Nuansa baru dihembuskan trio alternative rock asal Jakarta, Alpha Mortal Foxtrot di karya rilisan tunggal terbarunya yang bertajuk “The Pursuit of Emptiness”. Khususnya di lirik, yang tidak menyisipkan pesan sosial seperti biasanya. Kali ini, justru menggulirkan topik yang lebih personal, dengan kata-kata sederhana namun menunjukkan refleksi mendalam. Lagu yang liriknya ditulis oleh dramer Raiden Soedjono dan vokalis/gitaris Wiku Anindito terinspirasi dari hubungan masa lalu sang dramer.
“Kurang lebih merupakan memoir berbagai episode percintaan Raiden yang (mayoritas) ambyar dan berakhir pelik,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, terus-terang.
Walau tema yang disampaikan terkesan cheesy, namun menurut Wiku justru aspek itu membantu penyaluran emosi yang sejujurnya, dari masalah cinta tersebut. Ekspresi itu, lantas diperkuat dengan polesan musik yang sedikit-banyak masih menonjolkan karakteristik Alpha Mortal Foxtrot yang mengandalkan gema, atmosfirik, dengan overdrive berlapis-lapis, perubahan tempo yang konstan serta pola gebukan dram yang dinamis untuk menciptakan suasana yang berbeda di lagu-lagunya.
Tapi di “The Pursuit of Emptiness” yang berdurasi hampir enam menit, tak hanya pengaruh musik dari band alternatif era 90-an, yang diterapkan lewat pola riff gitar ala band Gin Blossoms dan Third Eye Blind, serta paduan nuansa ala Deafheaven. Namun juga ada inspirasi dari ‘Queen of Pop’ Madonna.
“Karena Wiku penggemar fanatik Madonna. Wiku yang pertama kali melontarkan ide untuk mengambil sensibilitas pop Madonna – terutama sebagai referensi di bagian reff. Hasilnya, kami cukup puas.”
.
.
Proses kreatif saat merekam “The Pursuit of Emptiness” sendiri berlangsung singkat. Raiden, Wiku dan gitaris Ricky Putra mengeksekusinya hanya dalam sebulan. Isian dram direkam di JBRC Studio, lalu vokal di Rekam Semesta oleh Wishnu Ikhsantama, sedangkan instrumen lainnya direkam di Suara Maju Studio. Selain ketiga personel Alpha Mortal Foxtrot, juga ada bantuan dari Mecko Kaunang selaku produser serta bassis Romy Sophiaan yang menyumbangkan betotan di register rendah.
Keseluruhan hasil rekaman lantas diserahkan kepada Stevano (Sembunyi Studio) untuk penataan suara (mixing), lalu dilanjutkan ke pelarasan suara (mastering) yang dipercayakan kepada John Davis (Metropolis Studio), engineer asal Inggris yang pernah menangani proses mastering untuk lagu-lagu artis dunia seperti Blur, The Killers, Lana Del Rey, Dua Lipa, U2, Gorillaz hingga Led Zeppelin.
Sejauh ini, setelah perilisan “The Pursuit of Emptiness”, para personel band yang resmi dieksiskan di skena musik independen Tanah Air pada 2019 lalu ini belum terpikirkan untuk menggarap album mini (EP) atau album penuh. Karena keduanya, ujar mereka, membutuhkan komitmen dan tekad yang konsisten.
“Dua hal yang sampai saat ini, sayangnya kami masih belum punya. Desakan dari kiri-kanan sebenarnya semakin intens. Doakan saja kami bisa menemukan tekad merilis EP atau album dalam waktu dekat. Untuk sementara, kami akan merilis single yang kami suka, yang bercerita hal yang kami alami sendiri. Kalau pun lagu kami tersebut diterima dengan baik oleh teman-teman, terima kasih banyak. Kalau pun tidak, kami menganggapnya sebagai pelepasan penat dan beban pikiran, ketimbang menulis di buku harian atau berceloteh di media sosial.”
Sebelum “The Pursuit of Emptiness” yang kini sudah bisa dilantangkan di berbagai platform digital, Alpha Mortal Foxtrot yang resmi dieksiskan di skena musik independen Tanah Air pada 2019 lalu, telah menghasilkan beberapa karya lagu rilisan tunggal, di antaranya berjudul “No One Will Talk About Us (No One Will Owe Us Anything)” dan “Spectrum”. (mdy/MK01)
.
.