persiapan itu, para personel Summerhaze juga terus memantau respon-respon dari berbagai pihak yang sudah mendengarkan “Syndrome”. Mereka juga berharap, ada label rekaman yang tertarik dengan materi musik Summerhaze.
“Syndrome” sudah tersedia di seluruh layanan digital streaming, termasuk di kanal Bandcamp. (aug/MK02)