Selebrasi lima tahun agresi cadas Taruk dirayakan dengan melontarkan lagu rilisan tunggal bertajuk “Bersulang sampai Mati”. Karya yang merangkum musikalitas metal/hardcore asal Bandung ini sejak awal berdiri pada 2 Januari 2018 lalu. Sekaligus, memperkenalkan tambahan amunisi di formasi mereka, di mana kini ada gitaris baru, Novriansyah alias Rian melengkapi kekuatan yang sudah dibangun oleh Karel (vokal), Bobby Agung Prasetyo (gitar), Muhammad Zulyadri Rakhman aka Boy (bass) dan Muhammad Matin Mahran aka Adul (dram).

Meski masih mengedepankan konsep yang tak jauh berbeda dibanding materi terdahulu, “Bersulang sampai Mati” yang sudah dihadirkan secara resmi di berbagai platform digital sejak 1 September 2023 lalu, hadir dengan kekuatan instrumen lebih baik, dengan adanya penyokong tenaga baru di departemen gitar.

“(Rian) Mengisi kekosongan gitar yang selama ini hanya satu, sekaligus mengisi peran lead. Dengan kebutuhan musikalitas Taruk yang semakin kompleks, keberadaan Rian sebagai lead guitarist dengan tekniknya yang mumpuni bakal sangat membantu revolusi musik Taruk di masa depan,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, menerangkan kekuatan barunya.

“Bersulang sampai Mati” merupakan selebrasi Taruk atas warna musik yang diusung selama ini, terlihat jelas pada lagu serta liriknya. Unsur-unsur d-beat klasik, hardcore punk hura-hura, dan nyanyian berbasis lirik serampangan, terasa amat melekat.

“Secara makna, ‘Bersulang sampai Mati’ adalah ekstraksi dari frasa Carpe Diem atau ‘petiklah hari’. Intinya hidupilah hari ini sampai titik maksimal, raih apa yang seharusnya milik kita, dan rayakan kemenangan sekecil apapun itu,” ujar Bobby sedikit berfilosofi.

Eksis sejak lima tahun silam, tenaga Taruk yang terekam dalam musiknya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendengar. “Bersulang sampai Mati” pastinya tetap menawarkan energi serupa layaknya nomor-nomor di EP “Sumpal” hingga “Bara dalam Lebam”.

“Karena kami banyak tumbuh dengan musik cepat nan intens, membawa ‘Bersulang sampai Mati’ ke nuansa seperti materi-materi awal terbentuk. Lugas dan tanpa basa-basi. Namun, dengan pengemasan lebih tegas juga atmosfer riuh rendahnya begitu kentara,” imbuh Karel.

Wacana soal laju musik Taruk ke arah yang lebih modern dan kompleks, tentu perlu didukung dengan tenaga tambahan juga. Hal itulah yang membuat Taruk memutuskan untuk mengajak Rian sebagai gitaris sejak akhir 2021.

Proses menggodok materi baru berlangsung di tengah kesibukan sejumlah panggung yang cukup padat sepanjang 2022. Rekamannya sendiri berlangsung selama Mei 2023, dieksekusi di Funhouse Studio serta Southside Chamber dengan arahan teknis masing-masing dari Edo Djatmika dan Ihsan Akbar. Lalu ada pula kontribusi ilustrasi sampul (artwork) dari Anggi Bayu Nugraha.

Yang menarik, referensi musik Taruk kali ini lebih variatif dengan pengaruh paham modern metal serta sentuhan progresif di beberapa bagian lagu, sehingga komposisinya semakin kompleks, namun tetap mudah dinikmati.

“Musik Taruk yang sekarang akan terdengar lebih tajam di telinga,” tutur Rian menegaskan.

Jika “Bersulang sampai Mati” adalah rangkuman musikalitas Taruk dengan sentuhan gitar megah ala Rian, maka materi-materi terbaru mereka nanti dijanjikan akan hadir lebih berbeda, meski benang merahnya tetap hardcore punk/metal.

“Berangkat dari selera musik dan referensi tiap personel yang berbeda, maka akan selalu ada hal baru pula nantinya. Pada single terbaru ‘Bersulang sampai Mati’, saya memasukkan ketukan beat dram ala Motorhead, Discharge, hingga breakdown model metallic hardcore H8000 agar terdengar lebih tegas dan membuat arena mosh pit semakin liar,” seru Adul, menimpali.

Hal senada turut diucapkan oleh Boy. Selain faktor hadirnya gitaris tambahan, ia menyebut ada pendewasaan bermusik masing-masing kepala yang terus berkembang dari waktu ke waktu. “‘Bersulang Sampai Mati’ adalah tanda dimulainya, dan ke depannya, kami akan memainkan warna baru, sesuatu yang belum pernah Taruk mainkan. Mungkin….”

Nama Taruk, diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti ‘pukul’ atau ‘hantam’. Sejak awal, musik Taruk memang sudah berkutat pada eksperimentasi hardcore punk dan metal. Inspirasi besarnya datang dari band-band dunia – khususnya dari AS dan Swedia – seperti DS-13, Converge, Dissection, Entombed, From Ashes Rises hingga Motley Crue.

Sementara di lirik lagu, Taruk merupakan respons atas teori absurditas, tiga tingkat kesadaran manusia, hingga konsep kebebasan. Mereka ingin menyampaikan pesan bahwa kehidupan, segelap apa pun itu, harus mampu dijalani.

Kehadiran Taruk pada akhir 2018 lewat lagu tunggal “Berapi-api” mendapat respons positif dari penikmat musik Indonesia. Euforia metalhead kian memanas usai perilisan digital EP “Sumpal” pada Februari 2019, disusul versi fisiknya oleh label Soundvision pada Agustus 2019. Akhir 2020, Taruk sempat berkontribusi di kompilasi terbaru Grimloc, yakni “Dasawarsa Kebisingan” lewat lagu bertajuk “Pesta Durga, Kegilaan Takkan Pernah Berakhir”. Lantas pada 2 Maret 2021, Taruk meluncurkan album perdana bertajuk “Bara dalam Lebam” via Grimloc Records.

Lewat album tersebut, Taruk mengukuhkan dirinya sebagai unit hardcore metal/punk yang solid dari segi musikalitas. Proses pendewasaan hingga eksplorasi, melaju secara signifikan dan mengantarkan Taruk menuju tahap selanjutnya. (mdy/MK01)

.

.