Stepforward menandai kelanjutan dari tiga dekade usia perjalanannya lewat sebuah rilisan EP terbaru bertajuk “Tak Pernah Mati”, tepat 30 Agustus 2026 lalu.
Pengembaraan panjang yang dimulai pada 25 November 1995 silam, yang sarat perubahan, kehilangan, perlawanan hingga alasan untuk terus berdiri.
Kini, unit hardcore legendaris asal Jakarta ini diperkuat formasi baru, yang telah diperkenalkan sejak peluncuran lagu rilisan tunggal terbaru, juga bertajuk “Tak Pernah Mati” pada 7 Juli 2026 lalu.
Di lini vokal, masih ada Jennifer Jill van Diest (Jill), dramer Fajar Arifan serta bassis Junas Mirardiarsyah dan gitaris Roma Sophiaan.
Bagi band yang sebelumnya juga digerakkan oleh mendiang Ricky Siahaan (juga gitaris Seringai) ini, “Tak Pernah Mati” bukan sekadar judul lagu atau EP.
Ia adalah pernyataan.
Sebuah keyakinan bahwa apa yang pernah dibangun, diperjuangkan dan dipercaya, tidak begitu saja hilang oleh waktu. Musik hardcore mungkin berubah. Orang-orang datang dan pergi. Generasi berganti.
Tetapi energi, semangat, dan suara yang menjadi alasan Stepforward berdiri sejak awal tetap menemukan jalannya untuk hidup kembali,” tutur Junas Miradiarsyah mengungkapkan.
Setelah lagu “Tak Pernah Mati” membuka pintu menuju babak baru, EP ini akan menjadi langkah Stepforward berikutnya. Bukan nostalgia terhadap masa lalu, melainkan sebuah cara untuk membawa semangat tersebut ke hari ini.
Bagi Stepforward, usia 30 tahun bukan alasan untuk berhenti atau sekadar merayakan apa yang sudah lewat. Justru sebaliknya, ini adalah pengingat bahwa perjalanan mereka belum selesai.
“It’s been a long way for hardcore scene, dari tahun 1995. Hiatusnya Stepforward membuat kami perlu kembali warm up untuk kembali ke scene,” seru Fajar Arifan kepada MUSIKERAS.
Menurut sang dramer, musisi-musisi sekarang jauh lebih sophisticated, namun di sisi lain semakin solid membangun scene. Untungnya beberapa teman-teman musisi dari era mereka banyak memberikan dukungan kepada Stepforward untuk kembali berkarya.
“Dan itu merupakan salah satu bensin kami menyelesaikan EP ini. Kami tidak sabar untuk bisa involve kembali di scene hardcore Indonesia!”
In Your Face
Masih dalam urusan peracikan musiknya, rekaman EP ini tetap mencoba menjaga pakem dari demo yang direkam bersama Ricky Siahaan.
Saat itu, Ricky mengeksplorasi karakter Stepforward sedikit di luar pakem sebelumnya. Sedikit banyak memasukkan beberapa unsur shoegaze, Swedish metal serta punk.
“Namun secara teknis, Stepforward mencoba mengaplikasikan pengaruh musik tiap personel hingga 2026, tanpa keluar dari core sound Ricky. Roma menambahkan beberapa elemen yang melengkapi perjalanan musikal lagu di EP ini secara sound dan aransmen,” papar Fajar.
Jujur, lanjut Fajar lagi, mereka tidak terlalu banyak memasukkan elemen baru dalam sisi aransmen. Tapi di lagu ‘Perempuan’, aransemen dibuat menjadi lebih tight dan in your face.
“Karena menurut kami, versi aslinya cukup kompleks. Overall aransemen masih 100% sesuai yang dibuat bersama Ricky karena Stepforward ingin legacy beliau terasa di EP ini.”
Sementara dari sisi terapan teknik vokal, khusus bagi Jill, ia menemukan sedikit tantangan di lagu “Forever Stand Undivided”. Alasannya, lirik yang padat dan panjang.
