Kuartet ini bukan nama baru yang mengobarkan jagat ranah progressive metal secara lokal maupun global. Dan kini, setelah lebih dari satu dekade berkarya, pengembaraan dan metamorfosis Goddess of Fate kembali dilanjutkan, lewat eksplorasi yang makin mengundang acungan jempol. Walau sempat didera pergantian formasi.
Dengan skuad terbaru yang diperkuat oleh formasi Ahmad Okta Perdana (bass), Johanes ‘Aryo’ Arya (dram), Toto Nugroho (kibord) dan Yogi Yudistira (gitar), band asal Yogyakarta ini berevolusi mematangkan diri untuk meracik musik progresif khas yang mewah nan megah. Niat itu kini terwujud di sebuah karya rilisan tunggal terbaru bertajuk “God of Destiny” yang dirilis via label Fossorial Kollektiv (Indonesia).
Di lagu tersebut, Goddes of Fate menyebutnya sebagai penanda era baru mereka, dengan terapan komposisi yang lebih kompleks berbalut elegansi ala Rick Wakeman (Yes) dan Jon Lord (Deep Purple) yang diramu sempurna dengan warisan musikalitas band Mahavishnu Orchestra dan King Crimson, tanpa mengubur nuansa metal ekstrim yang telah melekat di band ini sejak 2007 silam.
Penggarapan “God of Destiny” sendiri melibatkan dua musisi asing dalam proses rekamannya. Tepatnya seorang solois avant-garde asal Los Angeles, AS bernama Lou Kelly serta Juan Ignacio Varela, peniup saksofon dari band legendaris Argentina, BUBU.
“Proses kreatif untuk single ‘God of Destiny’ dilakukan berdasarkan hukum kolaborasi dimana vokal Lou Kelly dan Juan Ignacio Varela mengejawantahkan musik dasar dari Goddess Of Fate sesuai dengan intrepretasi mereka masing-masing, lalu menumpahkannya dalam single ‘God Of Destiny’. Tentu saja semua melalui supervisi dari Goddess of Fate sendiri. Proses rekaman terhitung cepat. Hanya tiga minggu jika dihitung efektif. Kendala jarak antara kami, Lou dan Juan bisa diatasi dengan bantuan teknologi,” papar pihak band kepada MUSIKERAS, mengurai proses kreatif penggodokan karya barunya itu.
.
.
Sebelum “God of Destiny”, Goddes of Fate yang mulai menggeliat sejak 2009 silam, telah mengoleksi karya rekaman berupa demo “Irrational” (2010), album split “Three Habitats” (2011) dan album mini (EP) “A Reversal of Civilization” (2012), dengan konsep yang masih sangat kental dipengaruhi genre technical death metal. Lalu terjadi pasang dan surut, sampai akhirnya pada Mei 2018 mereka berhasil merilis “Spiral Orchard Pt.1”, album yang berhasil menuai respon positif. Karya yang direkam di Watchtower Studios, Yogyakarta tersebut dipuji oleh berbagai media, termasuk media asing seperti Metal Injection dan Metal Hammer Magazine.
Nah, jika dibandingkan dengan karya-karya tadi, “God of Destiny” terbilang jauh berbeda. Karena di formasi ini, Goddess of Fate menggandeng seorang kibordis ke dalam formasi intinya. “Dari sudut pola pikir musikal tentu berbeda. Lebih lebar dan akan lebih menyentuh sisi artistik yang ilustratif. Jika menilik ke album-album terdahulu komposisi di karya ini bisa dibilang breakthru’ buat perjalanan Goddess of Fate secara musikal.”
“God Of Destiny” ditunjuk sebagai pembuka dari rangkaian menuju album “Spiral Orchard part 2”, yang sekalian akan menutup ‘kisah’ “Spiral Orchard part 1”. Sejauh ini, pergerakan persiapannya sudah matang secara konsep dan siap dieksekusi dalam rekaman.
Pihak Fossorial Kollektiv telah merilis “God Of Destiny” di berbagai platform digital sejak 23 September lalu, dan akan menyusul dalam format kaset pita pada pertengahan November 2022 mendatang. (mdy/MK01)
.
.