Sebuah lagu rilisan tunggal bertajuk “Rajah Merah” mengawali agresi kegelisahan dan kemarahan band berpaham hardcore asal dari Kota Banjarnegara, Jawa Tengah ini. Di lagu tersebut, Nothing Rockstar menyorot kelakuan manusia dengan segala ambisi yang tiada habisnya, mengokupasi wilayah pikir maupun ruang hidup satu dan lainnya. Masing-masing membawa segenap jastifikasinya sendiri, yang kolot dan pantang membelot. Perangai berjamak, tamak menyeringai; merangkai satu-satu inersi perang yang imortal. Mereka dan kita kerap lupa, bahwa; yang harus diperangi ialah perangai dalam diri. Saat ego gagal berkomunikasi, nyalak api kontra terkastrasi.
“Sudah banyak guratan luka sejarah dengan jagal dan darah. Sudah cukupkanlah jika kebenaran harus diakhiri dengan persekusi. Cukup Syaikh Lemah Abang, genosida enam-lima, dan banyak tragedi kemanusiaan lainnya yang menjadi catatan dalam rajah merah duka sejarah. ‘Diwajibkan atas kamu berperang’ adalah pekerjaan rumah individu masing-masing, bukan perihal perang simetrik, melainkan perang dengan ego dan nafsu – yang ingin menguasai diri. Hidup ini perihal melawan diri sendiri, terus bertempur dengan otak dan hati,” papar pihak band via siaran pers resminya.
Namun pertempuran tersebut, lanjut mereka lagi, harus terus berjalan beriringan dengan setiap jengkal udara yang kita hirup, sekalipun perang itu merupakan sesuatu yang kita benci. Yang wajib dari diri adalah terus meretrospeksi, bukan menghakimi individu lain, apalagi melakukan persekusi. “Yang perlu kita lakukan pada hidup adalah menang terhadap diri sendiri, karena buat apa sebuah ‘kemenangan’ itu jika harus dilakukan dengan cara menghancurkan, melukai, atau mematikan kehidupan orang lain!”
Geliat Nothing Rockstar sendiri dimulai pada pertengahan 2015 silam, dimana Himawan Dwi Santoso (vokal) atau yang akrab dipanggil Iwa, ingin mendirikan sebuah band hardcore bersama Imam Ardi Syahputra (dram) atau yang kerap dipanggil Imam. Seiring berjalannya waktu, mereka menemukan seorang gitaris yang mereka dapati dari hasil pencarian mulut ke mulut, ia bernama Rammadhanial, atau Dhani.
Pada awalnya, perjalanan Nothing Rockstar hanya diperkuat mereka bertiga saja. Mereka kerap membawakan lagu-lagu dari band lain seperti Hatebreed, Madball hingga Serigala Malam. Beberapa panggung sudah dijejaki, sampai akhirnya pada akhir 2019, Nothing Rockstar memilih untuk rehat. Iwa dan Imam memilih untik berfokus pada pekerjaan mereka, lalu Dhani memilih untuk membuat sebuah proyek solo dengan genre pop-punk.
.
.
Namun pada akhir 2022, Nothing Rockstar dihidupkan kembali atas dasar gairah masing-masing personel yang ingin kembali bertemu sebagai sebuah band yang memiliki karya sendiri. Dan hasil dari pertemuan itu adalah “Rajah Merah”. Awal 2023 menjadi momen pertama kalinya mereka menapaki studio rekaman, meramu dan memasak “Rajah Merah” sebagai satu kesatuan bunyi yang harmonis dan patut untuk didengarkan.
Tapi sebelum lagu tersebut dirilis, mereka menyadari bahwa posisi bass harus diisi, maka dipilihlah seorang Hendry Devandra (dari Lost The Town, Spitout, dan The Vicious Alive) untuk melengkapi formasi.
Proses penciptaan lagu “Rajah Merah” dimulai dari Dhani yang membuat komposisi pada gitar terlebih dahulu sebagai kerangka lagu, yang kemudian direspon oleh Imam dan Iwa lewat sistem jamming, sesuai keinginan masing-masing sampai menemukan kesepakatan. Lagu tersebut direkam, mixing dan mastering di studio bernama The Noise Compound yang terletak di kota Wonosobo, Jawa Tengah. Jarak proses kreatif dari mulai Dhani membuat kerangka lagu, pembuatan lirik oleh Iwa, workshop hingga direkam di studio memakan waktu kurang lebih satu bulan lamanya. Keseluruhan proses pembuatan lagu saat itu belum melibatkan Hendry Devandra.
“Konsep hardcore pada musik yang Nothing Rockstar bawakan adalah, menggabungkan seluruh referensi musik yang dimiliki masing-masing personel menjadi satu kesatuan, sehingga tidak terpaku pada satu nuansa dan nafas tertentu. Dhani lebih condong kepada band seperti Black Sabbath, Seringai dan Serigala Malam. Iwa menggemari para punggawa hardcore lama seperti Madball, Hatebreed dan Final Attack. Sedangkan Imam, dari dulu sampai sekarang, masih berkiblat oleh sebuah band bernama Rise Of The Northstar. Dengan begitu, secara tidak langsung ‘Rajah Merah’ lahir sebagai satu entitas yang fluktuatif, serta beragam,” urai Nothing Rockstar kepada MUSIKERAS, merinci konsep musiknya.
Usai perilisan “Rajah Merah”, Nothing Rockstar terpicu untuk terus berkarya dan mulai meramu materi-materi lain untuk dirilis. Bahkan ada rencana pembuatan album mini (EP), dengan “Rajah Merah” sebagai salah satu amunisinya. “Beberapa lagu sudah masuk dalam proses workshop, namun, masih menunggu waktu yang tepat untuk merekam dan merilisnya menjadi sebuah EP,” seru mereka memberi bocoran.
Saat ini, “Rajah Merah” sudah dapat dilantangkan di berbagai platform musik, serta video lirik yang sudah ditayangkan pada platform YouTube. (aug/MK01)
.
.