“Perlu sedikit teknik mengambil napas yang thankfully, sangat terbantu dengan teknologi rekaman masa kini,” serunya sambil tertawa.
EP “Tak Pernah Mati” sendiri memuat lima amunisi lagu, dimana tiga di antaranya merupakan lagu baru yang belum pernah direkam atau dirilis sebelumnya bersama mendiang gitaris Ricky Siahaan.
Ketiganya berjudul “Angkara”, “Tak Pernah Mati” dan “Camkan Memarku”.
Sementara dua lagu lainnya, “Forever Stand Undivided” dan “Perempuan” adalah versi rekam ulang sekaligus aransemen baru dari album debut “Stories of Undying Hope” yang rilis dalam format kaset pada 2003.
Di album itu, juga menandai kontribusi serta pengaruh musikal dari Junas dan Fajar yang baru bergabung di Stepforward pada periode 2003-2004.
Keseluruhan materi lagu di EP “Tak Pernah Mati” direkam di Studio Dexter, Jakarta bersama penata teknis rekaman, Heston Prasetyo, Johanes Abiyoso serta I Wayan Eka Wiguna.
(Tonton sesi rekaman EP “Tak Pernah Mati” di tautan video ini)
Sementara untuk pemolesan penataan serta pelarasan suara (mixing dan mastering) dipercayakan kepada Praditya Putra via Invasion Studio yang sebelumnya menggarap pula album milik Seringai, Negatifa, Modern Guns, Godplant hingga Final Attack.
Dalam produksi rekamannya, juga melibatkan beberapa musisi tamu. Di antaranya gitaris tamu Mikail Al Rabbdia, serta kontribusi vokal dari Arian ’13’ Arifin (Seringai) di lagu “Camkan Memarku” serta Farid Irnaldi Simanjuntak di “Forever Stand Undivided”.

Hard Screaming
Tapi khusus lagu “Tak Pernah Mati”, menurut uraian Jill, sebenarnya sudah ditulis cukup lama. Sekitar tahun 2005 dan sudah beberapa kali dibawakan di panggung, tapi belum pernah menemukan format vokal dan lirik yang tepat. Selalu berubah-ubah tergantung situasi manggung.
“Sampai akhirnya harus menjadi satu lagu yang dimunculkan di EP dan gue pun harus duduk dengan perasaan gue, dan kembali menulis ulang keseluruhan lirik from scratch.”
“Dimana ini adalah lagu yang menggambarkan kehilangan gue terhadap Almarhum bokap dan tentunya Ricky, membuat ini menjadi salah satu lagi paling personal tersulit yang pernah gue tulis. It’s hard screaming about people you missed the most, apparently,” urai Jill emosional.
Jill yang merupakan satu-satunya personel asli band ini sejak awal terbentuk secara khusus mendedikasikan EP terbaru ini bagi Ricky Siahaan.
“Seharusnya ini menjadi EP kita, Ky. Sebenarnya, sejak dulu pun materi ini bisa saja berkembang menjadi album penuh. Tapi tidak ada penyesalan, karena proses pembuatannya menjadi pengalaman belajar yang luar biasa bagi kami semua.”
“Setiap orang memberikan yang terbaik, tetap dengan arahanmu, yang entah bagaimana masih terasa, sambil membawa warna mereka masing-masing. Elo adalah juara sekaligus sosok jenius, Ky. Selama ini, elo adalah mastermind di balik Stepforward.”
“Untuk semua itu, terima kasih, brother. Semoga di mana pun elo berada, elo masih bisa bangga dengan hardcore unit-mu yang satu ini,” tutur Jill.
Kini, setelah 30 tahun, suara itu masih ada.
Dengarkan EP “Tak Pernah Mati” di berbagai gerai musik digital. Termasuk di laman Bandcamp. (@mudya_mustamin/MK01)