Lurruh melanjutkan kemarahan yang telah ditumpahkan sebelumnya di lagu rilisan debut, “Heresi” pada 8 Mei 2026 lalu.
Kali ini lewat karya rekaman terbaru bertajuk “Bilur”, yang memuntahkan problema nyata yang terus menggerus dalam kehidupan sehari-hari.
Mencakup tekanan di tempat kerja, tentang bagaimana lingkungan yang tidak sehat, perkataan yang merendahkan, tuntutan yang tidak terarah dan perlahan mengikis diri dari dalam tubuh.
“Bilur” menyinggung bagaimana manusia sering terlihat kuat dari luar, namun sebenarnya rapuh dan hancur dari dalam.
“‘Bilur’ adalah sesuatu yang melekat pada dirimu sehari-hari. Direndahkan, saling tusuk- menusuk, nepotisme, dan melewati batas kewarasan dalam suatu korporat,” cetus band asal Jakarta bentukan awal 2026 ini.
Tapi di lagu kali ini, Lurruh tidak mencoba menjadikannya sebagai kisah kemenangan. Justru sebaliknya, “Bilur” justru berbicara dari posisi seseorang yang berada di posisi keterpurukan, dan memilh untuk hancur.
Tekanan dari dalam mulai berubah menjadi suara bising di dalam kepala sendiri.
Melalui gemuruh kemarahan yang disampaikan lewat hantaman metallic hardcore, Lurruh menerjemahkan pengalaman nyata tersebut ke dalam rasa marah, rasa takut dan rasa lelah dilebur menjadi satu.

Tanpa Cahaya
Metode rekaman yang diterapkan vokalis Hendro Prasetyo Wibisono (Pras), gitaris Angki M Sunarya (Angki) dan Raka Putrawan (Raka), bassis Fauzzamalaudin (Fauzza) dan dramer Miracle Chisara Ibrahim (Michy) kali ini, tidak berbeda jauh dibanding saat penggarapan “Heresi”.
Hanya, ada beberapa perbedaan dari segi ‘rasa’ yang ingin disampaikan ke pendengar.
“Kami mencoba menulis dari angle masalah ‘rutinitas’ yang kita hadapi hari-hari. Spesifik ke permasalahan dan culture yang ada di kantor. Berbeda dengan ‘Heresi’ yang kami serahkan kepada audiens mau melihatnya dari sudut pandang mana,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS.
(Baca ulasan tentang “Heresi” di tautan artikel ini)
Lalu lebih jauh di peracikan musiknya, mereka semakin menegaskan ‘garis merah’ marah di lagunya. Tetapi, ‘Bilur’ cenderung diarahkan ke ranah yang lebih relevan dengan pendengar.
“Lagu ini adalah bekas luka atau pukulan, (yang) kami representasikan dengan konteks negatif yang kerap terjadi di setiap kantor dengan culture yang berbeda-beda.”
“Diawali dengan ‘chaotic part’ dengan adanya bagian repetitif di chorus, yang kami harap bisa menjadi bagian yang ‘catchy’ di lagu ‘Bilur’ ini.”
Selanjutnya ditutup bantingan breakdown plus penggunaan elemen strings ‘minor’ yang menggambarkan ‘tidak ada cahaya’. Seperti penggalan lirik pada bagian chorus.
“Secara fundamental, komposisi dan aransemen ‘Bilur’ berangkat dari lirik yang dibuat Pras untuk merepresentasikan sisi yang negatif, rapuh, marah, disturbing dan intimidating.”
Jadi secara musikal, para personel Lurruh tidak mengacu ke referensi khusus dalam peracikan komposisi dan aransemennya. Semuanya mengalir secara natural, dengan berpatokan pada rasa yang disampaikan di lirik.
“Namun tetap berada dalam benang merah metallic hardcore yang sudah dibangun sejak lagu pertama, ‘Heresi’. Karakternya dibentuk lewat ketukan dan riff yang disturbing, namun tetap smooth dan masuk akal.”
Dengan modal dua lagu yang telah dirilis ke berbagai gerai musik digital, Lurruh mulai membidik target perilisan sebuah album mini (EP). Sejauh ini sudah mencapai sekitar 60% dari keseluruhan produksi.
“Kami targetkan tahun depan EP ini sudah bisa dirilis,” cetus Lurruh menjanjikan.
Saksikan video musik lagu “Bilur” di tautan kanal YouTube ini. (@mudya_mustamin/MK01)