Salah satu band instrumental yang berkibar dari Kota Gudeg, Yogyakarta ini akhirnya menampakkan sosoknya kembali, seiring menipisnya kabut pandemi yang menghalangi. Tidak tanggung-tanggung, Mercusuar langsung merangsek lewat sebuah karya rekaman album penuh bertajuk “Prodigium”. Kata yang dijadikan judul, diambil dari Bahasa Yunani yang bermakna ‘pelepasan’. Atau, secara luas bisa pula diartikan menebus sesuatu sebagai pelunasan.
Trio Yurie Becker (gitar), Saiful Anwar (bass) dan Ridha Andrianto (dram), yang kurang lebih menapakkan diri di wilayah progressive metal ini, juga menyebut albumnya semacam pelunasan. Pasalnya, 12 komposisi yang menyesaki “Prodigium”, mereka godok selama kurang lebih tiga tahun. Mereka benar-benar menguras segala ide kreativitas, inspirasi, eksperimen, membuat program sendiri, mixing hingga mastering, di tengah keterbatasan perangkat yang mereka miliki.
Bahkan, Mercusuar juga melakukan semacam trial and error hingga mereka benar-benar percaya diri untuk merilis “Prodigium”. Karena pada dasarnya, mereka bergerak di jalur indie. Namun ketika keseluruhan proses melelahkan tersebut sudah terlewati, mereka akhirnya lega, karena bisa produktif dan menghasilkan album perdana tersebut.
Hasil keseluruhan? Tentu saja memuaskan bagi para personel Mercusuar. Dan ada beberapa lagu yang diberi catatan khusus. Sebagai musisi, jika harus memilih, lagu bertajuk “Hocus Pocus” dan “Ashura” yang termuat di “Prodigium” mereka tunjuk sebagai contoh komposisi yang mewakili kepuasan mereka.
.
.
“Karena ‘Hocus Pocus’ lagu penutup album, dimana kami melunasi semuanya! Dan lagu paling menantang adalah ‘Ashura’ karena kalau live harus melibatkan pemain orkestra. Menurut kami, kurang greget kalau hanya dimainkan dengan sequencer… hahaha,” seru pihak band kepada MUSIKERAS memberi alasan.
Kendati secara umum mengeksplorasi wilayah progressive metal, namun Mercuar menegaskan, secara musikal, mereka mengangkat beragam tema di “Prodigium”, baik yang bertema ceria, haru, hingga kesan serius. Konsep tersebut lantas dibalut dengan progresi kord yang cenderung berubah-ubah, naik dan turun.
“Lead gitar yang modern, dentuman groove pada dram yang catchy hingga sampai ke ranah blast-beat ala death metal. Ada juga beberapa pattern (permainan) bass yang unik, lalu banyak ditemukan ribuan layer synthesizer dan sound effects, hingga memiliki kemegahan di kapasitas orkestra. Meskipun begitu, semuanya tampak easy listening ketika didengarkan.”
Untuk input ide musikal, dengan tegas Mercusuar meyakinkan bahwa mereka tidak menetapkan patokan khusus sebagai panutan musik saat penggarapan “Prodigium”. Baik inspirasi dari band maupun solois lain. Kecuali semuanya berawal dari film serta pengalaman pribadi.
“Ya, itu jawaban yang tepat menurut kami. Karena saat itu kami mencoba mengeksplorasi pengalaman pribadi kami, lalu diimajinasikan sebagai film, dan diterjemahkan menjadi lagu. Dan album ini benar-benar apa adanya. Jika salah satu track ini relate dengan kalian (pendengar), mungkin saat itulah perjalanan soundtrack dalam hidup kalian mulai dirasakan.”
Mercusuar terbentuk pada 2012 silam, dan telah melepas dua lagu rilisan tunggal sebelum mengemasnya dalam “Prodigium”. Lagu tersebut adalah “Periodic” yang diluncurkan pada November 2018, serta “The Gate” pada Mei 2020 lalu. (mdy/MK01)