CLOWNSUFFER: Metalcore yang Dingin dan Kelabu

Terjangan kedua dari Clownsuffer telah dilampiaskan. Bertajuk “Unleashed”, yang menggelorakan konsep metalcore yang semakin gelap, agresif dan brutal.
clownsuffer
CLOWNSUFFER

Clownsuffer butuh waktu selama enam bulan untuk kembali melecut pendengaran para metalhead lewat karya rekaman baru. Kali ini unit metalcore asal Jakarta tersebut meluncurkan “Unleashed”, lagu rilisan tunggal terbaru.

Sebelumnya, band yang diperkuat formasi vokalis Ilyas Wiranata (Iyas), gitaris Hendra Kiting (Kittink) dan Robby Agam Saputra, bassis Kusbiantoro (Toro) serta dramer Hendra Permana ini telah memperkenalkan eksistensinya lewat lagu lepas pembuka, “Drag Me Out” pada 26 Februari 2026 lalu.

“‘Unleashed’ sebenarnya bukan lagu yang baru kami kerjakan menjelang rilis. Materinya sudah ada cukup lama, dan dari awal memang kami sudah melihat lagu ini sebagai kelanjutan dari ‘Drag Me Out’, tutur pihak band kepada MUSIKERAS.

“Jadi secara songwriting, lagu ini sudah terbentuk sebelum akhirnya masuk ke tahap rekaman dan produksi.”

“Unleashed” sendiri melanjutkan cerita dari rilisan pertamanya, tetapi kali ini datang dari tempat yang jauh lebih gelap.

Di “Drag Me Out”, Clownsuffer berbicara tentang perasaan terjebak di dalam pikiran sendiri dan usaha untuk mencari jalan keluar. Nah di “Unleashed”, mereka berangkat dari pertanyaan lain: apa yang terjadi ketika tekanan itu sudah tidak punya tempat untuk pergi?

Amarah yang terlalu lama dipendam mulai tumbuh, mengambil bentuk dan perlahan bergerak dengan kehendaknya sendiri.

Iblis dalam “Unleashed” lahir dari gagasan tersebut. Ia bukan sekadar sosok yang muncul dari neraka, tetapi bentuk dari sesuatu yang sudah terlalu lama berada di bawah permukaan.

Ketika akhirnya muncul, ia tidak sedang mencari arah. Ia sudah bergerak, dan sudah tahu apa yang dituju.

Tema tersebut diteruskan ke dalam desain artwork yang dipercayakan kepada Lime Hystrixx, ilustrator berusia 15 tahun yang kembali mengerjakan visual Clownsuffer.

Alih-alih mengambil gambaran iblis dengan tanduk dan api yang sudah sangat familiar, “Unleashed” memilih dunia yang lebih dingin dan kelabu: abu, sayap yang rusak dan tajam, rantai, gerhana, serta sisa-sisa sesuatu yang sudah lama mati.

Sosok di tengahnya juga tidak sedang lahir kembali dari kobaran api. Ia seperti sedang disusun kembali dari apa yang tersisa.

Karena itu, ‘ashes’ dalam “Unleashed” bukan tentang sisa kebakaran yang masih menyimpan bara. Lebih dekat pada abu dari sesuatu yang sudah lama padam dan dilupakan.

Begitu pula dengan ‘abyss’, yang tidak harus dibaca sebagai neraka secara literal, melainkan kedalaman yang kehilangan cahaya dan kehangatan. Dari tempat seperti itu, dendam tidak perlu meledak. Ia sudah punya cukup waktu untuk menjadi dingin dan matang.

Sisi Agresif

Proses kreatif peracikan rekaman lagu “Unleashed” butuh waktu lama, khusus di tahapan membawa lagu tersebut sampai ke bentuk finalnya. Setelah aransemen dasarnya ada, masih ada beberapa bagian yang harus mereka bongkar, revisi dan sesuaikan lagi selama proses produksi.

“Jadi bukan sekadar merekam materi yang sudah jadi, tetapi masih ada proses eksplorasi sampai kami merasa semuanya sudah berada di tempat yang tepat,” ujar mereka menegaskan.

Eksekusi rekaman dilakukan di K-Studio, Bekasi untuk isian dram. Sementara untuk gitar, bass serta vokal direkam sepenuhnya di studio rumahan milik Agam. Begitu pula dengan pemolesan mixing, mastering hingga revisi terakhir.

