John Paul Ivan akhirnya melunaskan niat untuk menggarap album solo keduanya, yang bertajuk “Passion Hope Perception” via kerja sama JPI Music dengan Stoodio Music.
Butuh waktu selama satu dekade untuk merealisasikannya, sejak John Paul Ivan merilis karya album solonya, “I Am John Paul Ivan” pada 2015 silam.
Album debut itu didistribusikan dalam kemasan fisik (CD) via Demajors. Empat tahun kemudian, baru diedarkan dalam format digital.
Tapi di “Passion Hope Perception”, ada yang berbeda. Tidak lagi didominasi komposisi instrumental berorientasi gitar, melainkan melibatkan beberapa vokalis untuk melantunkan 10 lagu berlirik yang ditulis sendiri oleh sang gitaris.
Tema yang disampaikan di lirik lagu-lagunya sendiri cukup beragam. Mulai dari pandangan politik, tentang plus minus kehadiran teknologi AI serta loyalitas dan kesetiaan.
Ada juga curahan John Paul Ivan tentang manusia dan alam, empati terhadap sesama manusia, pertemanan, bergerak ke depan dan meninggalkan masa lalu, pilihan hidup hingga pembentukan diri sendiri.
Selain lirik, gitaris band legendaris Boomerang dan Boomerang Reload serta Take Over tersebut juga mengerjakan sendiri seluruh proses peracikan aransemen, hingga produksi rekaman secara mandiri di studio pribadinya.
Album bernuansa rock modern yang dikemas dengan olahan sound yang segar dengan kualitas produksi yang matang tersebut, diperkuat empat vokalis tamu, yaitu Irang Perdana Arkad (mantan BIP), Indra Irot, Sammy Elscant Wifesa dan Windy Saraswati (Take Over).
“Konsep album ini lebih personal. Saya ingin menyajikan rock yang fresh dan relevan, dengan lirik yang punya pesan moral dan energi positif,” tutur John Paul Ivan menegaskan konsep albumnya.
Berikut uraian musisi bernama asli Johannes Paulus Ivan tersebut tentang proses kreatif di balik penggarapan “Passion Hope Perception”, yang diungkapkannya kepada MUSIKERAS:
Kenapa butuh waktu lama baru bisa merealisasikan album solo kedua ini?
“Dikarenakan era tahun 2015-2018 lebih banyak difokuskan untuk performing: ke band RI1 (selesai di 2018), dan show-show lainnya. Dan juga, 2018 mulai bergabung di band Take Over dan memproduksi album dari 2019, 2021, 2023, 2025.
Tapi sebenarnya, intinya memulai untuk mau fokus bikin karya baru dari momen menjelang tiga dekade Boomerang di tahun 2024. Di sini saya terpacu untuk bikin sesuatu, fresh song, solid song, dan lyrics message yang penuh makna.
Awal saya harus bisa meng-capture musik yang bisa cocok dengan vokal Irang Arkad. Lahirlah lagu ‘Bagaikan Saudara’, ‘Karena Kita Manusia’, ‘Political Mind’ dan ‘Move On’.
Dari modal empat lagu ini yang akan ditujukan untuk proses album Boomerang New Era. Tapiiii… di perjalanan sampai akhir 2024, project album Boomerang gak bisa terealisasi, hahaha… Susah untuk ke arah itu, terlalu banyak drama kompleksitas di internal (ya biar itu jadi dapur dalam band aja).
Jadi, dalam waktu selama 2024 energi saya banyak disalurkan untuk bikin materi lagu-lagu lainnya, dan juga termasuk memproduksi album mini (EP) keempat band Take Over.
Karena saya lihat ke depan Boomerang tidak bisa diharapkan untuk bisa bikin album, saya banting setir belok aja, hehehe, langsung fokuskan untuk ke solo album, dengan memakai konsep beberapa pengisi vokal yang disesuaikan dengan kecocokan isi vokal di lagu.
Lagu ‘Move On’ saya retake vokalnya dengan Sammy Elescant, dan juga isi di dua lagu: ‘Gasss Terus’ dan ‘To Show Who I Am’. Trus saya juga mengontak Indra Irot, musisi dan vokalis dari Sulawesi Utara untuk isi tiga lagu, yaitu ‘Lagi Dan Lagi’, ‘Hitam Putih’ dan ‘New Era’.
Dan satu lagu ballad akustik ‘Tapi Aku Suka’ dengan vokal Windy Saraswati. Sebenarnya lagu ini untuk di band Take Over, tapi tidak jadi, dan saya pakai buat di materi album solo.
