GOD BLESS: 35 Tahun Album “Raksasa”

Pada akhir Desember 2024 lalu, album keempat God Bless ini tepat berusia 35 tahun. Satu-satunya karya rekaman mereka yang tidak melibatkan Ian Antono.
god bless

God Bless nyaris limbung ketika Jusuf Antono Djojo (Ian Antono), gitaris dan salah satu mesin penulis lagu di band rock legendaris Tanah Air ini, mendadak memutuskan mengundurkan diri pada 1989 silam.

Momen itu terjadi justru ketika God Bless baru saja menuai sukses lewat album “Semut Hitam”. Perbedaan visi dalam penentuan kebijakan arah musik serta manajemen God Bless konon menjadi pemicu utamanya. 

Kubu band yang terbentuk di Jakarta pada 1973 ini akhirnya langsung gerak cepat merenovasi formasinya. Gitaris Elpamas, Emmanuel Herry Hertoto alias Toto Tewel konon sempat dilirik untuk menempati posisi yang ditinggalkan Ian tersebut.

Namun akhirnya, pilihan jatuh kepada gitaris muda Zahedi Riza Sjahranie, atau lebih dikenal dengan nama Eet Sjahranie. Saat itu, Eet baru saja pulang dari menuntut ilmu tata suara rekaman di Ohio, AS dan lebih banyak membantu proyek rekaman musik Fariz RM. Salah satunya lewat formasi Superdigi.

“Saya takjub juga ketika menyampaikan hal itu pada Eet,” ujar Jockie Surjoprajogo mengenang momen saat ‘melamar’ sang gitaris muda, dikutip dari buku “Roda Kehidupan God Bless” karya Theodore KS, terbitan 2020 lalu. 

“Ia sebentar tersenyum, sebentar melihat pada saya, gantian dia yang takjub dan seakan-akan tidak percaya pada pendengarannya sendiri. Dia masih terus senyum dan menatap saya tanpa berkedip sampai akhirnya menyatakan minta waktu untuk berpikir,”

Beberapa hari kemudian Eet hadir di Triple M Studio, Jakarta untuk merekam isian gitarnya di lagu-lagu terbaru God Bless.

Suntikan darah segar di tubuhnya, memacu God Bless yang juga diperkuat vokalis Achmad Syech Albar, bassis Gideon Onda Patta Gagola alias Donny Fattah, kibordis Jockie Surjoprajogo serta dramer Teddy Sudjaja untuk langsung tancap gas merampungkan album terbarunya.

Hasilnya, sebuah album rekaman bergestur rock modern bertajuk “Raksasa” yang kembali diedarkan via Logiss Records, label milik promoter rock termasyhur saat itu, Ong Oen Log aka Log Zhelebour. 

god bless
Ahmad Albar & Eet Sjahranie saat tur promo “Raksasa”

Dirilis pada 30 Desember 1989 (menurut data Wikipedia), album studio keempat dari God Bless tersebut menjadi satu-satunya album mereka yang tanpa menyertakan karya lagu Ian Antono.

Juga, menjadi satu-satunya karya rekaman yang diluncurkan berdekatan dengan album sebelumnya. “Semut Hitam” dirilis pada Maret 1988, jadi hanya terpaut sekitar satu tahun sembilan bulan.

Saat merilis album debut “God Bless/Huma di Atas Bukit” pada awal 1976, selanjutnya God Bless butuh waktu hampir lima tahun untuk bisa menghasilkan “Cermin” (1980), album keduanya. Jeda panjang lalu terjadi lagi, kurang lebih tujuh tahun untuk bisa mewujudkan perilisan album “Semut Hitam”.

Kehadiran Eet Sjahranie, diakui banyak pihak, membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap musik God Bless. Pola bermain gitarnya disebut-sebut kental akan pengaruh Eddie Van Halen, dan tergolong sangat modern saat itu. 

Ia menggeber distorsi tegas yang cenderung tajam, plus eksekusi nada yang presisi, cepat dan teknikal. Menerapkan teknik-teknik permainan gitar shred macam tapping, pinch harmonic dan bahkan sweep arpeggio.  

Sangat berbeda dibanding Ian Antono yang lebih kental akan pendekatan permainan bluesy ala rock era 1970-an. 

Secara musikal, bisa dibilang situasinya kurang lebih mirip momen ketika gitaris Trevor Rabin menggantikan Steve Howe di tubuh band progressive rock legendaris asal Inggris, Yes. Perubahan yang menghasilkan “90125” (1983), album berkonsep modern saat itu, yang mencatat kesuksesan komersil.  

Pengaruh sentuhan permainan gitar Eet membuat lagu-lagu God Bless didominasi komposisi yang lebih gesit dan keras dibanding sebelumnya.

Terapannya terbukti di lagu-lagu yang akhirnya menjadi favorit abadi sebagian besar pemuja band ini, seperti “Menjilat Matahari”, “Maret 1989”, “Emosi”, “Pemburu Ilusi”, “Cendawan Kuning”, “Sang Jagoan” dan “Raksasa”.

Setelah menjalani tur promo album “Raksasa”, formasi ini sempat menggarap ulang beberapa lagu lama God Bless dari era sebelumnya. Di antaranya “Huma di Atas Bukit”, “Musisi” dan “She Passed Away” yang diabadikan di album kompilasi “The Story of God Bless” (Mei 1990).

Selepas itu, Eet membentuk bandnya sendiri, Edane dan merilis album “The Beast” pada Mei 1992. Tapi pada 1997, Ian Antono kembali bergabung di God Bless dan menghasilkan “Apa Kabar?”, album yang juga kembali melibatkan Eet Sjahranie. (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan lagu (durasi):

  1. Maret 1989 (4:55)
  2. Menjilat Matahari (4:49)
  3. Misteri (4:56)
  4. Emosi (4:54)
  5. Cendawan Kuning (4:27)
  6. 2002 (4:52)
  7. Pemburu Ilusi (4:31)
  8. Sang Jagoan (4:08)
  9. Anak Kehidupan (5:10)
  10. Raksasa (4:08)

 

2 comments
  1. Maaf boleh koreksi, Om?
    Sepertinya album Raksasa bukan dirilis 30 Desember 1989 seperti tertulis di atas. Malam Minggu tanggal 23 September 1989 kebetulan saya nonton konsernya “Tour Raksasa” di Surabaya. Waktu itu God Bless didampingi bintang tamu El Panas, Mel Shandy dan Power Metal. Di tanggal 23 September 1989 waktu itu kaset nya sudah beredar dan lagu Menjilat Matahari sudah diputar di radio-radio serta muncul di Aneka Ria Safari – TVRI.
    Nonton penampilannya di TVRI, live consernya di Surabaya atau muter kasetnya waktu itu (bahkan sampai sekarang) pokoke untuk rock Indonesia ngga ada yang bisa ngalahin God Bless.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.