Gokil, Lagu Baru LARUNG Libatkan Produser NIRVANA

“Pada hari ulang tahun kematian Kurt Cobain (Nirvana) yang ke-27, Steve Albini menyurati Larung.”

Ya, kalimat di atas adalah kisah nyata. Siapa Steve Albini?

Jika pernah mendengar album “In Utero” dari band grunge legendaris Nirvana, nah itulah hasil kerja Steve sebagai produser, sekaligus mengeksekusi teknis rekaman dan penataan suara (mixing). Terbilang, lewat “In Utero”, Nirvana juga meraup sukses komersil setelah sebelumnya menggegerkan dunia lewat album “Nevermind” (1991) yang fenomenal. Dari album tersebut, antara lain melejitkan lagu “Heart-Shaped Box” dan “All Apologies” yang menempati peringkat terlaris di AS dan Inggris saat dirilis pertama kali pada 13 September 1993 silam.

Lantas siapa Larung? 

Band ini berasal dari Tangerang, Indonesia yang terbentuk pada 13 November 2013 lalu. Larung sama sekali tak ada ikatan kontrak rekaman dengan Steve secara resmi. Namun saat trio yang kini dihuni oleh Joshua Jati Johan aka Josh JJ (gitar/vokal), Wahyu Insani Akbar aka Begeng (dram) dan Kemas Affano (bass/vokal) menggarap lagu rilisan tunggal terbarunya yang bertajuk “Nekabluri”, Steve memberi andil besar dalam teknis rekamannya. 

Asal muasal ‘kerja sama’ tersebut berawal dari keinginan Larung membesut gaya musik yang berbeda dibanding dua rilisan sebelumnya, yakni “Calonarang” dan “Matser” yang masing-masing dirilis pada Mei dan Desember 2020 lalu. Energi tinggi serta gairah masih menjadi roh utama, tapi kini ada unsur punk dan garage rock yang lebih ditonjolkan, sebagai variasi bumbu dasar dari grunge dan pop easy listening. Namun dalam menjalani prosesnya, Larung menemui jalan buntu saat ingin mengeksekusi karakter suara rekaman yang diinginkan, yang terkesan ‘mentah’ dan ‘kasar’ seperti tiga album luar favorit mereka, yakni “In Utero”, “Surfer Rosa” (Pixies) serta “Pod” (The Breeders).

Ketiga karya rekaman tersebut, tak lain merupakan hasil sentuhan ‘tangan dingin’ Steve, dimana karakter suara rekamannya terdengar seperti sebuah band bermain live di dalam ruangan yang menggema dan secara spesifik memiliki suara dram yang ‘mentah’ dan kasar. Anti industri. Dan Larung sendiri, memang menitikberatkan musiknya pada dinamika ‘loud-quiet-loud’ khas Pixies, dimana nyanyian bait yang sunyi mengalir ke chorus berenergi tinggi. Ramuan bebunyian tersebut membalut vokal sarat melodi, sekali pun dalam berteriak. 

“Kami rasa model rekaman seperti itu sangat cocok dengan warna dan gaya permainan musik kami. Setelah melalui proses penggalian dan percobaan-percobaan kami masih belum mendapatkan yang kami inginkan. Kami pun pasrah dan secara iseng tapi serius untuk mengirim email langsung ke sumber inspirasi kami, Steve Albini, dan menanyakan langsung bagaimana cara membuat suara rekaman seperti dia. Tanpa disangka-sangka, pada esok harinya, beliau pun membalas secara panjang dan terperinci filosofi dan beberapa teknik yang biasa dia terapkan. Dia arahkan kami langsung secara cuma-cuma dengan ilmu merekamnya yang sudah dilalui selama lebih dari 30 tahun. Yang menarik, tanpa direncanakan, ia menyurati kami bertepatan dengan ulang tahun kematian Kurt Cobain yang ke-27. Steve Albini adalah idola Kurt Cobain,” urai Larung kepada MUSIKERAS, panjang lebar.

Tanpa buang-buang waktu, ilmu serta arahan dari Steve tersebut langsung diboyong ke Studio Teras Belakang, dimana Larung memproduksi rekaman lagu “Nekabluri”. Di sana, mereka dibantu oleh produser Pandu Fuzztoni (Morfem, The Adams). Mereka pun langsung menerapkan sesuai arahan teknis dari Steve dan terkesima mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Bahkan melebihi ekspektasi mereka semua. 

“Kami dan Pandu sama-sama mendapatkan pengalaman baru dan sangat senang dengan hasilnya. Kami mendapatkan yang kami inginkan untuk suara rekaman: rasa live, alami, mentah dan suara dram yang murni,” seru Larung sarat semangat.

Jadi, dengan bangga band ini pun mengklaim, bahwa satu kesamaan Larung dengan Nirvana adalah sama-sama disurati Steve Albini perihal bagaimana mengeksekusi sebuah rekaman dengan gayanya. Juga, kemungkinan Larung adalah satu-satunya band Indonesia yang mendapatkan arahan rekaman langsung dan terperinci dari sang produser fenomenal tersebut. Secara teknis, bisa dibilang produksi “Nekabluri” menempatkan Steve Albini di posisi sebagai co-producer.

Surat arahan Steve Albini kepada Larung

Oh ya, jika pembaca juga ingin mengetahui redaksional surat Steve Albini kepada Nirvana, bisa dibaca di tautan berikut: https://faroutmagazine.co.uk/steve-albini-letter-to-nirvana/?amp.

Disamping “Nekabluri”, tahun ini Larung telah menjadwalkan perilisan album perdananya yang bakal disesaki 11 lagu. Proses produksinya sendiri sudah berjalan, dimana Larung juga dibantu oleh Gerard Rumintjap, desainer suara yang dipercaya memoles pelarasan suaranya (mastering). Sementara untuk mixing, sekitar 40% dikerjakan oleh Pandu Fuzztoni, dan sisanya diserahkan ke Bobby Aditya dari NM, studio paling tua dan legendaris di Tangerang. 

“Proses penggaparan album sudah mencapai 10 lagu, kami akan merekam satu lagu lagi untuk mencapai 11 lagu yang akan kami bungkus dalam album. (Sebanyak) 60% (proses) mixing sudah selesai. Kami targetkan November atau sebelumnya sudah merilis album fisik, dan terus akan bekerja sama dengan produser Pandu Fuzz, dengan arahan langsung dari Steve Albini.”

“Nekabluri” yang merupakan singkatan anagram ‘blues dari neraka’, sudah tersedia di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music dan YouTube Music sejak 7 Juli 2022 lalu. (mdy/MK01)

.

Jika Anda - para pembaca Musikeras - menyukai tulisan-tulisan kami dan ingin membantu / peduli akan kelangsungan karir media kami, dengan senang hati kami menerima donasi dari Anda secara sukarela. Bantuan dana bisa dikirimkan (transfer) via aplikasi OVO Musikeras 083822872349. Berapa pun bantuan Anda sangat berharga buat kami. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *