PORT MORESBY Ekspresikan Hidup di Jalan Garage Rock

Makna reflektif kehidupan melalui proses mengalami dan memahami secara mendalam yang disampaikan lewat dua karya rilisan lepas, yaitu “Random and Repeat” dan “Livin’ in Upside Down” kembali dilanjutkan rangkaiannya oleh pejuang garage rock asal Yogyakarta ini. 

Bingung dan resah. Itulah dua kata yang bisa merangkum cerita di dalam dua lagu rilisan 2022 tadi. Lalu, berangkat dari sana, Port Moresby meramu respon lanjutan dengan kembali membuahkan dua lagu baru tahun ini, masing-masing bertajuk “Ruthless” dan “You Lose I Win”, yang telah dikumandangkan pada 22 September 2023.

Port Moresby kali ini merespon proses perjalanan kehidupan yang bisa jadi sangat panjang jalannya. Melalui perjalanan inilah, manusia selalu dihadirkan dengan beragam emosi, pengalaman-pengalaman baru atau pengulangannya, dan orang-orang yang menjalaninya bersama. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi persoalan-persoalan itulah yang menentukan ke mana arah perjalanan selanjutnya. Apakah menuju pada keterpurukan, melewati jalur keindahan yang fana atau mengantarkan pada keabadian? Pertanyaan- pertanyaan itulah yang berusaha dieksplorasi oleh Port Moresby, yang sekaligus menandai perjalanan awal dari apa yang akan mereka hadirkan dalam waktu dekat. 

Dari sisi visualisasi ilustrasi (artwork) lagunya pun, Port Moresby seperti memberi tanda tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Simbol mata sepertinya mengisyaratkan sebuah pencarian. Pencarian terakhir (the last) serta pencarian yang tidak diketahui (the unknown).

Berbicara mengenai proses kreatifnya, Port Moresby masih menerapkan semangat do-it-yourself (DIY). Perihal lirik, dua lagu kali ini masing-masing ditulis oleh Khusnudhoni ‘Joni’ Hendra (vokal/bass) dan Harits Muhammad (gitar). Lalu untaian kata-kata itu digagahi dengan aransemen khas racikan seluruh personel, yang juga diperkuat Faraaj Andi (gitar) dan Stevano ‘Vano’ Wicaksono (dram). Pengolahan mixing dan mastering juga dilakukan oleh Faraaj.

Lebih jauh tentang proses kreatif di balik penggarapan “Ruthless” dan “You Lose I Win”, berikut penjelasan panjang-lebar dari Port Moresby yang disampaikan khusus buat pembaca MUSIKERAS:

https://open.spotify.com/track/0A4mPnifdvOSZw74ZGOlzG

Dari segi musikal, bagaimana kalian mendeskripsikan konsep musik yang diterapkan di “Ruthless” dan “You Lose I Win”?

PM: Konsep musik dari kedua single kami “Ruthless” dan “You Lose I Win” masih membawa energi era-era garage rock revival / post-punk revival pada awal 2000-an, sebagaimana pada kala itu sempat dipopulerkan oleh nama-nama seperti The Strokes, The Hives, Jack White (The White Stripes dan The Racounteurs), The Vines dan terakhir Arctic Monkeys, khususnya di album debut “Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not”.

Dari segi komposisi musiknya jelas: adalah vokal; dram; bass; dan dua gitar yang saling beradu rhythm dan lead. Sedikit melanjutkan mengenai adu rhythm dan lead ini, dalam kedua lagu ini, Faraaj dan Harits memiliki porsinya masing-masing untuk menentukan kapan mereka bermain lead. Begitu pula sebaliknya.

Sebagai contoh di “Ruthless”, teman-teman akan mendengarkan lead pertama yang dipimpin oleh Faraaj, sedangkan pada ending, estafet kepemimpian lead dilempar ke tangan Harits. Lanjut pada “You Lose I Win”, adalah sebaliknya. Yah, pengennya sih berharap seperti (gitaris The Strokes) Nick Valensi dan Albert Hammond Jr. yaa. Semoga besok bisa kesampaian seperti mereka beneran.

Sedangkan untuk bass tentunya cukup menggunakan pola yang sederhana, mengingat selagi Joni memainkan bassline, dia juga yang harus memimpin vokal lagu kami. Tapi jangan salah, menurut kami, bassline “You Lose I Win” sudah cukup membuat fokus Joni mentok mengingat line-nya yang cukup kompleks untuk ukuran pemain bass yang disambi bernyanyi. 

Untuk dram, gebukan Vano menurut kami tentu menjadi indikator mutlak dalam menentukan energi lagu. Dan Vano sendiri memilih lagu ini dengan energi yang maksimal. Kata ‘punchy’, ‘menggelegar’ dan ‘besar’ semoga cukup untuk mendeskripsikan outro baik dari “Ruthless” dan “You Lose I Win”. Oiya, karena saking ‘besar’-nya outro “You Lose I Win”, kami kerap menyebut part itu sebagai part ‘mahabesar’… hehehe. 

Terakhir adalah vokal. Biasanya kami memang selalu bersama-sama dalam menentukan nada vokal manakah yang tepat untuk diposisikan dalam aransemen lagu kami. Seperti “You Lose I Win”, kami membuat bersama-sama di studio dengan lirik yang telah diciptakan secara matang dan sempurna oleh Harits. Begitu juga “Ruthless”, itu kami buat di kamar Joni, seingat kami malam sebelum kami rekaman take vokal. Ya, benar, sebelum rekaman take vokal, seperti (Anthony) Kiedis (vokalis Red Hot Chili Peppers) yang menulis liriknya sesaat sebelum take, sumber dari Lord (produser) Rick Rubin. Untuk lirik keduanya sendiri, itu adalah hasil penulisan Joni dan Harits yang berangkat dari pengalaman pribadinya. “Ruthless” dari Joni dan “You Lose” dari Harits. 