“Karena prosesnya cukup banyak revisi dan penyesuaian, akhirnya ‘Unleashed’ baru benar-benar selesai sekarang.”

“Kami memang sempat melalui jarak yang cukup panjang sejak ‘Drag Me Out’, tetapi ketika semuanya sudah siap, kami merasa ini memang sudah waktunya untuk dilepas.”

Secara musikal, band bentukan November 2023 ini masih berdiri di atas fondasi metalcore secara keseluruhan. Namun kali ini membawa sisi agresif band lebih ke depan.

Vokal yang terus menekan, riff berat serta hantaman breakdown yang sengaja tidak terlalu mudah ditebak, membuat lagu ini terasa seperti sesuatu yang terus didorong maju tanpa banyak kesempatan untuk berhenti.

“Bahkan ketika semuanya terasa berantakan, ada kesenangan tersendiri dalam cara Clownsuffer mengacak-acak bagian-bagian beratnya.”

clownsuffer

Diulang, Dibongkar

Lebih jauh tentang formula musik serta kreativitas di balik “Unleashed”, berikut ungkapan terperinci dari Clownsuffer:

Jika dibandingkan dengan suguhan formula band-band metalcore lainnya, apa yang membuat Clownsuffer berbeda?

“Kami sebenarnya tidak terlalu ingin mengatakan bahwa Clownsuffer punya sesuatu yang benar-benar ‘berbeda’ dari semua band metalcore lain, karena kami sendiri masih terus mencari dan membangun karakter kami.

Tapi ada beberapa hal dalam cara kami membuat lagu yang memang terasa cukup konsisten.

Kami suka musik yang berat dan agresif, tetapi kami juga merasa bahwa musik keras tidak harus selalu mengejar seberapa brutal atau cepat sebuah lagu bisa dibuat.

Buat kami, tetap harus ada feel dan emosi di dalamnya. Itu juga yang membuat kami tidak terlalu terpaku pada formula tertentu ketika menyusun bagian-bagian lagu.

Untuk bagian breakdown misalnya. Kami memang suka ketika bagian tersebut tidak berjalan terlalu aman atau terlalu mudah ditebak. Setelah mendapatkan satu pattern yang terasa berat, kami kadang justru membongkarnya lagi.

Rhythm bisa diubah, aksen bisa dipindahkan, ada bagian yang dipotong. Atau sebuah pattern yang awalnya terasa normal kami buat sedikit ‘berantakan’ untuk melihat apa yang terjadi. Dan memang ada kesenangan tersendiri dalam proses itu.

Kadang awalnya cuma karena penasaran, ‘Kalau bagian ini kita bikin seperti ini gimana?’ Lalu dicoba, diulang, dibongkar lagi, sampai akhirnya menemukan sesuatu yang justru lebih menarik dari versi awalnya.

Jadi ‘mengacak-acak’ di sini bukan berarti kami sengaja membuat lagu menjadi random atau tidak punya struktur. Justru kami tetap mencari titik di mana chaos tersebut masih terasa enak dan masih punya fungsi di dalam lagu.

Unleashed’ cukup banyak memperlihatkan sisi tersebut. Intensitasnya dijaga hampir sepanjang lagu, tetapi bagian-bagian beratnya tetap kami beri ruang untuk bermain dengan groove, timing dan perubahan pattern.

Mungkin itu yang kami maksud ketika bilang ada kesenangan dalam mengacak-acak bagian beratnya. Kami menikmati proses mencari kemungkinan baru dari sebuah bagian yang sebenarnya sudah terdengar berat.

Kalau setelah dibongkar ternyata hasilnya terasa lebih agresif, lebih fun dimainkan, dan tetap masuk dengan keseluruhan lagu, ya kami pakai.

Pada akhirnya, kami ingin bagian berat di Clownsuffer bukan cuma menjadi ‘bagian paling keras’ dalam lagu, tetapi juga menjadi bagian yang punya karakter sendiri.”

Kali ini dari mana saja referensi musik yang dijadikan acuan?

“Untuk ‘Unleashed’, kami tidak menjadikan satu band atau satu lagu tertentu sebagai acuan utama. Referensi kami cukup luas karena masing-masing personel punya background dan selera musik yang berbeda.

Secara umum, modern metalcore memang menjadi salah satu fondasi utama Clownsuffer.

