GERGASI API Sempurnakan Benang Merah “Red Knight”

“Trilogi single sebelumnya, dan single ‘Awakening’ di album ‘Orphic’ (2021), masih berproses untuk mencari benang merahnya. Sudah ada, tapi masih belum terbentuk pusat yang jelas. Di album ‘Red Knight’, sudah sangat mengakar.” 

Pernyataan di atas menegaskan konsep musikal dari Gergasi Api, sebuah kolaborasi komposer Eky ‘Ekyno’ Novabrian dengan vokalis Alexandra J. Wuisan, yang semakin matang. Kedua musisi asal Bandung ini telah melampiaskannya di album debut yang bertajuk “Red Knight”. Karya rekaman yang juga diproduksi dalam format fisik (CD) via Lawless Jakarta Records tersebut telah diperdengarkan secara sah sejak 30 Maret 2023 lalu.

O ya, trilogi yang mereka maksud di kalimat tadi adalah lagu rilisan tunggal di 2021 lalu yang masing-masing berjudul “The Flames That We Shared”, “Red Knight” dan “The Ashes That We Shared”. Dua lagu yang disebutkan terakhir tidak lagi disertakan di album, walau “Red Knight” dipakai sebagai judul albumnya. Sementara “The Flames That We Shared” dikobarkan lagi dalam olahan aransemen orkestra, yang dieksekusi oleh Aghi Narrotama, seorang komposer musik film.

Kepada MUSIKERAS, Alexandra dan Ekyno mengakui mereka butuh pelecut ide yang bisa menginspirasi, saat menggodok materi album “Red Knight”. Lalu dari situ tersintesis dari rekaman-rekaman bibit pola kreasi terdahulu, menjadi sesuatu yang baru.

“Terdengar dari eksperimen sounds oleh Eky. Dan juga melalui pengalaman pencerahan mental, emosional dan stimulasi sounds, visual, sensasi lainnya yang dorongannya sangat kuat untuk menghasilkan musik dan lagu,” urai Alexandra merinci.

Jika harus menyimpulkannya dalam bahasa musik, Ekyno mendeskripsikan konsep yang mereka terapkan di “Red Knight” tersebut sebagai perjalanan bunyi lintas waktu. Agak sulit mencari penjelasan yang lebih representatif dalam bahasa Indonesia, sehingga Alexandra lebih senang menyimpulkannya sebagai; “the polarity of massive domed dark, angular and abrasive sounds clashed with sometime abrupt change of diaphanous to warrior cry vocals.”

Atau kira-kira bisa diartikan sebagai polaritas bunyi dalam gumpalan besar yang gelap, bersudut dan abrasif, yang berbenturan dengan manuver tak terduga dari suara hening menjadi teriakan yang ekspresif.

Memahami musik Gergasi Api sepertinya memang tidak bisa sekadar dijabarkan dalam tuturan kata-kata. Dua belas komposisi yang tercurah di “Red Knight” terdengar seperti berkubang dalam geliat rock yang berdistorsi – walau tidak pekat – yang kurang lebih dilumuri gestur shoegaze serta desain suara berhawa industrial. Jadi mendengarkannya adalah jalan terbaik untuk menyelaminya.

.

.

We want to keep the options and mystery out there. It’s much more liberating and exciting,” seru Alexandra meyakinkan.

“Ada harapan,” lanjut Alexandra lagi, “ketika seseorang mendengarkan Gergasi Api, pengalaman yang mereka dapatkan itu berhubungan dengan memori dan pengalaman mereka sendiri. Entah nostalgia atau sesuatu yang baru dan asing. Atau keduanya terjadi bersamaan. Hal ini dapat memberikan keintiman yang lebih dalam. Yang pasti, ketika mengerjakannya, terdapat banyak penemuan-penemuan tak terduga dari eksplorasi musik kami.”

Eksplorasi-eksplorasi tak terduga tersebut salah satunya tertuang di komposisi mereka yang berjudul “Altered State”. Lagu yang disebut Alexandra sebagai karya Ekyno keempat yang ia garap, namun berakhir jadi kurang lebih ke delapan.

“Kord-kord dan alur bagan yang diberikan Eky untuk setiap lagu hampir semua adalah tantangan. Because it’s not a freakin easy catchy tunes! It’s all sophisticated one, hahaha…. Tapi deal-nya saya harus membuat melodi yang cukup catchy, setidaknya di telinga kami berdua. Bisa terasa di perubahan genre atau mood di setiap bagan lagu yang sangat kontras.” 

Alexandra mengakui verse kedua adalah bagian yang tersulit, sehingga terjadi perombakan dimana Ekyno bebeberapa kali meminta Alexandra untuk mengulanginya. “Tentu, karena chemistry kami berdua sangat spot on. Biasanya yang terasa kurang sreg di saya, Eky juga langsung tahu. Begitu saya merasa mantap akan hasilnya, biasanya, baru oke.” 

Ekyno sendiri juga juga menunjuk “Altered State” sebagai karya yang membantu mereka menemukan arah yang diinginkan untuk musik Gergasi Api. “Sebuah proses pematangan konsep Gergasi Api mulai berjalan dengan memasukkan lebih banyak elemen suara atau bunyi dan perubahan bagan lagu yang lebih variatif pada lagu-lagu setelahnya.”

Sedikit menengok ke belakang, proyek Gergasi Api dimulai pada 2020 lalu. Ekyno sebelumnya telah memulai karirnya lewat band hardcore Full of Hate serta band industrial metal bernama Plum. Sementara Alexandra datang dari ‘kegelapan’ goth rock, yang sebelumnya ia hembuskan di band Sieve.  

Selain dalam format fisik, album “Red Knight” yang total berdurasi lebih dari 53 menit juga bisa dilantangkan via berbagai platform digital. (mdy/MK01) 

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
moose
Read More

MOOSE: Black Metal Atmosferik dan Melankolis

Lewat lagu debut “Valley of Whispers”, Moose menangkap kondisi mental yang terjebak dalam spiral pesimisme, dalam balutan black metal yang gelap dan melankolis.
morgia
Read More

MORGIA: Formasi Bertiga, Makin Eksperimental

Usai melewati masa krisis formasi, kini Morgia kembali menggeliat dengan meluncurkan lagu rilisan tunggal terbaru, yang lebih gelap, mekanis dan imersif.