Akhirnya, untuk mempertegas pesannya akan bahaya narkoba, unit brutal death metal asal Malang, Jawa Timur ini melampiaskan video lirik untuk salah satu lagunya, “Psylocybin Hypochondriasis”. Karya rekaman ini termuat di album “Diethlamide” yang telah ditebar oleh label cadas asal Banjarnegara, Dismembered Records ke berbagai platform digital sejak tahun lalu.
Garis besar lirik “Psylocybin Hypochondriasis” berpusat pada jenis kotoran sapi (jamur) atau magic mushroom. Jamur tersebut menimbulkan efek negatif, seperti halusinasi tingkat tinggi hingga dapat memicu masalah mental dan emosional bahkan kecelakaan dalam pengaruhnya.
Konsep “Diethlamide” sendiri, secara keseluruhan memang menyorot tentang penyalahgunaan segala jenis narkotika, yang mereka kemas menggunakan bahasa psikologis. Termasuk di “Psylocybin Hypochondriasis”. Karena mumpung salah satu personelnya, yakni Fikri Firman (bass/vokal) adalah seorang mahasiswa jurusan psikologi. “Kami memanfaatkan preferensi Fikri di bidang psikologi,” ujar pihak band menegaskan.
Lalu mengapa mengusung tema narkoba? Jelas tujuan tersebut, seru Vospison, adalah untuk mematahkan stigma negatif masyarakat pada umumnya, yang selalu menganggap musisi identik dengan narkoba, baik musisi mayor maupun minor seperti mereka. “Ya, memang tidak bisa dipungkiri tetapi kami ingin menunjukkan sisi lain dari musisi minor alias underground.”
.
.
Proses kreatif penggarapan “Diethlamide” – seperti yang sudah pernah diulas di MUSIKERAS – sudah dimulai sejak dirilisnya promo 2018 via Fatalism Musickness. “Ya dari tahun itu kami mulai menggarap materi album sampai benar-benar nemuin materi yang kami sreg. Jadi ada beberapa materi yang nggak kami pakai,” tutur Vospison kepada MUSIKERAS merinci.
Dua lagu dari proses itu, yakni “Morpheus” dan “Psylocybin Hypochondriasis” yang sempat terkemas dalam paket rekaman bertajuk “Demosick 2020” kembali disuguhkan di “Diethlamide”, tapi dengan versi yang berbeda.
Vospison yang juga dihuni Faisal Sukma (gitar/vokal) dan Oni Arim (dram) menggodok ”Diethlamide” di beberapa tempat. Asylum Soundlab dipilih untuk perekaman isian gitar, bass dan vokal. Sementara khusus dram dieksekusi di Monev Studio. Lalu untuk tahapan pemolesan mixing dan mastering diolah Vospison di Insidious Soundlab. Secara keseluruhan, secara teknis bisa dibilang berlangsung lancar dengan tingkat kesulitannya masing-masing.
“Dari segi materi semua lagu memiliki tantangannya masing masing, jadi tidak ada yang ‘ter’ bagi kami.”
Musikalitas, konsep ”Diethlamide” disebut band bentukan Agustus 2016 ini berbeda dibanding karya-karya promo mereka sebelumnya. “Karena di album ini kami mengambil referensi riff dan musik dari (band) Disgorge (AS) dan Abominable Putridity (Rusia), dipadukan dengan sound yang ‘kasar’ khas Putridity (Italia).”
Sembilan amunisi berbahaya yang termuat di ”Diethlamide” bisa dilantangkan via platform digital seperti Spotify, Apple Music, Amazon music, Joox, Deezer dan YouTube. (aug/MK02)