Grimlock Agony menutup bab dari album mini (EP) sebelumnya, “Suffocate” (14 Oktober 2024) dengan meluncurkan “Pralaya”, sebuah lagu rilisan tunggal yang sekaligus dianggap sebagai trek bonus. Menegaskan akhir dari satu era serta awal menuju fase musikal yang baru.
“Proses kreatif ‘Pralaya’ dimulai setelah kami menutup bab dari ‘Suffocate’. Kami ingin menghadirkan satu lagu penutup yang lebih gelap dan emosional,” seru unit metal asal Sukabumi, Jawa Barat ini kepada MUSIKERAS, meyakinkan.
Di “Pralaya”, mereka menghadirkan kolaborasi spesial bersama Rivaldy Perdiansyah (Debon) dari band hardcore Behind, yang juga berasal dari Sukabumi.
Kolaborasi tersebut memperkuat karakter lagu dengan sentuhan energi mentah dan vokal yang agresif, menciptakan atmosfer yang intens dan penuh amarah. Karakter Debon juga sangat kuat dan cocok dengan nuansa gelap yang ingin dihadirkan Grimlock Agony di “Pralaya”.
“Suara dan vibe-nya membawa energi mentah yang memperkuat emosi dalam lagu ini. Kontribusinya bukan cuma di bagian vokal, tapi juga dalam membangun intensitas dan dinamika keseluruhan lagu.”
Selain itu, lanjut band ini, Debon juga memberi warna baru tanpa menghilangkan identitas Grimlock Agony. “Kolaborasi ini terasa natural karena kami punya visi yang sama dalam menyalurkan amarah dan kehancuran lewat musik.”
Di sini, band bentukan 2023 lalu ini tak hanya memuntahkan agresi musikal, tapi juga kedalaman makna dalam setiap liriknya. Lagu tersebut menjadi refleksi terhadap bagaimana agama, moral, dan kebenaran kerap dipelintir untuk menindas, bukan memahami.
Kata ‘pralaya’ sendiri diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti kehancuran semesta. Sebuah simbol runtuhnya kepalsuan dan lahirnya kesadaran baru.
Menurut Grimlock Agony, lagu ini menggambarkan perlawanan terhadap kemunafikan yang dibungkus kesucian, kritik terhadap mereka yang terus menghakimi dan merasa paling benar, padahal menyimpan dosa yang lebih dalam.
“Pralaya bukan tentang kehancuran semata, tapi tentang kebangkitan dari luka. Dari penderitaan, manusia bisa menemukan kebenaran sejatinya.”
Eksplorasi Tekstur
Oleh formasi vokalis Melabertus Januar Refualu (Bertus Reff), gitaris Teguh Maulana dan Teguh H Irman, bassis Yana Rusdiana (Akay) serta dramer Philips Beldikson (Phy), “Pralaya” digeber dalam komposisi bernuansa gelap, dengan terjangan riff berat, plus dinamika emosi yang kuat.
Dari sisi musikal, lagu yang penggarapan rekamannya berlangsung selama dua bulan dan dieksekusi di Argonian Record (rumah gitaris teguh Maulana) serta di TR Record Studio untuk vokal tersebut, menerapkan pendekatan yang lebih gelap dan emosional, jika dibandingkan dengan materi di EP “Suffocate”.
“Kalau di ‘Suffocate’, nuansanya lebih agresif dan penuh ledakan emosi mentah khas deathcore modern, (tapi) di ‘Pralaya’ kami coba masuk lebih dalam ke sisi atmosferik dan kelam dari sound kami.”
Kali ini, mereka memadukan elemen deathcore, metalcore, hardcore dengan sentuhan death metal. Ada transisi tempo yang lebih dinamis, riff yang lebih berat, dan nuansa vokal yang lebih variatif untuk menggambarkan tema kehancuran dan akhir dari satu bab perjalanan.
Yang membuatnya berbeda adalah eksplorasi tekstur dan emosi. Band ini tidak hanya ingin terdengar ‘keras’, tapi juga menyampaikan rasa putus asa, amarah, dan penutup dari era “Suffocate” dengan cara yang lebih matang dan sinematik.
“‘Pralaya’ bisa dibilang sebagai bentuk evolusi dari kami—lebih gelap, lebih dalam, tapi tetap membawa identitas Grimlock Agony!”
Dalam menjalani proses peracikan komposisi dan aransemen “Pralaya” yang berlangsung sekitar empat minggu, para personel Grimlock Agony sedikit banyak mengambil referensi dari band-band mancanegara seperti Knocked Loose hingga Whitechapel.
“Kami terinspirasi dari cara mereka membangun atmosfer yang megah dan intens, namun tetap menonjolkan sisi agresif dan emosional. Meski begitu, kami tetap menjaga ciri khas Grimlock Agony dengan komposisi yang lebih gelap, berat, dan berlapis.”
Babak baru Grimlock Agony saat ini mulai disiapkan, melanjutkan momentum yang telah dibangun di “Pralaya”. Saat ini mereka sudah mulai menyiapkan materi untuk rilisan berikutnya yang akan mengarah ke album penuh pertama.
Sejauh ini, beberapa lagu sudah masuk tahap penyusunan struktur lagu serta proses eksplorasi sound yang berjalan cukup intens.
“Kami ingin membawa konsep yang lebih luas dan sinematik, dengan pendekatan musikal yang lebih matang dan berlapis dari sebelumnya. Jadi, bisa dibilang ‘Pralaya’ adalah jembatan menuju era baru Grimlock Agony — lebih gelap, lebih besar, dan lebih emosional.”
“Pralaya” kini bisa didengarkan di berbagai platform digital streaming sejak 10 Oktober 2025 lalu. Sementara untuk video liriknya bisa disaksikan di tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)