Unit rock yang menyebut paham mereka dengan istilah emogaze dari Bali ini kembali melampiaskan kreativitas bermusiknya yang semakin matang. Kali ini, Milledenials berbagi ‘panggung’ dengan unit shoegaze asal Blora/Yogyakarta, Sunlotus lewat sebuah album berbagi (split) bertajuk “Split Feelings”, yang dinaungi label Lamunai Records sejak 4 November 2022 lalu. Album tersebut diproduksi dalam format kaset dan diedarkan dalam jumlah terbatas, hanya sejumlah 100 keping.
Sebelumnya Milledenials dan Sunlotus telah menjelajah pulau Bali bersama dalam rangkaian promo tur “Deafening This Old House”, yang diinisiasi Sunlotus. Hangatnya pertemanan yang mereka rasakan selama tur melahirkan alasan untuk merilis sebuah proyek bersama. Apalagi setelah itu, Milledenials yang baru terbentuk 2020 lalu membalas kunjungan Sunlotus ke Jawa dalam sirkuit “I Hate the Way You Drive My Car Tour”. Dimulai dari Malang, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan kemudian menutupnya dengan sebuah gig pamungkas di Denpasar.
Di proyek “Split Feelings” ini, Milledenials menggelar dua trek, yaitu “Wide Eyes” dan “Syndrome”. Lagu yang pertama bercerita tentang seni berbohong dengan mengucapkan hal jujur yang sering menjadi konflik dalam sebuah hubungan personal. Sementara “Syndrome” yang versi demo-nya telah dirilis Juli lalu via Bandcamp, membeberkan tentang gejala manusia dengan kecenderungannya dalam mengejar ambisi.
Komposisi lagu Milledenials di materi ini mencoba menyampurkan distorsi gitar shoegaze dengan entakan dram tempo sedang ala hardcore punk yang dibalut lirik penuh luapan emosi. Kedua materi tersebut direkam di House Records, kecuali isian dram yang dieksekusi di Fantasy Reborn Records. Pemolesan mixing dipercayakan kepada Haryo Widi, sementara untuk pelarasan suara (mastering) lagu dikerjakan oleh Bable Sagala dari Watchtower Studio. Bable adalah engineer di balik album Exhumation, LeftyFish, Deadly Weapon, Annie Hall dan banyak rilisan band Yogyakarta lainnya.
Dari sisi konsep musikal, Milledenials yang sempat mengharubiru skena dengan album mini (EP) “5 Stages of Doomed Romance” yang dilepasliarkan via Skullism Records pada 10 September 2021 lalu menyebut dua karya rekaman mereka di “Split Feelings” tersebut jauh lebih tereksplorasi dibanding rilisan mereka sebelumnya. Misalnya, kali ini Nadya Narita (vokal), Billy Sukmono (bass), Made Krisna Sanjaya (gitar), Bagus Aditya (gitar) dan Darin Vidaswara (dram) mengaku mulai belajar bermain musik dengan dua time signature yang berbeda.
“Kami juga eksplorasi di sound, mencoba menyampur antara sound analog dan digital. Dua single ini, membantu kami mengembangkan penulisan lagu serta tanggung jawab skill kami sebagai musisi,” seru Milledenials kepada MUSIKERAS.
Selama proses penulisan “Wide Eyes” dan “Syndrome”, Milledenials banyak mendengarkan lagu-lagu di aplikasi Spotify, yang sedikit banyak membawa pengaruh dalam pola penyusunan komposisi lagu-lagu mereka. “Tapi mainly, selama penulisan dua lagu itu mengalir begitu saja. Mungkin ada sedikit ‘sentuhan’ dari (band indie rock/emo dari AS dan Selandia Baru) DIIV, Anxious dan The Beths.”
Lalu saat menjalani proses rekaman, Milledenials juga telah memaksimalkan perangkat studio serta metode teknis yang lebih memadai. “Take dram dilakukan organik dengan metronome, tidak seperti di EP yang masih semi-midi. Begitu juga dengan gitar dan bass yang mengawinkan sound digital dan analog. Secara mixing dan mastering-pun kami upgrade daripada materi – materi di EP.”
Sambil mempromosikan “Split Feelings”, kini Milledenials juga tengah bersiap-siap terlibat di sebuah album kompilasi bersama band Puff Punch dan Lips yang diinisiasi oleh Kolibri Rekords dan Greedy Dust Records. Lalu kemungkinan tahun depan, Milledenials akan menggarap EP lagi, diikuti beberapa lagu rilisan tunggal terbaru. (aug/MK02)
.
.