Satu lagi pejuang di ranah progressive metal mencoba meraih perhatian di skena musik independen. Di konsep musiknya, RVNTVH memadukan banyak aspek dari metal, hingga menciptakan musik yang ‘rusuh’, hasil kombinasi selera musik yang variatif. Gebrakan pertamanya – tak lama setelah resmi terbentuk di Yogyakarta – telah dimulai pada pertengahan 2020 lalu, lewat sebuah komposisi rilisan tunggal berjudul “Death’s Preparation”. Lantas agar lebih fokus pada komposisi musik, di penghujung 2020, mereka memutuskan untuk bergabung dengan label rekaman yang baru dibentuk, Fenix12 Records.
Ketika gelombang pandemi menyerbu lanskap kesehatan global dunia, RVNTVH memanfaatkannya untuk menulis dan menyempurnakan album debut mereka. Maret 2022, mereka memulai pra-produksi album bertajuk “Contemplation of the Void”, lalu berhasil merilisnya dalam format digital pada 9 Desember 2022 lalu.
Adalah Rabin Upakerti Rana (gitar/vokal), Arif Suhardi (gitar/vokal) dan Imam Wahyudi (gitar) yang lebih banyak berinteraksi saat menggodok materi-materi lagu di “Contemplation of the Void”. Tapi Rabin yang menjadi pencetus, sekaligus otak utama dari RVNTVH ‘mengemudikan’ bandnya dari Rotterdam, Belanda, negara tempat ia bermukim sekarang. Dengan melakukan obrolan di video via aplikasi Discord, ia pun lebih banyak berdiskusi mengenai peracikan musiknya bersama Arif dan Imam secara daring, untuk menganalisa, mengonsep dan meracik musik yang mereka tulis masing-masing. Termasuk karya Imam yang biasanya diserahkan dalam format yang sudah hampir jadi untuk dibahas lebih lanjut.
“Saya, Imam sama Rabin nulis lagu lewat software GuitarPro, dan setelah selesai kami kasih feedback bareng lewat voice call Discord. Karena jarak kami yang jauh, hanya aplikasi itu saja yang bisa kami gunakan karena ada fitur streaming desktop. Kurang lebih kayak Zoom atau Google Meet-lah, tapi lebih mulus,” tutur Arif kepada MUSIKERAS, mengungkap proses kreatifnya.
“Kami punya tiga penulis lagu; saya, Arif dan Imam dan dua penulis lirik, saya dan Arif. Rekaman pun (kami lakukan) sendiri dengan audio interface murah. Pada akhirnya, ada suatu waktu dimana saya pulang ke Indonesia untuk liburan dan Arif menginap bersama saya di rumah Bapak saya di Yogyakarta untuk sesi rekaman lanjut,” ujar Rabin menambahkan.
Progressive metal yang dieksplorasi RVNTVH, yang formasinya juga diperkuat Dennis Perkasa (bass) dan Rico Ahmad Noviandi (saksofon/flute/kibord), mencoba menerjemahkan kesadaran terhadap kesedihan. Menurut uraian Rabin, kebahagiaan itu tidak selalu ada di sisi semua orang, jadi terkadang seseorang harus menyadari bahwa hidup itu, ya seperti itu.
.
.
“Kami berusaha membawa elemen pengalaman personal ke musik kami, jadi yang orang dengar itu sebenarnya adalah isi hati kami. Secara musikal sendiri, kami banyak mendapatkan ilham dari musik progressive death metal modern, tapi lebih mengambil arah ke ambience daripada teknikalitas. Saya bukan pemain gitar yang baik, jadi saya lebih banyak menulis bagian gitar ambience daripada bagian gitar yang ‘njlimet’.”
“Seperti yang dikatakan Rabin,” Arif menimpali, “Kami mengambil pendekatan yang mengarah ke vibe daripada teknikalitas yang bisa memperkuat konsep awal album ini. Kalo ngomongin tentang referensi, pasti banyak dari band prog-metal lama kayak (band) Cynic, Opeth, dan yang lainnya. Tapi kami juga merhatiin yang baru-baru.”
Di “Contemplation of the Void” sendiri, RVNTVH melampiaskan sebanyak delapan komposisi yang rata-rata berdurasi lama. Dan bagi Rabin dan Arif, keduanya sepakat menyebut lagu yang berjudul “Animosity” yang berdurasi lebih dari enam menit serta “The Way of Sorrow” yang berdurasi hampir 23 menit sebagai komposisi yang paling menantang proses rekamannya.
“‘Animosity’ sendiri merupakan buah penulisan Arif yang lebih pintar menulis lagu teknikal daripada saya, jadi saya sangat keteteran hingga ke titik frustrasi di sesi rekaman lagu itu. Sedangkan untuk ‘The Way of Sorrow’, memang sebenarnya lagunya terlalu panjang, jadi dari awal memang susah dan banyak yang harus diingat,” urai Rabin terus-terang.
Bagi Arif, “Animosity” terbilang cukup sulit penulisannya sejak awal. Khususnya dalam memikirkan pengembangan idenya. Karena tadinya, lagu itu tercetus dari riff singkat yang kemudian dijadikan intro. “Terus aku kembangin jadi semacam lagu-lagu Cynic di bagian setelah intro. Campur aduk banget dah pokoknya lagu itu!”
Dengarkan keseluruhan trek yang menjadi amunisi “Contemplation of the Void” via berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, Deezer, Amazon Music, Joox, Bandcamp dan Youtube Music. (mdy/MK01)
.
.
Kayaknya kenal sama salah satu gitaris yang belakangnya Rana