Dead Vertical belum berniat untuk ‘mati berdiri’. Berkiprah selama 24 tahun di ranah musik ekstrem, di tengah padatnya wajah-wajah baru yang semakin bengis, tidak membuat band asal Jakarta ini patah semangat untuk terus menggulirkan karya rekaman.
Bahkan mengawali 2026 ini, mereka kembali menancapkan taringnya dengan formasi baru, konsep musik baru, dan sebuah lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “Sayatan Trauma”.
Bagi band yang kini digerakkan formasi vokalis dan gitaris Adi Wibowo (Boybleh), bassis Bonny Suhendra, gitaris Wejoseno Terto Pandu (Seno) dan dramer Erlangga Mukti Wardhana (Ekay), konsistensi memang butuh keteguhan.
Hanya, tentu saja band yang telah menggeliat sejak November 2001 silam ini harus menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah membuat musik garapan mereka bisa tetap relevan.
“Hal terberatnya adalah membuat formula baru yang bisa beradaptasi selalu dengan selera musik dari masa ke masa, agar musik tidak monoton dan selalu variatif dan pastinya easy listening,” seru pihak Dead Vertical kepada MUSIKERAS, menegaskan.
Easy listening? Ya, karena menurut mereka, salah satu kunci keberhasilan suatu karya atau lagu adalah ‘mudah didengarkan’.
“Artinya, genre tetap jelas namun tetap dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Tidak hanya kalangan penggemar musik metal, di luar penggemar musik metal pun tetap dapat menikmati walaupun mungkin terdapat perbedaan cara atau rasa menikmatinya.”
Selain itu, lanjut mereka lagi, meramu sound yang bagus dan dapat mengakomodir untuk berbagai selera penikmat musik dari berbagai genre juga menjadi tantangan utama.

Atmosferik, Fleksibel
Lebih jauh tentang konsep musik baru yang diterapkan di “Sayatan Trauma”, secara garis besar masih mengedepankan kegesitan grindcore khas Dead Vertical. Namun lantas dikentalkan dengan nuansa punk, heavy metal serta hardcore.
“Sayatan Trauma” mereka klaim siap mengguncang telinga penggemar musik ekstrem dengan raungan distorsi gahar, tempo berkecepatan tinggi, namun tetap diimbangi dengan groovy beats serta lirik sosial tajam yang membuat lagu tersebut menyayat hati.
Mereka juga kini menerapkan geberan dua gitar dengan karakter berbeda, serta sisipan interlude yang lebih intens dan warna nuansa harmonic. Secara keseluruhan, lagu dikemas dalam tempo cepat dan diimbangi groovy parts yang membuat elemen hardcore punk sangat terasa dalam lagu ini.
“Kami mengombinasikan antara konsep lama (grindcore) dengan formula baru yang kami rancang dengan formasi baru saat ini, yaitu penggabungan grindcore dengan genre hardcore punk yang lebih terasa, atmospheric black metal dan rock and roll,” urai Dead Vertical merinci racikannya.
Mereka memilih langkah tersebut, karena sesuai dengan tema lagu tentang pesan sosial untuk menghentikan segala tindakan kekerasan dalam rumah tangga.
“… Dan musik kami memang dinamis, fleksibel mengikuti perkembangan jaman namun tetap memiliki akar dan tidak menghilangkan marwah dari karakter musik kami.”
Kampanye KDRT
Proses rekaman “Sayatan Trauma” dikerjakan para personel Dead Vertical pada 4 Desember 2025 lalu, di studio Karmila, Bekasi, Jawa Barat. Untuk pengoperasian teknis rekaman serta polesan mixing dan mastering, mereka dibantu oleh sound engineer legendaris, Yudha Prasetya.
Prosesnya menghabiskan waktu dua shift dengan menerapkan sistem mic-ing untuk sesi rekaman isian dram dan vokal. Sementara untuk isian gitar serta bass menggunakan sistem direct.
Target sound yang dihasilkan adalah berkarakter raw, kombinasi analog dan digital sehingga esensial dari musik grindcore ciri khas Dead Vertical tetap utuh namun tetap mengikuti modernisasi.
“Sayatan Trauma” akan dirilis pada 15 Januari 2026 di kanal YouTube resmi Dead Vertical dalam bentuk video musik yang menggunakan materi stok video (footage) resmi mereka. Sementara untuk perilisan di platform digital, dijadwalkan pada Februari 2026 mendatang.
Lewat karya rekaman barunya ini, Dead Vertical berencana untuk terus mengampanyekan “Sayatan Trauma” sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap maraknya tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Kemungkinan, mereka akan mencoba berkolaborasi dengan berbagai pihak. Tidak hanya dalam ranah musik, misalnya dengan instansi perlindungan anak-anak dan perempuan atau korban kekerasan. Lalu ada pula rencana setelahnya untuk merilis lagu lepas kedua dalam tahun ini juga.
“Selanjutnya, kami akan kembali membuat album dengan formasi baru ini, dimana cetak birunya dari single ‘Sayatan Trauma’ ini. Dan jika ada kesempatan, kami akan melakukan tur untuk mempromosikan karya-karya baru kami dalam waktu dekat ini.”
Karya-karya rekaman Dead Vertical sebelumnya juga bisa didengarkan di kanal Bandcamp. Termasuk album “XVII” (21 Oktober 2019). (mdy/MK01)