Band ini merupakan salah satu pejuang hardcore di Kota Semarang, Jawa Tengah, yang memulai geliatnya sejak 17 April 2022 lalu. Para personelnya adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Musik, Universitas Negeri Semarang. Namun Lamongan Hatkor dibentuk tidak sekadar memenuhi kuota penganut paham musik tersebut di kotanya. Dalam penciptaan karya serta pertunjukan panggung, mereka mengedepankan konsep yang berbeda dibanding band hardcore lainnya.
Dalam hal ini, vokalis Ferizal Muhammad Irfan (Hot Fuyung Hai), gitaris Muhamad Denis Aji Wibowo (Denissaus Tiram), gitaris Adnan Prayogi (Yogi Kemangi), bassis Alfi Rifai Wahab (Nyok Sambel Lalap) dan dramer Rico Aprilliano (Rico Lengko) mengandalkan sebuah konsepsi kasusastraan, berupa litentia poetica dengan menciptakan sebuah sub-genre yang mereka istilahkan ‘technical hardcoremedy’.
Penciptaan komposisinya berlandaskan pada kata ‘technical’ dan dalam penciptaan lirik menerapkan gabungan ‘hardcore’ dan ‘comedy’. Kata ‘hardcore’ mencerminkan genre mereka, sementara ‘comedy’ mewakili tuturan lirik serta pertunjukannya.
Saat ini, Lamongan Hatkor telah mengantongi sebuah karya album penuh yang sedang dalam proses persiapan perilisan. Diberi judul unik, yakni “Album Ke-“ yang didasari inspirasi pada penamaan album umum dengan mengusung urutan penciptaan seperti album kesatu atau album kedua dan seterusnya.
“Sesuai dengan penamaan album kami, semua lagu dalam album kami juga memiliki judul dengan awalan kata sambung ‘ke-‘. Album kami bercerita tentang tujuh dosa besar manusia. Walaupun dalam penciptaan lirik kami mengusung tema yang jenaka, namun seluruh lagu memiliki amanat untuk menghindari tujuh dosa besar manusia tersebut.”
Dimulai dari lagu “Kepising” yang melambangkan dosa kerakusan, lalu tentang dosa hawa nafsu di lagu “Kesurupan”, tentang dosa kemarahan di “Keduten”, dosa ketamakan di “Kesusu”, dosa iri hati di “Kecolongan”, dosa kesombongan di “Kesrimpet” dan dosa kemalasan di “Kesetrum”. Selain ketujuh lagu tersebut, mereka juga menyiapkan tiga lagu tambahan sebagai pelengkap dalam album tersebut.
Perihal konsep teknikal yang mereka terapkan di konsep musiknya, Lamongan Hatkor menyebutnya berdasarkan pola permainan musik mereka. “Dalam proses penciptaan komposisi musik kami sangat menerapkan teori musik, solfegio, harmoni serta orkestrasi yang kami pelajari semasa kuliah di Prodi Pendidikan Seni Musik. Dalam hal ini, kami menerapkan beberapa teknik yang dinamakan dengan kontrapung, harmoni, dan beberapa ornamen musik seperti adanya cressendo, decressendo, ritardando, staccatto, sforzando, dan masih banyak lainnya. Oleh karenanya, kami berspekulasi bahwa dalam proses penciptaan komposisi dan permainan musik kami merupakan salah satu dari konsep ‘teknikal’ tersebut,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, menjelaskan.
Tapi secara kesleuruhan, mereka menyebut band-band dunia seperti Knocked Loose, Turnstile, Hatebreed, Final Attack hingga Slipknot sebagai sumber referensi peracikan musiknya. Juga ada inspirasi dari pahlawan lokal macam Burgerkill dan Strangers.
Tentu saja saat menjalani proses penggarapannya, para personel Lamongan Hatkor menemui beberapa tantangan. Kata mereka, seluruh lagu memiliki tantangan dan kesulitannya masing-masing. Tapi mereka sepakat, adalah lagu “Kesusu” dan “Kesrimpet” yang memberi kesulitan tertinggi dalam eksekusinya.
“Alasannya karena (‘Kesusu’) terdapat tempo yang cepat, pola yang rapat, dan birama yang tergolong tidak umum. Alasannya (‘Kesrimpet’) adalah pada penambahan komposisi blues di dalam lagu kami dan dilengkapi dengan adanya tambahan instrumen musik berupa saksofon alto yang dimainkan oleh vokalis kami, Ferizal Muhammad Irfan.”
Tapi secara umum, band ini mampu mengolah keseluruhan lagu dengan modal kemampuan yang dimiliki masing-masing personel. Komposer dari band mereka, yakni Muhamad Denis Aji Wibowo dan Rico Aprilliano sudah bergelut di genre metal selama kurang lebih 10 tahun. Selain itu, penulis lirik Ferizal Muhammad Irfan juga sudah aktif dalam bidang kasusastraan selama kurang lebih delapan tahun. Lalu dibantu oleh dua personel lainnya, Alfi Rifai Wahab dan Adnan Prayogi.
“Album Ke-“ sendiri bakal diedarkan dengan terapan strategi perilisan satu per satu. Sejauh ini mereka telah memperdengarkan lagu “Kesusu”, “Keduten”, “Kesurupan” serta menyusul lagu “Kepising”. “Selain itu, beberapa lagu yang masih dalam proses antrian rilis adalah ‘Kecolongan’, ‘Kesrimpet’ dan ‘Kesetrum’.” (aug/MK02)
.
menyalaaa 🔥