AMUKREDAM: Rasa Muak yang Lebih Agresif

Formasi baru Amukredam telah menghasilkan maxi-single beramunisikan sepasang lagu baru, yang dieksplorasi menjadi jauh lebih agresif dan chaotic.
amukredam
AMUKREDAM

Amukredam sebenarnya telah merampungkan dua lagu barunya, “Flowers Bloom Over Burning City” dan “A Sigh At The End Of The World” sejak 2025 lalu.

Namun, lantaran adanya perubahan personel, unit screamo/skramz/post-hardcore asal Jakarta ini harus memikirkan ulang format aransemennya.

Pada awal 2026, Amukredam mengajak gitaris Adtria Fachri Chaniago dari band Vvachrri—yang sebelumnya telah beberapa kali membantu mengisi vokal latar saat penampilan langsung—untuk bergabung.

“Dari sana, kami melakukan penyesuaian aransemen untuk mengakomodasi format dua gitar dan dua vokal,” tutur Amukredam kepada MUSIKERAS.

Proses pengerjaannya sendiri tergolong cukup singkat. Hanya sekitar dua minggu.

Perekaman instrumen gitar, vokal dan bass dieksekusi di Greyhound Studio, Margonda, Depok. Sementara untuk perekaman isian dram dirampungkan di Plug Studio, Ciracas, Jakarta Timur.

Daya Kritis

Karya maxi-single berjudul “Flowers Bloom Over Burning City” dan “A Sigh At The End Of The World” tersebut, dilahirkan Amukredam sebagai ekspresi rasa muak dan lelah menghadapi kondisi dunia hari ini.

Mereka merangkum dua sisi pergumulan hidup saat ini: kemarahan luar biasa atas berbagai kekacauan global dan lokal yang terjadi, bersanding dengan rasa lelah mental tingkat dewa, tapi tetap memilih untuk bertahan karena orang-orang dan hal penting di kehidupan mereka.

“Kedua lagu ini ditulis secara bersamaan dengan merefleksikan kondisi geopolitik global serta carut marut sosial ekonomi di negara ini dalam dua tahun terakhir, yakni 2025–2026,” ujar mereka.

Bagi vokalis dan gitaris Toro Elmar dan Adtria Fachri Chaniago, bassis Mardiansyah Odi serta dramer PS Jati, proyek dua lagu ini terasa sangat berbeda dan personal.

Menandai perubahan besar bagi band setelah lima tahun berlalu sejak album penuh terakhir dirilis, “The Album LP” (23 Mei 2021). Kali ini, karya yang mereka buat terasa jauh lebih hidup dan punya tujuan yang nyata.

Untuk pertama kalinya, Amukredam bergeser dari tema hubungan personal dan ranah filosofis, menuju pendekatan yang lebih kritis namun tetap personal.

“Keduanya dirancang saling berkesinambungan karena mengangkat isu yang senada, yakni kecemasan terhadap kondisi dunia serta beban hidup yang harus dihadapi tanpa kehilangan daya juang.”

Lebih jauh, tema lirik di “Flowers Bloom Over Burning City” menyoroti kecenderungan diri yang kerap terjebak dalam rutinitas harian hingga merasa tak berdaya menghadapi sistem yang mengekang daya kritis.

“Sikap apatis justru menjadikan kita bagian dari sistem itu sendiri.”

Sementara di “A Sigh at the End of the World”, narasi yang dilontarkan Amukredam berkisar pada rasa jengah serta realitas perjuangan hidup demi menghidupi orang lain dan keluarga, dengan pesan agar tidak mudah menyerah.

amukredam

Budaya Minang

Di komposisi “Flowers Bloom Over Burning City”, peracikan dari sisi musikalitas mengadopsi formula dari lagu rilisan tunggal Amukredam sebelumnya, berjudul “Everything Is Either Dystopic or Merely Just a Daydream” (4 Agustus 2017).

Mereka menyuguhkan dinamika dua vokal yang saling bersahutan. Namun, karakternya dieksplorasi menjadi jauh lebih agresif dan chaotic.

“Proses penulisan melahirkan eksplorasi baru berupa perpaduan vokal bersih (clean high vocal) ala emo, teriakan khas hardcore punk, serta gang shouting, dengan tambahan elemen post-hardcore dan metalcore.”

“Flowers Bloom Over Burning City” sekaligus didaulat Amukredam sebagai trek yang paling menantang secara teknis penggarapannya.

“Karena memuat transisi tempo di tengah lagu serta tempo keseluruhan yang cukup cepat, dipadukan dengan kompleksitas aransemen gitar dan vokal yang padat.”

Di garapan “A Sigh at the End of the World”, Amukredam menerapkan pendekatan post-rock yang dominan melalui teknik tremolo picking di gitar sepanjang durasi lagu.

Lalu ada bagian spoken word yang terinspirasi dari drama klasik Uncle Vanya karya Anton Chekhov, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Minang, yang merupakan latar belakang budaya Toro dan Fachri.

“Penggunaan unsur budaya Minang yang menganut sistem matrilineal ini sekaligus memperkuat narasi mengenai peran krusial seorang perempuan dalam kehidupan.”

Dalam proses peracikan komposisi serta aransemen di kedua lagu, referensi musikal yang sedikit banyak memberi pengaruh datang dari sumber yang sangat beragam. Bahkan menurut mereka melampaui batasan genre yang mereka anut.

“Untuk lagu ‘Flowers Bloom Over Burning City’, inspirasi melodi gitar justru datang dari ranah musik indie rock seperti Dinosaur Jr. dan Built to Spill. Sementara intro panjang pada ‘A Sigh at the End of the World’ terinspirasi dari karya-karya The Cure, khususnya dari album terbaru mereka.”

Kini, paralel dengan promosi kedua lagu barunya, Amukredam juga telah mengantongi sekitar dua hingga empat materi baru yang belum direkam. Tapi sejauh ini, belum ada target waktu yang pasti untuk proses produksinya.

“Fokus utama kami saat ini adalah mengembalikan eksistensi band melalui rilisan ini sambil menantikan jadwal panggung untuk kembali membangun motivasi dalam memproduksi karya-karya berikutnya.”

Sejak 28 Agustus 2026 lalu, paket  “Flowers Bloom Over Burning City + A Sigh At The End Of The World” sudah bisa didengarkan di laman Bandcamp serta berbagai gerai musik digital. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
incremation
Read More

INCREMATION: Kini Dinaungi Label Asal AS

Melalui New Standard Elite, Incremation merilis “Litany of Deliverance” yang sedikit banyak merupakan gambaran awal dari wajah album terbarunya nanti.
analtopsy
Read More

ANALTOPSY: Semakin Sadis dan Gelap

Melalui album mini (EP) “Septic Overload”, Analtopsy melangkah lebih jauh, dengan distorsi yang lebih berat, lebih kotor dan lebih brutal dari sebelumnya.
antrodemus
Read More

ANTRODEMUS: Death Metal 70-an?

Album terbaru Antrodemus, “Annihilation” memperlihatkan arah baru musik mereka yang semakin progresif, yang menyatukan agresi ekstrem dengan refleksi filosofis.