Apakah ada terapan yang berbeda jika dibandingkan dengan dua karya sebelumnya?

PM: Apa yang menjadi perbedaan musik baru kami dengan yang sebelumnya, “Random and Repeat” dan “Livin In’ Upside Down” sebenarnya tidak terlalu banyak. Hanya saja masalah waktu dan mungkin biaya. Jika sebelumnya kedua single tersebut diproses baik dari produksi, mixing dan mastering oleh Yuda Hasfari Sagala (Mas Bable) dari Watchtower Records, Yogyakarta. Nah, karena waktu dan budget yang terbatas, untuk kali ini, keseluruhan lagu baru kami mulai dari produksi, mixing hingga mastering adalah dari kami sendiri. Direkam di rumah Joni – beberapa di garasi rumah Joni biar bener-bener band garage banget- diproses hingga memakan waktu sekitar delapan bulan, untuk kemudian dua lagu ini menjadi siap dirilis, sebagaimana sekarang ini.

Saat meracik komposisi dan aransemen “Ruthless” dan “You Lose I Win”, kali ini dari mana saja referensi musiknya?

PM: Melanjutkan apa yang telah kami jelaskan di atas, Port Moresby membawa energi Garage Rock Revival untuk kemudian dimasukkan ke dalam penampilan maupun lagunya. Proses penciptaan “Ruthless” berbasis pada referensi-referensi seperti lagu-lagu milik Jack White bersama The Racounteurs dan album debut Arctic Monkeys. Bagi kami album debut tersebut adalah absolute masterpiece.

Penciptaan “Ruthless” diawali dengan riff gitar utama dari Faraaj yang kemudian diikuti oleh bassline dari Joni, drumline dari Vano dan selingan rhythm hingga lead outro akhir dari Harits. 

Selanjutnya pada “You Lose I Win”, inisiator utamanya adalah Harits, si (pengguna gitar) Jaguar. “Awalnya adalah perjalanan pulang, nggak sengaja humming reff-reff yang random dan akhirnya kepikiran hasil humming tersebut jadi nada rhythm-nya ‘You Lose’. Sedangkan untuk isian bending lead yang berada di awal hingga ke tengah lagu, itu jelas terinspirasi dari ‘Shine on You Crazy Diamond’-nya si master David Gilmour dari Pink Floyd. Ada juga beberapa yang dari John Frusciante (Red Hot Chili Peppers), kayak (di lagu) ’Californication’. Itu simpel tapi gagah, catchy, embracing the simplicity banget.”

Kemudian untuk proses penciptaan sound-design dalam mixing dan mastering, kami mengambil bebeberapa referensi, seperti tentunya dari album debut Arctic Monkeys, album debut band punk cadas Inggris, Bad Nerves yang self-titled, album “Terrible Human Beings” dari The Orwells, dan sedikit menggunakan secuil referensi dari album “GB City” milik Bass Drum of Death. Dengan berbagai referensi tersebut mungkin akan cukup pusing dari si tukang 

mixing kami, Faraaj untuk menentukan bagaimana jalannya lagu, karena akan susah juga jika ia adalah anggota band yang sekaligus berkecimpung dalam pembuatan lagu. Maka dari itu, dengan berbagai referensi yang dipakai, hasil dari “Ruthless” dan “You Lose I Win” dapat dianggap perkawinan silang antar sumber-sumber referensi tersebut. 

Mengapa kalian selalu merilis dua single sekaligus? 

PM: Sejujurnya tidak ada alasan spesifik dari kami dalam merilis dua single sekaligus. Kami hanya berpikir, mungkin akan lebih efektif dari kami jika langsung mengeluarkan dua lagu. Begitu pula dengan para pendengar, mungkin akan lebih marem dan josjis dalam experience-nya dalam menikmati dua lagu sekaligus. 

Usai perilisan “Ruthless” dan “You Lose I Win”, apakah ada rencana disatukan dalam pembuatan album mini (EP) atau album? 

Yes, rilisan kedua single ini memang sebagai awal mula pengenalan atau bridging ke album debut kami. Sejauh ini, kami sudah menyiapkan total tujuh lagu, termasuk “Ruthless dan “You Lose I Win”. Enam lagu sudah selesai dalam proses rekaman dan sedang dalam proses mixing-mastering. Sejauh ini, kami berencana untuk meriliskan album debut tersebut pada akhir tahun atau awal 2024 mendatang. Yah, semoga semuanya dapat dilancarkan ya. Stay tune, fren!  (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
metyr
Read More

METYR: Paduan Post-Black dan Blackgaze

Tiga lagu diguyurkan Metyr sekaligus lewat album debut (EP) self-titled yang sarat paduan elemen post-black metal, shoegaze dan post-rock yang atmosferik.
side.b
Read More

SIDE.B: Mendaur Ulang Semangat THIRTEEN

Sebuah ajang nostalgia diwujudkan band baru, SIDE.B lewat reinterpretasi lagu lama band Thirteen, dengan aransemen, energi dan perspektif yang berbeda.
violentia
Read More

VIOLENTIA: Kasar, Bising dan Kacau

Sebuah album mini (EP) debut, “V.I” (dibaca: V-one/satu) akhirnya dikoarkan Violentia setelah tertunda cukup lama, disulut kobaran hardcore/metal yang bengis.