Di Balik Kelahiran EVARTS dan “The Saint’s Penance”

Kejenuhan lantaran tidak adanya aktivitas akibat tekanan pandemi, menjadi pemicu lahirnya unit melodic hardcore asal Purworejo, Jawa Tengah ini. Secara resmi dibentuk pada Oktober 2020 lalu. Berawal dari para personelnya yang sedang menempuh kuliah ‘pulang kampung’, dan menjadi momen reuni mereka. Kebetulan di antaranya ada yang sudah berteman sejak di bangku SMP dan SMA.

Nah, pada saat itulah tercetus gagasan untuk membentuk band bernama Evarts sebagai wahana berkarya di masa pandemi. “Kejenuhan mulai terasa di beberapa personel yang aktvitasnya terhenti, sehingga menginisiasi terbentuknya Evarts untuk mengisi waktu luang,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, mempertegas.

Ternyata, ikatan rasa di antara Aditya Putra Pratama (vokal), Candra Edi (gitar), Fauzi Dimas Sofyan (gitar), Adhitya Priyadhani (bass) dan Fiqi Afarizqi (dram) terus terjalin hingga sekarang, dan malah semakin solid. Bahkan pada 29 Juni 2023 lalu, Evarts berhasil melampiaskan sebuah karya album mini (EP) debut bertajuk “The Saint’s Penance” via sebuah label independen asal Surakarta, Outtasight Records.

Belum lama ini, tepatnya pada 8 Juli lalu, mereka juga telah meluncurkan sebuah video musik untuk salah satu lagu dari EP tersebut, yakni “Until The Sun Is Cold”, dimana Evarts menggarapnya secara independen bersama rumah produksi Rejeki Studio. 

Pemilihan “Until The Sun Is Cold” untuk divisualisasikan didasari pada komposisi serta aransemen lagu yang mereka sebut cukup kompleks. Selain itu, pesan di liriknya juga sangat dekat pada realita kehidupan sehari-hari para personel Evarts. Membicarakan sebuah penderitaan pada fakta yang tidak sesuai ekspektasi. Segala hal dari pengorbanan, perjuangan, dan ambisi dipatahkan oleh fakta yang mengerikan sehingga sampai pada titik sudah tidak dapat bangkit dan semua ambisi yang telah mati. Semua itu ada saat dimana orang dihadapkan pada kondisi yang tidak diinginkan namun harus menerima dan berkorban pada hal yang diinginkan.

“Lagu ini saya dedikasikan untuk kalian yang masih berusaha menggapai apa yang kalian inginkan, dan masih saja gagal. Lagu ini saya buat bersama teman-teman band sebagai bahan refleksi kehidupan usia seperempat abad yang penuh dengan rintangan dan hambatan,” seru Aditya Putra Pratama yang menulis liriknya, meyakinkan.

Evarts sendiri memutuskan untuk mulai menggarap EP perdananya tak lama setelah merilis karya tunggal berjudul “Set In Vain” pada 24 Juli 2021. Proses bertukar pikiran dari beberapa personel lalu membuahkan karya demi karya. Perbedaan selera musik tidak menutup kreatifitas mereka untuk tetap berkarya.

“Beberapa kendala tidak menjadikan kami patah semangat untuk tetap terus berkarya. Keterbatasan ruang dan waktu menjadi salah satu kendala paling signifikan. Ketika masa pandemi selesai, semua harus kembali ke tanah perantauan untuk melanjutkan studi dan kerja. Beberapa sudah kembali ke Yogyakarta, Semarang dan Jakarta,” ujar Evarts membeberkan tahapan awal proses kreatifnya. 

Domisili yang terpisah jarak dan waktu memaksa Evarts menerapkan beberapa strategi, di antaranya dengan memaksimalkan teknologi untuk mengakomodasi kendala tersebut. Mereka membahas materi demi materi via aplikasi Zoom atau Google Meet. Lalu mereka juga melakukan pembagian tugas agar lebih efisien. Untuk penulisan lirik dan musik, dipercayakan sepenuhnya kepada Aditya, Candra dan Fauzi, dan dilakukan di rumah Fauzi, di sela kesibukan mengerjakan tugas kuliah. Sementara untuk perancangan visual, merchandise serta pengelolaan media sosial serta pemasaran diserahkan kepada bassis Adhitya dan dramer Fiqi.

“The Saint’s Penance” yang juga memuat lagu berjudul “Deep Blue”, “Deviated”, “Let Me Take A Breath” dan “Animadvert” digarap Evarts selama kurang lebih setahun. Terbilang sangat lama lantaran terbentur kendala yang sudah dijelaskan tadi. Proses rekaman dieksekusi di Purworejo, tepatnya di Rumah Rejeki Studio dengan bantuan Fahmi Aziz, gitaris band deathgrind, Predator sebagai operator, juru teknis sekaligus memoles mixing dan mastering.

Dari segi musikal, “The Saint’s Penance” menonjolkan paham melodic hardcore dengan sisi progresif yang kental, dan dimana karakter vokalis menjadi identitas yang kuat untuk Evarts. Evarts memainkan hardcore punk yang cepat, dengan paduan pemilihan kord gitar yang manis, melodius dan sesekali meyelipkan chorus yang enteng diserap kuping. Di beberapa bagian juga ada selipan patahan breakdown yang berat. Sementara di lini vokal, ada eksplorasi emosional dari tiap lagu yang menghadirkan raungan fry scream, yang diyakini membuat semua yang mendengarkan bakal ikut hanyut dalam emosi dari lagu yang dibawakan.

Dalam proses penggarapannya, para personel Evarts banyak menyerap pengaruh dan inspirasi dari band-band cadas modern dunia seperti Counterparts, Knocked Loose, No Bragging Rights, Stasis hingga Bring Me the Horizon era album “Suicide Season” (2008) dan “There Is a Hell Believe Me I’ve Seen It. There Is a Heaven Let’s Keep It a Secret” (2010). Juga ide-ide dari beberapa serial film di kanal Netflix.

Sebelum merilis “The Saint’s Penance”, Evarts sempat menjalani beberapa rangkaian tur. Pada awal 2022, Evarts melakoni tur “To Live And Drive In” di Semarang, Malang dan Solo. Kemudian pada akhir 2022, Evarts berkolaborasi dengan band asal Jakarta, Hollykillers dan Tore Up untuk tur “Post Disastour” yang digelar di kota Semarang, Wonosobo dan Purworejo.

EP “The Saint’s Penance” yang berdurasi total 15 menit dirilis secara digital di berbagai platform streaming, serta dalam format kaset yang diproduksi oleh Outtasight Record di Surakarta. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.