Akhirnya, jalan panjang menuju perilisan album mini (EP) menemui garis akhir yang melegakan. Karya-karya lagu yang telah digodok unit heavy rock asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini sejak terbentuk pada akhir 2018 silam berhasil dirampungkan dan diabadikan dalam format kaset pita. Diberi judul “Bergegas” dan diedarkan dalam jumlah terbatas atas kerja sama antara Senandung Yoi! dengan label rekaman independen asal kota Tangerang, Stranger Records.
EP dengan kandungan enam lagu yang masing-masing berjudul “Doktrin Kuasa”, “Retorika”, “Bergegas”, “Riuh Memburuh”, “Berontak Berkarya” dan “Marijuang!” dihadirkan dengan terjangan rock klasik yang sarat akan unsur heavy metal, dengan pola garukan riff gitar yang berat, pola dram yang khas serta tarikan vokal kuat yang melambangkan kemarahan.
Memang, genre yang digeber Senandung Yoi! terbilang cukup tua untuk dimainkan di depan generasi sekarang. Namun menurut mereka, konsep itu memang lahir dari kesamaan selera para personelnya, yakni Kustriadi ‘Brenk’ Agung (vokal), Ryan ‘Gehu’ Heru (gitar), Galih Yulian Permana (gitar), Gebby Bagaskara (bass) dan Racka ‘Hayam’ Ramandika Pratama Putra (dram).
“Kami lebih memilih untuk bernostalgia dan membangkitkan lagi semangat musik rock tua tahun 80-90-an,” seru pihak band kepada MUSIKERAS menggarisbawahi alasannya.
Lebih jauh, Dari segi musikal “Bergegas” menawarkan warna dan komposisi rock yang menurut mereka sangat berbeda, karena lebih mengacu ke era musik heavy rock 80-90-an. “Yang kami rasa masih bisa kami sajikan di masa sekarang, yang lebih condong ke era metal modern. Perbedaan musik yang kami bawakan sangat signifikan, dari mulai tone, riff hingga lirik.”
Saat menjalani proses rekaman EP “Bergegas”, Senandung Yoi! menyebut lagu “Riuh Memburuh” sebagai komposisi yang secara teknis cukup menantang penggarapannya. Karena di lagu tersebut, mereka mencoba untuk keluar dari pakem yang sudah dilakukan dalam pembuatan lagu-lagu mereka sebelumnya.
“(Kami) Mencoba bermain dengan progresi kord yang lebih dinamis dan lebih ringan untuk didengar, namun tetap berusaha menghadirkan suasana ‘pemberontakan’ yang memang menjadi benang merah di setiap lagu yang ada di EP ‘Bergegas’ ini, menjadi sesuatu yang cukup menantang dalam proses pembuatannya.”
EP “Bergegas” sendiri dieksekusi dalam waktu yang relatif singkat. Karena sebenarnya, sebagian besar materinya sudah rampung pada tahun pertama Senandung Yoi! terbentuk. Hanya saat itu, masih dalam format yang belum dirapikan secara keseluruhan.
.
.
“Terbilang cepat karena di tahun pertama, kami ada acuan dan kesamaan yang sangat menggebu-gebu dari masing-masing personel, yang memang sedang merasakan adanya keresahan dalam masalah pekerjaan. Hingga akhirnya bisa kami tuangkan ke dalam musik yang kami buat, yang memang merupakan isi curahan hati dari kami sebagai buruh dan pegawai yang tidak diperlakukan adil di pekerjaan kami.”
Memasuki tahun kedua dan ketiga sejak terbentuk, Senandung Yoi! akhirnya memutuskan untuk merekam dan melepas dua lagu rilisan tunggal sebagai pembuka jalan, yaitu “Berontak Berkarya” (2019) dan “Marijuang!” (2020) di beberapa platform digital. Namun lantaran hasil rekaman kedua lagu tersebut dirasa kurang memuaskan, akhirnya mereka mencabut peredaran kedua lagu tersebut di platform digital.
“Dan akhirnya, pada 2021 kami memutuskan untuk merekam (kembali) semua lagu di salah satu studio musik di Tasikmalaya, yaitu Pandemi Records dan untuk take dram, mixing serta mastering kami percayakan dikerjakan di salah satu studio musik di Bandung, yaitu Escape Studio.”
Sama seperti di tahun pertama, karena kesibukan masing-masing personel, perilisan EP tersebut kembali terkendala. Hingga, singkat cerita, Senandung Yoi! bertemu dengan band Velvet Hell dalam sebuah gig di Tasikmalaya. Dramer band tersebut rupanya menjalankan sebuah label independen bernama Stranger Records dan berminat merilis EP “Bergegas” milik Senandung Yoi!.
Format kaset dipilih karena juga memiliki kenangan yang cukup mendalam untuk masing-masing personel Senandung Yoi!, yang memang besar di era 90-an hingga awal 2000-an. Saat itu, kaset menjadi satu-satunya media yang mampu memperkenalkan mereka dengan musik yang jauh lebih luas, yang tidak terekspos oleh media besar di sekitar mereka saat itu.
“Maka dari itu, kami ingin sedikit bernostalgia, dan ingin para pendengar kami pun nantinya merasakan sensasi yang sama saat mendengarkan musik kami, seperti kami pada saat itu mendengarkan musik-musik favorit kami. Dan kami pun ingin menjadi salah satu band yang membangkitkan kembali era di mana rilisan fisik menjadi suatu ‘legalitas’ bagi sebuah band.”
Sejak pertengahan Oktober lalu, selain lewat kaset, EP “Bergegas” juga sudah bisa didengarkan di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, Amazon Music, Joox, Deezer, Bandcamp, Soundcloud dan YouTube. (mdy/MK01)