FIZZLE Luncurkan EP Berhawa Emocrust/Screamo

Di EP “Persemayaman Kausa Rasa”, Fizzle ekspresikan paham emo, plus balutan crusty punk, sedikit black metal serta post-hardcore.
fizzle

Usai melepas lagu rilisan tunggal berjudul “Menyara Luka” pada 1 Juni 2023 lalu sebagai perkenalan, Fizzle langsung menyusulnya dengan sebuah paket album mini (EP). Berjudul “Persemayaman Kausa Rasa” dan sudah dilampiaskan ke berbagai platform digital sejak 29 Juli 2024 kemarin. 

Proses rekaman dan kreatif “Persemayaman Kausa Rasa” itu sendiri berlangsung cukup lama, lantaran band emocrust/screamo asal Bandung, Jawa Barat bentukan 2023 lalu tersebut banyak menghabiskan waktu di penulisan lirik serta peracikan musiknya agar bisa dieksekusi sejujur mungkin.

Merangkum apa yang mereka kecewakan, gelisah akan harapan-harapan yang tak kunjung datang, atau pun hal kecil yang tidak bisa digapai hingga perasaan sendirian yang selalu menghantui. Apa yang mereka rasakan itu divisualisasikan di sampul EP “Persemayaman Kausa Rasa”, yang menjelma menjadi seorang gadis yang pasrah akan kehilangan, hancur dan tersiksa, hasil coretan ilustrator Dave Levi Holand.

Dari sisi konsep musikal, Fizzle yang digerakkan formasi vokalis Hisyam Azmi Shofwan, gitaris Thian Apique Ngalogo dan Reza Ramadhan, dramer M. Naufal Fadilah dan bassis Nazar Marwa Komara ini menerapkan emocrust/screamo yang merepresentasikan paham emo, namun dibalut dengan crusty punk, sedikit remahan black metal serta suntikan unsur post-hardcore.

“Ciri khas yang mungkin sedikit berbeda dari band-band crusty lainnya, kami lebih terfokus pada segi lirik. Menurut kami pribadi yang memang mengarah kepada emo tersebut, sehingga vokal emosional yang kami bawakan dipadukan dengan ketukan dram d-beat dan riff gitar yang sedih sangat menggambarkan kami sebagai Fizzle,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Nah, untuk peracikannya, beberapa referensi musik dari band-band luar mereka ambil sebagai acuan. Namun Fizzle juga menegaskan, mereka tidak terpaku terhadap satu atau dua band sebagai referensi.

“Namun jika ditarik garis besar yang bisa dijadikan sebagai referensi bermusik dari Fizzle sendiri itu adalah Lagrimas, Counterparts, Blind Girls, Deafheaven dan masih banyak lainnya.”

Dalm mengeksekusi rekamannya, tentu saja ditemui beberapa hal teknis yang menantang. Dari segi vokal khususnya. Saat merekam lagu “Kalam yang Menghitam”, ada bagian spoken yang menurut mereka sedikit tricky dan tidak sesuai tempo.

“Kurang lebih 3-4 (kali) take vokal untuk part tersebut. Untuk lagu lainnya yang mungkin sedikit menantang itu di lagu ‘Kenopsia’. Mungkin jika didengar tidak terlalu sulit dari segi hal apa pun, namun pada saat rekaman lagu tersebut lumayan menguras waktu sehingga harus diambil beberapa kali take sampai hasil yang kami inginkan itu tercapai.”

Selain single pertama serta dua judul lagu yang sudah disebutkan tadi, EP “Persemayaman Kausa Rasa” juga memuat lagu “Geruh/Gerah” dan “Secercah Cahaya dalam Gelap”. Sebagian proses rekaman dilakukan di Fun House Studio, sementara untuk pemolesan mixing dan mastering dirampungkan di Korea. (aug/MK02)

1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
splitfire
Read More

SPLITFIRE: Dari Club/Cafe ke Panggung Rekaman

Kenyang manggung di berbagai cafe dan club di Indonesia, bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara, kini Splitfire makin mantap selami industri musik rekaman.

romo
Read More

ROMO: Sosok Berblangkon dalam Ranah Metal

Lagu kedua dari solois metal berblangkon, ROMO telah diluncurkan ke berbagai gerai digital, dengan konsep musik yang lebih galak, jujur dan gelap.