Superficialist dicetuskan kelahirannya setelah sang vokalis, Rieis, gagal kembali ke Tokyo, Jepang lantaran terjegal wabah pandemi pada 2020 lalu.
Namun walau terjebak dalam situasi tersebut, Rieis yang haus akan musik tetap berusaha berkarya, meskipun hanya sekadar jamming ringan di studio. Sampai suatu saat, kawan lamanya mengusulkan ide untuk membentuk band yang berbasis di Jakarta.
Singkat cerita, ia pun memulai proses pencarian personel dan terbentuklah formasi awal yang hanya diperkuat tiga orang. Rieis di posisi vokal sekaligus memainkan gitar, plus dukungan bassis dan dramer.
Namun di tengah jalan, sang bassis yang awalnya menggagas pembentukan band ini, mengundurkan diri karena alasan pribadi. Rieis kemudian mengajak teman lamanya, Karisma Chris (Chriz) untuk mengisi posisi gitar. Sementara posisi bass untuk sementara dibiarkan kosong.
Pada titik ini, penggarapan menuju materi album mulai dijalani. Seluruh pengerjaan, mulai dari penyusunan konsep, rekaman hingga mixing dan mastering dieksekusi Rieis secara mandiri di rumahnya.
Album yang berisi total 14 lagu tersebut berhasil dirampungkan pada pertengahan 2021 lalu. Lalu setelah penantian panjang, mereka akhirnya menemukan Soebroto Harry Prasetyo (Broto), sosok bassis yang diperkenalkan melalui rekomendasi kawan.
Nama Broto sendiri sudah tidak asing di skena musik independen. Seorang musisi yang pernah terlibat di berbagai proyek band. Selain superficialist, kini juga tergabung di formasi band Mathology dan Bless the Knights.
Dengan formasi penuh yang diidamkan, band ini mulai berlatih secara serius membawakan seluruh lagu di album tersebut. Sayangnya, saat sedang mematangkan ikatan rasa para personel sebagai kuartet, sang dramer terpaksa mundur karena masalah kesehatan.
Langkah superficialist pun terhenti selama beberapa bulan. Rieis akhirnya menghubungi Angga Putra, seorang kawan lama yang dulu sering jamming bersamanya, untuk mengisi posisi dramer.
Proses adaptasi formasi baru ini sendiri sedikit membutuhkan waktu ekstra, lantaran latar belakang musikal Angga berbeda dengan konsep superficialist.
Di sela proses adaptasi tersebut, tiba-tiba Rieis mendapat ide untuk membuat satu album baru lagi secara utuh. Sama seperti yang pertama, materi ini ia kerjakan sendiri secara diam-diam tanpa sepengetahuan personel lainnya.
Ide itu sendiri mengemuka karena perjalanan panjang dan berliku menuju debut superficialist. Kondisi yang membuat Rieis butuh wadah pelampiasan untuk menuangkan ide-ide musiknya yang tertahan.
Ideal Scientist
Setelah album kedua selesai, Rieis lalu memperdengarkannya kepada personel lain dan meminta mereka memilih lagu-lagu terbaik dari kedua album. Hasilnya, lagu-lagu yang terpilih digabungkan menjadi satu album penuh yang berisi 16 trek.
Pada akhir 2023, keseluruhan lagu lantas direkam ulang dengan melibatkan instrumen dari masing-masing personel. Proses mixing sendiri memakan waktu yang cukup lama karena kerap terbentur jadwal pribadi personel lainnya.
Pasalnya, Rieis menginginkan agar semua personel ikut andil dalam memberikan ide, evaluasi maupun kritik. Di sela-sela produksi audio ini, penggarapan video musik juga berjalan secara paralel.
Akhirnya, keseluruhan album rampung tahun ini dan sekaligus ditetapkan sebagai tahun debut superficialist. Lalu pada 17 Juli 2026, band ini meluncurkan lagu rilisan tunggal perdana yang bertajuk “Mad Scientist”.
Lalu pada 21 Agustus 2021, menyusul rilisan lepas kedua, yang diberi judul “Beau Idéal”.
Kepada MUSIKERAS, Rieis mengungkap proses kreatif serta konsep di balik penggarapan lagu-lagu serta album debutnya.
Dari segi musikal, bagaimana kalian mendeskripsikan konsep rock yang diterapkan di “Beau Idéal”, “Mad Scientist” serta materi album keseluruhan?
“Kalau harus dikategorikan, superficialist mungkin paling mudah disebut sebagai rock/alternative rock. Tapi kami sendiri sebenarnya nggak terlalu tertarik untuk membatasi musik kami ke dalam satu formula tertentu.”
“Menariknya, banyak hal yang terdengar seperti sengaja dikonsep justru lahir secara natural selama proses composing. Kami biasanya memulai dari melodi dan karakter vokal, lalu aransemen berkembang mengikuti flow lagu. Jadi bukan konsep yang kemudian dipaksakan ke dalam lagu, tapi lagunya sendiri yang menentukan akan dibawa ke mana.”
“Salah satu karakter yang cukup terasa mungkin ada di pendekatan rhythmic-nya. Kami nggak selalu menggunakan pola rhythm yang umum ditemukan dalam musik rock, dan cukup membiarkan groove, dinamika serta perubahan ritmis berkembang sesuai kebutuhan lagu.”
“Pada akhirnya, mungkin yang membuat superficialist berbeda bukan karena kami berusaha menjadi berbeda, tapi justru karena kami nggak terlalu memikirkan bagaimana seharusnya sebuah band rock terdengar. Kami hanya mencoba membuat musik yang menurut kami menarik untuk dimainkan dan didengarkan.”
Apakah ada referensi-referensi musik tertentu yang dijadikan acuan?
“Sejujurnya, kami tidak punya referensi musik tertentu yang secara khusus dijadikan acuan dalam membuat ‘Beau Idéal’, ‘Mad Scientist’ maupun materi album secara keseluruhan. Kami simply ingin membuat jenis rock yang memang ingin kami buat.”
“Referensi musik tentunya tetap ada dalam diri masing-masing personel dan secara tidak langsung mungkin memengaruhi cara kami bermain, tetapi kami tidak pernah masuk ke proses composing dengan target; ‘kami mau bikin musik seperti band ini.’”
“Justru kami membiarkan ide-ide yang muncul saat proses composing berkembang dengan sendirinya. Melody, groove, rhythm dan chemistry antar-personel menjadi bagian yang lebih penting daripada mencoba mengikuti formula atau sound tertentu.”
Kapan tepatnya rencana perilisan album dan bakal memuat berapa lagu?
“Untuk tanggal pastinya masih dalam tahap pembahasan internal. Targetnya berada di antara Oktober–November 2026, dan kalau memungkinkan kami ingin merilisnya lebih cepat.”
“Sebelum album penuh dirilis, kami masih akan melepas satu single lagi. Setelah itu, album penuh superficialist akan dirilis dengan total 16 lagu. Selain rilisan audio, kami juga sedang menyiapkan video live session sebagai bagian dari rangkaian perilisan album.”
Dengarkan lagu “Beau Idéal” dan “Mad Scientist” di berbagai gerai pemutar musik digital, serta video musiknya di kanal YouTube. (@mudya_mustamin/MK01)