Saya mencoba merefleksikan kegelisahan, pemikiran dan bersuara melalui lirik yang saya tulis.”

Mengapa kali ini tidak murni berisi komposisi instrumental?
“Untuk album solo kedua ini memang saya lebih memfokuskan dengan lagu yang ada lirik dan vokal daripada hanya lagu instrumental. Ini untuk sesuatu yang membedakan saja dari album pertama yang full instrumental music.
Memang sangat berbeda suasana mood dan tantangannya. Bukan hanya membentuk komposisi musik dan menggali rasa dalam semua lagu musik saja, tapi juga harus bisa menyatukan ungkapan pesan isi lirik dalam lagu tersebut. Apa yang kita pengen sampaikan secara verbal ke audiens.
Dan juga, album instrumental di Indonesia ini kurang diminati. Sangat segmented. Saya lebih suka karya saya bisa dinikmati pendengar yang lebih luas.”
Dari 10 lagu yang disuguhkan, manakah yang tersulit atau paling menantang proses eksekusinya secara teknis?
“Dari 10 lagu yang sudah dibuat ini mempunyai momen-momen prosesnya sendiri. Saya tulis dulu liriknya, trus baru membayangkan di kepala bentuk aransemen atau komposisi musik yangg bagaimana untuk lagu tersebut.
Menciptakan solo lead yang beda lagi, riff-riff gitar yang baru lagi, atau menstimulasi riff gitar yang dulu sudah pernah saya buat untuk menjadi baru dan beda lagi.
Dan juga, yang gak kalah pentingnya adalah menentukan sound design di produksi album baru ini. Semua saya lakukan sendiri dari awal dari proses rekaman, mixing sampai ke mastering.
Mencari formula sound yang pas, sesuai selera saya tentunya, komposisi dan aransemen yang bisa enak didengar, groove dan harmoni yang pas, tight dan clear tapi tetap raw untuk rasa rock-nya.
Proses rekaman album ini sebenarnya ngeflow aja. Tidak ada dirasakan sesuatu yang sulit, karena mungkin dari awal mood sudah terjaga. Bayangan dan bentuk yang diinginkan sudah ada di kepala. Semua sudah disiapkan dengan tools yang bisa digunakan dan tinggal mengeksekusi merekam.
Justru tantangan sulitnya ada di depan setelah album rilis. Bagaimana mempersiapkan materi ini untuk live perfomance. Karena saya harus bentuk tim player yang solid dan bisa membawakan lagu-lagu ini dengan pas dan enak. Nggak asal bunyi aja, tapi harus sesuai dan perfect.
Maenin lagu-lagu saya ini keliatan gampang padahal sebenarnya gak, hehe. Kalo ngasal bunyi aja ya jadi gak enak lagunya. Jadi harus cari player musisi yang mau ngulik, bisa memahami struktur dan groove lagunya dengan benar.”
Dalam penggarapannya secara musikal, kali ini dari mana saja inspirasinya?
“Inspirasi musikal yang pengen saya sajikan di album ini banyak dari musik era jaman 80-90-an, yang dibalut dengan sound design dan komposisi aransemen yang lebih modern.
Karena saya masih suka dengan generasi musik 80-90-an, dan pengen terus dieksplor di jaman sekarang. Masih juga terus mempertahankan bunyi alat instrumen yang natural, raw, tapi clear dan clean. Bukan yang jadul.
Mengeksplor cara bermain gitar yang lebih ngegroove dan solo-solo lead yang lebih mempunyai rasa dan sesuai dengan lagunya, daripada hanya bermain cepat naik-turun di fretboard.”
Susunan lagu album “Passion Hope Perception”:
- KARENA KITA MANUSIA feat. IRANG ARKAD
- GASSS TERUS feat. SAMMY ELSCANT
- LAGI DAN LAGI feat. INDRA IROT
- BAGAIKAN SAUDARA feat. IRANG ARKAD
- MOVE ON feat. SAMMY ELSCANT
- HITAM DAN PUTIH feat. INDRA IROT
- POLITICAL MIND feat. IRANG ARKAD
- TO SHOW WHO I AM feat. SAMMY ELSCANT
- NEW ERA feat. INDRA IROT
- TAPI AKU SUKA feat. WINDY SARASWATI
Untuk mengakses berbagai platform yang menyajikan seluruh lagu garapan John Paul Ivan di album “Passion Hope Perception”, bisa meng-klik tautan ini. (mdy/MK01)