DERKAIZER Simpulkan Amarah di EP “Dogma Bertutur Api”

Setelah dibuka lewat lagu rilisan tunggal bertajuk “Survive” pada Februari 2022 lalu, akhirnya unit cadas asal Samarinda, Kalimantan Timur ini berhasil merampungkan dan merilis album mini (EP) terbarunya, berjudul “Dogma Bertutur Api” dan memuat lima amunisi lagu, termasuk “Survive”.

Sejak terbentuk pada 13 Desember 2009 silam, Derkaizer juga telah menghasilkan album yang berjudul “Life of Human” yang dilepasliarkan secara resmi pada Oktober 2014.

Derkaizer kembali menyalakan api yang sempat padam lewat “Dogma Bertutur Api”, yang mereka sebut sebagai sebuah manifestasi dari rasa benci dan kecewa, hingga terakumulasi menjadi amarah. Setiap trek melontarkan agresi yang akan membuat pendengar Derkaizer tenggelam dalam amarah yang mereka suguhkan. 

“Dogma Bertutur Api” menjadi babak baru untuk formasi Muhammad Fadhiel (vokal), Wahyu Rachmatulloh (dram), Fajri (gitar) dan Rezha Maulana Sandy (bass), dimana olahan musiknya menjadi transisi ke karakter yang baru. Deathmetal masih menjadi benang merahnya, namun di sana-sini ada imbuhan beberapa sub-genre sebagai bumbu pemicu agretivitas. 

“Kami sendiri sebenarnya masih berputar di death metal, ada pun sisipan sub-genre seperti hardcore dan grindcore itu menjadi tambahan agresi kami, agar musik death metal yang kami mainkan tidak terasa hambar dan begitu-begitu saja,” seru Derkaizer kepada MUSIKERAS, yang antara lain menyebut referensinya banyak dipengaruhi band-band keras dunia macam Psycroptic, The Black Dahlia Murder, Hatebreed, Misery Index, Rise of the Northstar, Mastodon hingga Ghost. 

.

.

Proses kreatif “Dogma Bertutur Api” dimulai dengan pengumpulan beberapa materi, yang lantas dilanjutkan ke tahapan kurasi untuk menjaga benang merah yang diinginkan oleh para personel Derkaizer. Setelah itu baru digodok dalam sesi workshop di studio. Rekaman dimulai di isian dram pada Desember 2018, lalu disusul gitar dan bass pada Juli dan Agustus 2019. 

Tapi proses itu sempat tertunda lantaran sang vokalis, Fadhiel harus menemani Ibunda-nya yang tengah perawatan intensif kesehatannya. Pada Februari 2020 sang Ibu wafat yang meninggalkan masa tersuram bagi Fadhiel. Ia bahkan sampai meminta rehat karena masa berkabung. Proses rekaman baru bisa dilanjutkan kembali pada awal 2021 dan akhirnya bisa dirampungkan pada Desember 2021. Keseluruhan proses dieksekusi di Backstage Studio dan ditangani oleh Arie Wardhana (Kapital). Termasuk proses mixing dan mastering.

Selain “Survive”, EP “Dogma Bertutur Api” juga dikobarkan empat komposisi lainnya yang berjudul “Koloni Keangkuhan Kekal”, “Kotoran Konservatif” yang juga sudah pernah diperdengarkan dalam format rilisan tunggal pada Januari 2018, “Parade Sekarat” serta “Dogma Bertutur Api”. Lalu ada pula komposisi intro dan outro yang pengerjaannya dipercayakan pada sahabat mereka, Indra Adidarda. 

Lagu “Dogma Bertutur Api” sendiri disepakati oleh para personel Derkaizer sebagai lagu yang tersulit sekaligus paling menyenangkan untuk dimainkan. “Sulitnya karena kami harus benar-benar menjaga emosi saat membawakan lagu ini. Sebab kalau nggak, bisa out of tempo dan malah bikin berantakan pada saat dimainkan,” seru Derkaizer meyakinkan.

EP “Dogma Bertutur Api” kini sudah bisa didengarkan via berbagai platform digital sejak enam hari lalu. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.