Perusuh hardcode nan brutal asal Jakarta ini baru terbentuk pada November 2021 lalu. Masih belia. Tapi Tore Up tak ingin dianggap sebagai pendatang baru yang berpotensi dipandang sebelah mata. Makanya, dua karya rekaman rilisan tunggal yang mereka ciptakan, yakni “Drowning” dan “Nothingness” langsung digeber sekaligus.
“Selain strategi kami untuk memasuki skena musik keras Indonesia, kami memutuskan untuk merilis dua single sekaligus sebagai ritus debut, karena kami merasa bahwa ‘Drowning’ dan ‘Nothingness’ yang disajikan secara utuh dapat menjadi representasi terbaik dan komprehensif dari musik yang akan kami bawakan nanti,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkap alasan.
“Drowning” dan “Nothingness” sendiri disampaikan Tore Up dengan usungan tema yang rusuh, gelap dan agresif, plus balutan lirik depresif penuh kecemasan berlebih pada “Drowning”, yang lantas disambung dengan hilangnya pengharapan pada “Nothingness”. “Drowning” dipilih menjadi teror pembuka dengan tujuan untuk menyampaikan emosi dan ketakutan bagi para pendengar secara brutal dan konsisten, disusul “Nothingness” sebagai teror penutup mengamini ketakutan yang akhirnya menemui titik buntu.
Para personel Tore Up; Hanri Marshall Djasa (vokal), Darma Respati Putra (gitar), Muhammad Naufal Perdana (gitar), Barni Setiawan (bass) dan Muhammad Fiorel Fajri Hilmi (dram) mengawali penggarapan “Drowning” dan “Nothingness” lewat proses pengumpulan riff di rumah, lalu membawanya ke studio untuk diolah lewat jamming. Setelah itu membuat trek acuannya (guide track) sebelum merekamnya di studio. Namun ada hal teknis dalam prosesnya, yang menurut Tore Up, membedakan mereka dengan band-band yang juga menganut paham hardcore seperti mereka.
.
.
“Kami mencoba adaptif untuk merekam ‘Drowning’ dan ‘Nothingness’ dengan cara analog dan digital secara simultan. Sebelas Juni 2022 menjadi titik awal kami memasuki ruang studio untuk merekam dram.”
Isian dram dilakukan Tore Up di Studio BlackandJe (Darktones Alliance Studio), dimana mereka menghabiskan dua shift rekaman, didampingi Adria Sarvianto (Down for Life) dalam pengoperasian teknisnya. Setelah itu, pada sektor bass dan gitar, mereka menghabiskan waktu kurang lebih satu bulan, mulai dari 19 Juni hingga 9 Juli 2022 di studio milik Zethria Okka (Holykillers) di bilangan Tangerang. Sementara pada sektor vokal, Tore Up memutuskan untuk mengeksekusi rekamannya di ERK Studio. Kali ini mereka dibantu oleh Priyambodo Wibowo, yang juga dipercaya menangani pengeditan, sekaligus memoles mixing dan mastering.
Tore Up mendefinisikan konsep musiknya di “Drowning” dan “Nothingness” dengan istilah ‘violent/chaotic hardcore’. Benang merahnya adalah mencoba membawa musik hardcore dengan kebrutalan powerviolence, yang dibalut nuansa gelap.
“Kami mencoba mengawinkan warna hardcore dari (band asal AS) Chamber, Candy, Sanction, Jesus Piece, Foundation hingga Vein, dengan sentuhan powerviolence dari Nails, Friendship, Regional Justice Center, dan mencoba membalutnya dengan nuansa gelap dari Cult Leader, Converge dan Bloodbather.”
“Drowning” dan “Nothingness” sudah dirilis sejak 9 September 2022. Untuk memaksimalkan promosinya, Tore Up bakal menjalani tur ke beberapa kota, yakni Lampung, Purworejo, Yogyakarta dan Solo untuk mulai menebar kemarahan, ketakutan, dan keputusasaan ke berbagai penjuru. Tapi disamping itu, mereka juga mulai mengumpulkan materi untuk kebutuhan album, yang ditargetkan bisa rilis awal atau paling lambat pertengahan tahun depan. (mdy/MK01)
.
.