Pelantun modern metalcore asal Magelang, Jawa Tengah ini kembali hadir di panggung rekaman. Tapi berbeda dibanding lagu serta album sebelumnya, Fornicaras melakukan perombakan besar-besaran di konsep musiknya, khususnya dari segi materi dan visual. Fornicaras kini menyuguhkan metalcore yang lebih modern dengan unsur darksynth/cyberpunk yang cukup dominan lewat karya rilisan tunggal terbarunya, “Collide”.
Kehadiran Pradana Resa telah menyuntikkan warna baru dengan jangkauan (range) yang lebih luas. Potensi yang telah teridentifikasi sejak penggarapan rilisan lepas “Houses” pada 25 September 2022 lalu, yang menjadi kontribusi awal Pradana sebagai vokalis baru Fornicaras. Dengan kombinasi di formula baru ini, Fornicaras siap meneruskannya di karya-karya lagu rekaman mereka berikutnya.
O ya, Pradana sendiri secara resmi bergabung di Fornicaras pada 17 September 2022 lalu, menggantikan posisi yang ditinggalkan Hilman Zulmi, vokalis yang sudah berkiprah bersama Fornicaras sejak terbentuk pada 2013 silam.
Seluruh penggarapan “Collide” dikerjakan formasi Pradana, Fadel Diedo (gitar), Fani Sejati (gitar/clean vocal), Sapto Widodo (dram) dan Benandri Dwiki Saputra (bass) secara mandiri di Evolve Studios. Mulai proses rekaman, mixing, mastering, serta juga seluruh konten visual dan video klipnya. Proses itu dijalani dengan kondisi dimana para personel sudah memiliki pekerjaan di luar kegiatan band.
Fornicaras menyebut eksplorasi mereka di “Collide” dengan istilah Phase IV. Bagi mereka, Phase IV ini memberi tantangan tersendiri. Walaupun sesungguhnya, prosesnya terjadi secara organik. Karena kebetulan, Fadel Diedo adalah seorang produser musik, dan projek yang ia kerjakan selama dua tahun terakhir kebetulan berkutat dengan soundtrack untuk game-game indie yang bertemakan cyberpunk.
“Sementara untuk sisi visual, gitaris kedua kami, Fani (Sejati) adalah (seorang) desain grafis yang mengerjakan proyek-proyek dengan tema chrometype, Y2K serta artwork 3D futuristik. Dan dia juga menyukai konsep visual yang diusung grup K-Pop macam XG, MAVE, K/DA serta Aespa. Maka dia mencoba mengaplikasikannya untuk Phase IV ini. Kami pikir dari apa yang masing-masing kerjakan dari proyek pribadi, moodboard yang dihasilkan cocok, dan jika disatukan akan membentuk konsep yang kuat, unik dan bisa saling mendukung,” papar pihak Fornicaras kepada MUSIKERAS, menjelaskan lebih rinci.
Hasil dari potensi yang dibawa oleh Fadel dan Fani sudah bisa dilihat di video musik yang menemani promo “Collide” di YouTube. Konsep futuristik yang mereka suguhkan memvisualisasikan tentang pergolakan melawan diri sendiri, melawan ketergantungan pada hal buruk, dan keputusan-keputusan buruk lain yang kadang diambil karena dirasa lebih nyaman.
“Kami beri nama dua karakter (di video) tersebut Evo dan Ego. Evo adalah manusia seperti pada umumnya, dalam video menceritakan kalau dia berusaha keras untuk melawan egonya sendiri yang kami simbolkan dengan sisi hitam dirinya. Ego kami gambarkan lebih kuat dari Evo. Dengan susah payah Evo berusaha untuk menang atas dirinya sendiri. Karena menurut kami, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Latar dan konsep visual yang dibuat futuristik ditujukan untuk memperkuat konsep musik yang kami usung di Phase IV ini.”
.
.
Dengan latar belakang tadi, metalcore modern yang diterapkan Fornicaras pun akhirnya menjadi lebih kompleks dan juga terdengar futuristik dibanding sebelumnya. Karena kali ini, mereka lebih mengedepankan sequencer dan tidak lagi berfokus pada riff-riff rumit yang cepat dan intens.
“Kami mencoba meracik metalcore dengan kord dan riff yang sederhana dan menyenangkan jika dimainkan, tetapi tidak meninggalkan unsur intens dan heavy-nya. Referensi terbesar untuk ‘Collide’ serta beberapa materi ke depan adalah (datang) dari beberapa produser game soundtrack seperti David Levy dan Mick Gordon. Referensi lain yang mempengaruhi arah musik kami ke depan, mungkin bisa juga (dari) Northlane dan Void Of Vision yang mengusung metalcore dengan darksynth yang kental.”
Sebenarnya, keputusan untuk langsung bergeser ke konsep Phase IV sudah terlintas di benak para personel Fornicaras sejak penggarapan “Houses”. Saat itu, mereka sudah merasakan bahwa musik yang diterapkan di Phase III kurang cocok dengan karakter vokal Pradana.
“Materi Phase IV ini adalah solusi dan jalan tengah bagi kenyamanan semua personel. Materi ‘Collide’ juga sebenarnya ditulis lebih dulu sebelum kami menulis ‘Houses’, tapi kami memutuskan untuk menutup Phase III dengan ‘Houses’ terlebih dahulu sebelum mengganti seluruh konsep.”
Untuk melanjutkan momentum Phase IV, saat ini Fornicaras sudah mengantongi beberapa materi yang hampir selesai digarap. Jika segalanya berlangsung lancar, mereka akan rutin merilis lagu tunggal untuk beberapa bulan ke depan, yang pada akhirnya bakal menuju ke album.
Sejak terbentuk, Fornicaras telah menghasilkan album “Unvorsum” (2014) dan “Persona” (2019), serta lagu rilisan tunggal berjudul “Recreant” (2020) dan “Houses”. “Collide” sendiri sudah bisa dinikmati via berbagai platform digital streaming sejak 29 Mei 2023 lalu. (mdy/MK01)
.
.
1 comment