Fleshbone bukan sekadar band. “Mereka adalah ritual, dan setiap lagunya adalah upacara pembantaian,” kata Mohamad ‘Man’ Rohman (Jasad), menggambarkan kengerian band asal Bandung, Jawa Barat ini.
Mereka terbilang pendatang baru di ranah death metal, namun digerakkan wajah-wajah familiar di lorong bawah tanah. Usai mengganti nama lamanya, Alldeath, kini unit cadas bentukan 2023 lalu ini mematangkan terornya.
Pada 27 Juni 2025 lalu, Fleshbone resmi melampiaskan sebuah album mini (EP) beramunisikan lima trek geram bertajuk “Relics of Destruction”.
Kehadiran band yang dihuni vokalis Trendy Dwi Anugrah Gusti (Lord Grace), dramer Asep Suhardi (Zeplin), gitaris Defri Rivanora dan bassis Aden Juliansyah ini menjadi momok kengerian baru di kancah musik ekstrem Tanah Air. Khususnya di Bandung.
“Relics of Destruction” sendiri lebih dari sekadar rilisan dengan komposisi mematikan–ini adalah pecutan fatal. Menyatukan narasi tentang eksploitasi alam, genosida, perang dan sifat destruktif manusia lainnya.
Keresahan itu lantas dilampiaskan dalam balutan musik yang berkiblat pada band-band mancanegara (AS) seperti Deeds of Flesh hingga Brodequin. Berciri cepat, teknikal, namun di bawah satu arwah yang pasti ikut serta: mentah.
“Kami bermain dalam tempo 150 flat. Dengan karakter raw, kami mungkin akan ada dua sisi. Yang suka akan suka banget, dan mungkin ada yang gak suka. Karena kami memegang teguh feel ‘raw’,” seru pihak Fleshbone kepada MUSIKERAS, mengungkap perbedaan konsep musik mereka dibanding pelantun death metal lainnya.
Mereka juga tidak segan mengeksekusi ide yang berbeda, dan di luar pakem. Misalnya, seperti yang dituangkan di komposisi lagu “Vile Decay of Sanity”, dimana para personel Fleshbone mencoba menyusupkan gairah slamming di racikan death metal mereka.
“Karena kami ingin death metal yang ada ‘slamming’-nya, padahal naturalnya, dramer kami traditional blast,” seru mereka terus terang.
“Tapi di slamming, kami menurunkan ego masing-masing. Untuk memberikan kesan, kami bisa juga slamming. Dan pada (lagu) ‘Hujan Api dan Derita’, kami ada vokal clean yang cukup menantang, terutama untuk vokalis kami yang buta nada… hahahaha!”
Di “Relics of Destruction”, Fleshbone mengubah lima trek di dalamnya menjadi badai kutukan dan sumpah serapah, lengkap dengan nuansa mencekam sekaligus agresif.
Meski ketika mereka menulis EP ini perang Iran-Israel dan rencana jahanam pemerintah menambang habis-habisan Raja Ampat belum menggaung, ironisnya “Relics of Destruction” jadi relevan untuk dikhidmati.
Menyambung narasinya yang kelam, pendengar diajak menapaki jalan sunyi penuh api, darah, dan teriakan yang terkubur. Melelehkannya dengan agresi death metal klasik dari energi kancah musik logam mati Bandung era ’90-2000-an.
Formula itu menjadikan “Relics of Destruction” sebagai pusaka musik penghancur yang tak hanya menghantam fisik, tapi juga mengusik ruang personal, dengan satu harapan output: introspektif.

Keseluruhan materi di EP “Relics of Destruction” diproses Fleshbone selama dua minggu, di markas mereka di nanag Studio, di wilayah Baros, Cimahi.
Proses eksekusi rekamannya sendiri berlangsung dalam waktu seminggu, di akhir 2024 lalu. Untuk vokal dan dram direkam di Yans24 Studio, sementara untuk bass dan gitar di Suaka Studio.
Sejauh ini, Fleshbone belum berencana untuk menghadirkan “Relics of Destruction” dalam format digital. Namun rilisan fisiknya sudah bisa dipesan via Stockers Records per 27 Juni hingga 11 Juli 2025 mendatang. (mdy/MK01)
Susunan lagu di EP “Relics of Destruction”:
- Relics of Destruction (Intro)
- Carnage of the Forsaken
- Hujan Api dan Derita
- Vile Decay of Sanity
- Perangkap Kematian