Terlampiaskan sudah, upaya band rock industrial asal Bandung ini untuk menebus janji, yakni menuntaskan album penuh keempat mereka yang telah tertunda selama lebih dari dua windu. Pada 14 Mei 2023 lalu, Koil meluncurkan karya rekaman terbaru bertajuk “Pecandu N★rkotbah” sebagai pemanas jalan menuju perwujudan niat tersebut.
Geliat Koil untuk kembali berkegiatan di dapur rekaman sebenarnya sudah dijalani dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Mereka – JA Verdijantoro aka Otong (vokal), Donnijantoro (gitar), FX Adam Joswara aka Vladvamp dan Leon Ray Legoh (dram) – telah menelurkan dua seri karya rekaman kolektif dengan judul “First Installment” dan “Second Installment”, serta berbagai proyek opsional lain untuk para penggemarnya (baca: Koil Killer Klub).
Dimulai dengan mencetak format baru album monumental, “Blacklight”, merekam ulang “Lagu Hujan” dalam format album mini (EP) pada 22 Juli 2022 lalu, melahirkan versi remix “Tangga Pelangi” yang dieksekusi oleh Vladvamp dan dirilis dalam format digital serta piringan hitam 7 inch via Grimloc Records, hingga perilisan album rekaman konser bersejarah mereka di Sabuga.
Kehadiran “Pecandu N★rkotbah” menjadi bukti nyata, sekaligus jawaban dari banyaknya pertanyaan penggemar dan publik musik pada umumnya, terutama terkait eksistensi Koil di peta musik nasional.
“Pecandu N★rkotbah” sendiri sebenarnya juga bukan karya yang benar-benar baru. Sebelumnya pernah dikenalkan Koil melalui “First Installment” yang dilepas saat pandemi mulai melanda. Namun di luar rilisan fisiknya yang dicetak sangat terbatas, “Pecandu N★rkotbah” versi “First Installment” belum menemukan wujud aslinya secara utuh. Dengan kata lain, masih dalam bentuknya yang paling kasar, atau tepatnya berupa versi demo.
Otak di balik pembuatan lagu; Donnyjantoro menyebut “Pecandu N★rkotbah” sebagai kepingan atau puing-puing harta karun dari sisa-sisa penggarapan album ketiga Koil, “Blacklight Shines On”. Pondasi dari materi ini sudah diracik sejak 2005, namun kemudian dikristalkan karena satu dan lain hal.
“Sejak dibuat 18 tahun lalu, lagu ini sudah mengalami bongkar pasang aransemen berulang kali, sebelum akhirnya sampai ke versi seperti sekarang. Tapi mood-nya, sedikit banyaknya masih melingkar di range musik era ‘Blacklight Shines On’, namun tentunya dengan gaya yang berbeda,” serunya mengungkapkan.
.
.
“Mungkin (karena) kami juga banyak proyek musikal lain yang dikerjain, salah satunya Kubik, dan mungkin Otong baru nemu lirik yang pas setelah kami revisi (isian) dramnya, karena memang kalau sound dramnya udah dapat yang bagus, yang lainnya jadi mengalir aja. Makanya gua take ulang juga bassnya,” ucap Vladvamp kepada MUSIKERAS, menambahkan latar belakang masalah yang membuat penggarapan “Pecandu N★rkotbah” menjadi lama.
Sesungguhnya, lagu “Pecandu N★rkotbah” masih mengedepankan ciri khas yang kental akan identitas Koil selama ini. Berputar pada riff-riff dari kelokan sirkuit rock masa lampau yang mereka gemari dan bersentuhan dengan atmosfer gelap serta alur bass yang menari-nari, dengan bebunyian perkusif sebagai pemicu adrenalin untuk ber-headbang ria. Sisi lainnya, juga menawarkan aransemen yang lebih kompleks dibanding lagu mereka sebelumnya, dan tercatat sebagai lagu terkencang dari seluruh daftar katalog yang pernah Koil kenalkan sejauh ini.
Sementara pada departemen lirik, “Pecandu N★rkotbah” menawarkan sengatan larik menohok tentang fenomena kesalehan sosial. Tutur katanya sudah berbisa sejak verse pertama, ‘… Atas nama harta, atas nama cinta, atas nama setan berkedok agama yang menjanjikan surga…’. Tak ketinggalan, Otong yang selalu bertugas merajut lirik turut membubuhkan ciri khasnya dengan nukilan-nukilan humor menggelitik.
Dari apa yang disulam oleh Otong tersebut, “Pecandu N★rkotbah” berpotensi melahirkan friksi di sektor lirik. Urakan dengan pemilihan diksi pedas namun ada ruang yang seolah sengaja dibuat kosong untuk bahan perenungan bagi siapa saja yang mendengar. Sebuah permainan kata-kata yang bersifat paradoksal.