Ada pengaruh dari band seperti Bleed From Within, Architects dan Veil of Maya, tetapi di luar itu referensinya juga datang dari metal dan hardcore yang lebih luas. Mulai dari Metallica, Kreator, Slayer, Suffocation sampai berbagai band hardcore old school dan modern.

Kalau masuk ke referensi personal, Kittink banyak terpengaruh oleh (gitaris) Marty Friedman (eks Megadeth) dan Synyster Gates (Avenged Sevenfold), terutama dalam cara mereka menggunakan lead bukan hanya untuk menunjukkan kemampuan bermain, tetapi juga untuk menyampaikan feel dari sebuah lagu.

Iyas banyak mengambil referensi dari (vokalis) Phil Bozeman (Whitechapel) dan Scott Kennedy (Bleed from Within) dalam hal karakter dan penyampaian vokal ekstrem.

Agam sendiri banyak membawa pengaruh dari Asking Alexandria, Metallica, Kreator, Slayer, Suffocation serta berbagai musik metal dan hardcore yang sudah dia dengarkan selama bertahun-tahun. Toro juga banyak menyebut (gitaris) Steve Vai sebagai salah satu influence-nya.

Jadi ketika kami mengerjakan sebuah lagu, referensinya tidak datang dari satu arah saja. Masing-masing personel membawa sesuatu yang mereka suka, kemudian semuanya bertemu dalam proses songwriting dan aransemen.

Kami juga tidak mencoba membuat ‘Unleashed’ terdengar seperti salah satu band tersebut. Referensi lebih kami gunakan sebagai bahan untuk membangun dan mengeksplorasi ide.

Setelah masuk ke proses Clownsuffer, semuanya bisa berubah lagi tergantung kebutuhan lagu. Karena itu kami masih merasa paling aman menyebut musik kami sebagai metalcore.

Memang ada pengaruh hardcore dan berbagai elemen lain yang masuk secara natural, tetapi metalcore tetap menjadi root utama kami.”

Sejauh ini, apa rencana berikutnya setelah “Unleashed”?

“Fokus kami memang lanjut ke album penuh. Progress albumnya sendiri sekarang sudah sekitar 89%. Jadi secara materi dan arah besarnya sudah cukup terbentuk, dan kami sedang menyelesaikan bagian-bagian terakhir dari prosesnya.

Dari awal, kami memang tidak melihat ‘Drag Me Out’ dan ‘Unleashed’ sebagai dua single yang berdiri sendiri. Keduanya merupakan bagian dari body of work yang lebih besar.

Unleashed’ sendiri kami posisikan sebagai kelanjutan dari ‘Drag Me Out’, baik dari sisi cerita maupun perkembangan emosinya.

Tapi nantinya album ini tidak akan berisi lagu-lagu yang semuanya berada di level agresivitas yang sama. Ada beberapa lagu yang lebih slow dan lebih emosional, bahkan bisa dibilang masuk ke wilayah ballad.

Walaupun begitu, semuanya tetap kami buat dengan root dan identitas Clownsuffer.

Untuk timeline, kami akan mengusahakan supaya album ini tidak memiliki jarak sepanjang Drag Me Out ke ‘Unleashed’. Kami ingin terus bergerak dan menyelesaikan album ini dalam waktu dekat.

Untuk sekarang, kami fokus menyelesaikan sisa prosesnya dan memastikan ketika album tersebut akhirnya keluar, semuanya memang sudah siap.”

Sejak 28 Agustus 2026 lalu, “Unleashed” sudah bisa didengarkan di berbagai gerai musik digital. Termasuk video liriknya di kanal YouTube. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
amukredam
Read More

AMUKREDAM: Rasa Muak yang Lebih Agresif

Formasi baru Amukredam telah menghasilkan maxi-single beramunisikan sepasang lagu baru, yang dieksplorasi menjadi jauh lebih agresif dan chaotic.
incremation
Read More

INCREMATION: Kini Dinaungi Label Asal AS

Melalui New Standard Elite, Incremation merilis “Litany of Deliverance” yang sedikit banyak merupakan gambaran awal dari wajah album terbarunya nanti.
analtopsy
Read More

ANALTOPSY: Semakin Sadis dan Gelap

Melalui album mini (EP) “Septic Overload”, Analtopsy melangkah lebih jauh, dengan distorsi yang lebih berat, lebih kotor dan lebih brutal dari sebelumnya.