Satu hal yang perlu digarisbawahi, Otong mengaku memposisikan diri sebagai penggemar berat dari sosok yang menginspirasinya melahirkan lagu “Pecandu N★rkotbah”. Apa yang ia tulis bukan untuk menyerang. Ia hanya melihat fenomena tersebut, lalu mengubah bentuknya menjadi karya seni nan estetik. Sisanya, Otong mempersilahkan agar nilai dan maknanya diinterpretasi sebebas mungkin.
”Apa yang ditulis oleh Otong mungkin terkesan menohok dan kasar. Tapi faktanya fenomena tersebut adalah kenyataan yang juga kita lihat dan alami sehari-hari, bukan? Baik itu di media, media sosial, bahkan terjadi dan sangat dekat dengan lingkungan kita, di lingkaran pertemanan, bahkan hingga ke ruang lingkup keluarga,” ujar Leon Legoh mempertegas alasan di baliknya.
Bukan Koil namanya jika tidak memberikan kejutan dalam setiap rilisannya. Alih-alih hanya menawarkan satu lagu saja, “Pecandu N★rkotbah” justru dirilis dengan menyertakan banyak pilihan. Pada konteks ini, Koil memanjakan penantian publik lewat umbaran versi lain. Di luar lagu versi orisinil, “Pecandu N★rkotbah” juga terbagi ke dalam tujuh jurnal musik sebagai reinterpretasi ragam bentuk dan pendekatan bebunyian.
Ketujuh versi tersebut, di antaranya terkemas dalam tawaran nuansa gospel muram dan gelap yang digubah langsung oleh Vladvamp dengan judul “The Ghost Spell Evangelist”. Lalu ada versi remix berlatar drum and bass yang digarap oleh moniker sedarah mereka, Genesida, hingga deretan remix multitafsir lainnya yang melibatkan partisipasi organik dari kawan-kawan di luaran sana yang telah melewati kurasi super ketat dari Vladvamp. Nama-nama remixer yang terpilih itu adalah EfanEvanEpan, Kassaf dan Batu Besi Pasir.
Respon interpretasi yang mereka buat sangat unik dengan gaya pendekatan musikal yang agak mustahil disentuh oleh Koil, mulai dari funky kota hingga smooth jazz. Sedangkan sisa format lainnya adalah versi demo yang sebelumnya dikenalkan dalam rilisan “First Installement” serta nomor instrumental yang bisa dipakai untuk sesi berkaraoke. Percayalah, “Pecandu N★rkotbah” lebih dari sekadar kejutan.
Keseluruhan produksi rekaman “Pecandu N★rkotbah” sendiri dilakukan di The Old Ghost House, Bandung pada kuartal pertama 2023, dengan bantuan teknis dari Azthraal untuk penataan serta pelarasan suara (mixing dan mastering). Sementara untuk sampulnya, Koil mempercayakan kepada illustrator Patra Aditia, yang sebelumnya juga terlibat di produksi Komik Koil, “Dragonian Warriors” dan “Fallen Gods” pada 2017 silam.
Untuk album keempat, sejauh ini juga sudah ditetapkan garis merah eksplorasinya. Menurut Vladvamp, seluruh lagu yang sudah diperdengarkan versi kasarnya dalam dua rilisan ‘Installment’ sebelumnya akan digarap dan disempurnakan untuk kebutuhan album. Karena sesungguhnya, lagu-lagu tersebut masih terbilang versi demo, namun bakal menjadi collectible items sebagai rilisan b-sides dan rarities.
“Versi terbaru atau final nanti sudah pasti secara kualitas audionya lebih baik, dan pastinya bakal ada perubahan di semua sektor instrumennya. Untuk materi (album) sebenernya amunisi kami sudah cukup banyak, hanya proses penggarapannya dimulai dari apa yang sudah kami rilis di kedua installment karena beberapa lagu tersebut pun sudah pernah kami bawakan secara live. Otomatis untuk pengerjaan akan lebih cepat.”
Sekadar menyegarkan ingatan, Koil merupakan salah satu band pionir di kancah musik independen Kota Bandung. Memulai gebrakannya pada 1993 silam, dan sejak itu langsung konsisten menancapkan eksistensinya lewat berbagai deretan katalog rilisan. Dimulai dari EP “A Demo From Nowhere” (1994), lalu berlanjut ke album penuh debut, “Self-Titled” (1996). Menyusul setelahnya, atau tepatnya lima tahun kemudian, sophomore “Megaloblast” hadir dan meledak di pasar arus utama.
Mesin suara Koil semakin bergemuruh ketika merilis karya album rekaman “Blacklight Shines On” pada 2007, yang lantas berubah wujud menjadi “Blacklight” tiga tahun setelahnya, dengan berbagai tawaran format, bonus remix plus lagu baru. (mdy/MK01)
.
.